Bimasena (2)

1.2K 107 3
                                        

      "Silakan diminum, Mas,"

      "Terima kasih nanti saja, baru saja minum kopi," Damar menolak halus, padahal Danurdara ingin mereka mau minum agar dia juga bisa ikut minum. Sepertinya tamunya tidak memahami keadaannya. Danurdara menghela napas panjang, menelan air ludahnya untuk membasahi kerongkongannya yang kering. Satu hal lagi, dia merasa salah memberi tamunya minum, bukankah di depan mereka tadi ada kopi? Kok gak profesional ya, mestinya pemilib kafe bisa menyediakan hidangan spesial untuk tamunya.

       "Atau mau diganti minuman lain yang lebih segar?" Katanya memperbaiki kesalahan.

       "Tidak perlu Mbak Dara, terima kasih," jawab Damar sopan. Danurdara tersenyum tipis.

       "Jadi, apa yang bisa saya bantu?" Tanyanya antusias.

      "Gini Mbak, kami mau minta izin pinjam kafe untuk pemotretan," jawab Damar. Kening Danurdara mengeryit, pemotretan apa?

      "Maksudnya gimana Mas?" Tanyanya tidak mengerti. Damar tersenyum manis, gadis cantik didepannya membuatnya selalu ingin tersenyum. Dia menyukainya.

       "Begini, kami butuh kafe Mbak untuk foto prewedding klien kami. Tentu saja tidak gratis, kami akan membayar biayanya," jelas Bima penuh penekanan, terkesan sombong.

      "O gitu, kalau boleh tahu kapan waktunya?" Sahutnya mengabaikan kesombongan Bima.

      "Kalau Mbak Dara izinkan, akan kita adakan dua minggu lagi," Kali ini Damar yang menjelaskan.

      "Weekday atau weekend? Siang atau malam?" Bima terlihat mulai kesal. Melihat aura temannya tidak terlalu baik, Damar segera mengambil alih. Menjelaskan rencana mereka secara mendetail. Danurdara mendengarkan dengan sabar. Beberapa kenalan pernah mengadakan pemotretan prewedding di sini, proyek teman jadi tidak ribet tanpa bayar. Asal dilakukan di jam sepi sehingga tidak mengganggu bisnisnya. Dhimas juga mengusulkan salah satu lokasi prewed mereka akan diadakan di kafe, tetapi dia sendiri belum setuju. Bahkan sudah hampir satu minggu ini, gadis itu menghindari calon suaminya.

       "Baik, karena Mbak Dara sudah setuju besok kami akan datang lagi untuk menyerahkan surat perjanjian yang akan kita tandatangi bersama,"

       "Besok gue ada meeting, Mar," sela Bima sedikit protes.

      "Besok Sabtu Men, meeting di mana?"

      "Harus laporan ya?" Sahutnya sinis. Benar-benar teman yang menyebalkan. Anehnya suara berat dan sinis itu mengacaukan detak jantungnya. Danurdara diam menikmati perdebatan tamunya.

       Perutnya mulai melilit, tadi dia hanya sempat makan dimsum dengan Saras. Sial, dua laki-laki itu tidak juga menyelesaikan perdebatan mereka.

      "Maaf, kalau hari Minggu bagaimana Mbak?" Agaknya Damar terpaksa mengalah dari si laki-laki cool itu.

      "Boleh, tetapi sore sekitar jam empat," Laki-laki itu mengangguk setuju. Obrolan kami lanjutkan sambil menikmati kue yang disediakan Putri. Damar teman ngobrol yang menyenangkan, ceritanya mengalir seperti sungai Ciliwung. Bima lebih banyak diam, diambilnya onde kedua dan langsung dimasukan mulut dikunyah dengan segenap perasaan. Bibirnya bergerak pelan membuat perasaan Danurdara berantakan. Perasaan apa ini, Tuhan jangan biarkan aku jatuh cinta pada orang angkuh ini?

       "Enak Bro?" Ledek Damar, hanya dibalas anggukan kecil. Danurdara menghela napas, mencoba mengusir perasaan aneh yang menguasainya. Tiba-tiba Bima bangkit dari duduknya, kembali menatap lukisan di dinding. Matanya mengeryit seperti berpikir.

       "Ini lukisanmu sendiri?" Tanyanya dengan pandangan fokus pada lukisan ibu dan anak berpelukan.

      "Eh iya, masih belajar. Hanya untuk konsumsi sendiri," sahut Danurdara malu. Lukisannya sangat sederhana, dia bahkan tidak percaya diri memamerkan di luar kantornya. 

      "Bagus kok, pesan yang dikirim sangat dalam," pujinya tulus. Dia tidak salah dengarkan, tadi bilang lumayan sekarang bilang bagus. Gak konsisten!

      "Bro, turun yuk! Urusan kita sudah selesai, mbak Dara pasti masih banyak pekerjaan," Damar menyela aktivitas temannya.

       "Gak apa-apa, Mas," ucap Danurdara basa-basi. Dalam hati setuju banget dengan ucapan laki-laki murah senyum itu. Tapi masih ingin menikmati wajah dingin itu juga.

       "Ya udah, lo yang dari tadi masih duduk aja," Ampun, gak ada lembut-lembutnya.

      "Baik, Mbak Dara. Kami pamit turun dulu, mau menikmati live musik. Terima kasih jamuan dan kerjasamanya," Mereka kembali bersalaman. Bima  menggenggam tangannya kuat, tersenyum tipis lalu mengikuti Damar yang sudah keluar lebih dulu. Danurdara mengikuti tamunya turun, sial matanya menangkap bayangan Dhimas yang sedang dihindarinya. Laki-laki itu menatapnya dengan rahang mengeras.

                       ***
Yeaayyy bisa double update. 600 kata pula, semangat banget karena Bimasena dah muncul. Agak melenceng dari rencana awal sih, biar lebih greget.
Terima kasih buat yang sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan vote atau komen ya... dikritik juga boleh.

Selamat malam

Salam literasi

     

All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang