Confirmation (2)

863 78 0
                                        

         Adriani menyerahkan  cincin bermata satu yang selama ini disimpannya dengan sangat hati-hati, kepada Bima.

         "Kalau kamu yakin dengan pilihanmu, selipkan cincin ini di jari manis Dara, Mas. Jadikan dia milikmu," bisik Adriani pada putranya.

        Bima menerimanya dengan tangan bergetar. Laki-laki itu tahu arti cincin itu buat ibunya, perempuan luar biasa yang menjadikannya laki-laki tangguh seperti sekarang. Kepercayaan ibunya akan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

         "Dara, maukah kamu menikah denganku?" Tanyanya sekali lagi. Keputusannya sudah bulat untuk menikahi gadis yang baru dikenalnya dua bulan lalu itu.

         Danurdara menatap Adriani dan Bima bergantian, kedua orang menunggu dengan sabar. Sikap keibuan Adriani membuat Danurdara tersentuh, Ajeng ibu kandungnya sendiri tidak pernah memperlakukannya sedemikian lembutnya.

         Setelah cukup lama terdiam dan berpikir, akhirnya Danurdara mengangguk. Bima menghela napas lega. Cincin yang sedari tadi dipegaangnya, disematkan di jari manis kekasihnya. Tanpa malu, dikecupnyaa kening Danurdara.

        "Terima kasih sayang, Mas janji akan menjagamu dengan baik," Sebuah janji manis  terucap dari bibir Bima. Semoga benar bisa dilaksanakan dengan sepenuh hati.

        Adriani menangis, melihat anak semata wayangnya menemukan kebahagiaannya. Dirangkumnya kedua anak muda itu dalam pelukannya. Perempuan cantik itu bahagia. Apakah kebahagiaan itu nyata?

         "Kalau kalian sudah siap, beritahu ibu. Nanti ibu atur waktu agar bisa bertemu keluarga Dara. Mas, kamu punya tugas besar. Ceritakan semua tentang kita pada calon mantuku ini, jangan ada yang disembunyikan. Ibu tidak mau hubungan kalian didasari kebohongan," Pesan Adriani pada kedua anak muda yang sedang dilanda asmara itu.

       Bima menerima syarat ibunya tanpa protes. Pengalaman masa kecil yang kurang menyenangkan membuatnya cukup berhati-hati dalam bertindak. Apalagi menyangkut masa depannya.

       Setelah selesai makan malam, Bima mengantar Danurdara pulang. Tidak banyak yang mereka bicarakan, pesan ibunya juga belum dia laksanakan. Danurdara baru saja mengalami banyak hal, Bima tidak ingin menambah beban kekasihnya.

       Mobil berhenti di depan rumah mewah keluarga Danurdara. Bima keluar  membukakan pintu untuk gadis pujaannya.

       "Gak mau mampir dulu Mas?" Danurdara menawari kekasihnya.

      "Kapan-kapan saja. Ini sudah malam sebaiknya kamu cepat istirahat," Tolak Bima halus.

       "Bukankah karena sudah malam, sepantasnya Mas mengantarku masuk?" Bima tersenyum pemuh arti.

        "Kamu mau Mas mampir?" Tanyanya balik. Danurdara mengiyakan dengan mengangguk pelan.

        "Oke, kalau itu yang kamu mau," Bima segera menekan kunci mobil, lalu mengikuti langkah gadisnya melewati pintu gerbang yang terbuka lebar.

         "Malam Non," sapa satpam membungkuk hormat.

        "Malam pak Kus, papa sudah pulang Pak?"

        "Sudah Non, pesan tuan kalau Non Dara datang diminta ke kamar kerja beliau. Tuan menunggu Nona,"  jawaban Satpam tang dipanggil pak Kus tadi membuat Danurdara berubah pikiran. Kalau ayahnya mau bertemu berarti ada hal penting yang harus dibicarakan.

        "Maaf Mas, sepertinya Mas Bima ketemu papa besok-besok aja gimana? Sepertinya ada hal penting yang papa mau bicarakan,"

        "Bukankah kebetulan kalau papamu pengin bicara. Sekalian Mas memperkenalkan diri," Danurdara menggeleng cepat.

        "Gak usah nanti saja. Mas Bima pulang saja, nanti kalau ada apa-apa Dara kabari,"

        "Kamu yakin?" Sang gadis mengangguk pasti.

        "Papa gak galak kok! Paling ini urusan kantor, papa ingin aku gabung di kantornya," katanya mencoba menyakinkan.

        "Oke, kalau gitu Mas pulang ya. Jangan lupa, kasih kabar," Mereka kembali berjalan ke luar gerbang.

        "Kamu masuk saja, sudah malam,"

        "Gak apa-apa, Mas pergi dulu saja. Ada pak Kus menemani Dara," jawabnya ngotot.

       Bima jadi tidak enak hati, sesungguhnya ada perasaan tidak rela meninggalkan kekasihnya menghadapi ayahnya. Perasaannya mengatakan, masalah yang akan dibicarakan ayah kekasihnya ada hubungannya dengan dirinya.

        "Baiklah, i love u Dara," Diciumnya kening Danurdara lama, sebelum berbalik masuk ke mobilnya. Danurdara membalas perlakuan manis Bima demgam memeluk tubuh laki-laki itu.

        Tanpa mereka sadari, satu pasang mata memperhatikan mereka dari lantai atas.

                      ***

Hayo siapa itu?

       


  

       

All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang