Be alone (2)

1.1K 115 1
                                        

       Alat komunikasi canggihnya kembali dimatikan, setelah mengirim kabar kepada Bagus kalau dia baik-baik saja. Malam ini dia hanya ingin ketenangan, tidak siap berdebat dengan mamanya, tidak juga ingin berbicara dengan siapa pun.

        Sendiri, itu yang akan dilakukan. Menenangkan diri agar bisa berpikir jernih. Rasa sakit yang sempat membuat dadanya sesak, perlahan menghilang. Berganti rasa syukur, karena Tuhan membuka jalan baginya agar dapat melepaskan diri dari laki-laki tidak setia seperti Dhimas.

        Hampir jam tujuh, Danurdara beranjak dari kamar, dia berniat mencari baju ganti. Toyota yarisnya perlahan meninggalkan hotel tempatnya menginap menuju Red Factory Outlet yang letaknya tidak terlalu jauh dari hotel.

        Berputar santai di outlet yang menawarkan beragam jenis pakaian, membuatnya ingin memanjakan diri. Danurdara bukan cewek konsumtif, bukan juga cewek modis. Gayanya casual, terlalu sederhana untuk ukuran keturunan Ajeng yang sangat fashionable. Satu persatu pakaian pilihannya masuk ke dalam keranjang warna abu-abu yang dia pegang. Dua buah kaos bermotif lucu, hoodie berwarna pastel, sebuah kemeja kotak-kotak, satu celana jeans denims, celana pendek dan beberapa pakaian dalam. Tidak lupa mengambil sandal jepit dan flat shoes sederhana. Danurdara sengaja menyiapkan lebih, untuk cadangan kalau dirinya masih males kembali ke Jakarta. Dirasa cukup, gadis itu melenggak ke kasir. Setelah transaksi selesai, Danurdara meninggalkan outlet itu untuk kembali ke hotel.

       Di tengah perjalanan, Danurdara mengubah arah kendaraannya menuju taman safari. Jam dipergelangan tangannya masih menunjukan pukul 20.05 menit, masih ada waktu untuk mengejar jam tutup loket taman safari malam. Memasuki kawasan taman safari, antrean kendaraan cukup panjang. Danurdara harus sabar menunggu giliran mendapatkan tiket dan masuk ke area parkir yang cukup penuh.

       Berbeda demgan wisata safari siang hari, pengunjung sapat berkeliling dengan menggunakan mobil pribadi,  wisata safari malam pengunjung wajib naik bus wisata terbuka. Begitu mobil wisata datang, Danurdara ikut bergabung dengan pengunjung lain yang sebagian besar adalah pasangan anak muda.

       "Dara?" Sebuah suara berat mengagetkannya. Danurdara menoleh, Bimasena? Laki-laki itu menatapnya lekat, seperti hendak bertanya sedang apa dia ada di sini sendirian. Tanpa diperintah jantungnya berdetak kencang, laki-laki itu selalu membuatnya salah tingkah.

       Bimasena melihat sekeliling, tidak tampak terlihat orang lain bersamanya. Pandangannya kembali pada Danurdara yang tadi siang hampir menabraknya di depan lift apartemen.

       "Mas Bima, dengan siapa?" Tanyanya basa-basi. Bimasena tersenyum samar, benar gadis didepannya sendirian. Baju yang dipakainya pun masih sama dengan yang dia lihat siang tadi. Sepertinya ada yang tidak beres dengan Danurdara.

       "Sama teman, Gun kenalkan ini Dara pemilik The Jadoel Kafe," Dua orang yang diperkenalkan Bimasena saling bersalaman. Lalu berbasa-basi sekedarnya.

       "Gue pindah depan ya," bisiknya kepada Gun, yang langsung dijawab dengan anggukan.

       Debar jantung gadis itu semakin cepat, saat Bima duduk di sebelahnya. Sama sekali tidak disangka malam ini akan bertemu dengan Bima, laki-laki yang sempat membuatnya merasa menjadi pengkhianat karena debar tidak terkendali itu. Kenapa harus bertemu saat hidupnya sedang kacau. Waktunya sangat tidak tepat.

        Mobil wisata bergerak perlahan dengan bantuan lampu sorot melintas binatang-binatang yang dibiarkan hidup bebas. Mulai dari herbivora, jerapah yang tinggi menjulang berjalan genit di depan pengunjung. Tidak terpengaruh oleh lampu sorot yang menyinari tubuhnya, seperti hendak berkata aku memang tercipta cantik dan anggun.

        Suasana berubah hening, lampu sorot dimatikan, pemandu wisata melaksanakan tugasnya dengan suara pelan. Mereka memasuki wilayah hewan karnivora. Adrenalin pengunjung dipacu, sesaat tubuh Danurdara menegang. Rasa takut menyerang, gadis itu tidak menyangka kalau kendaraan yang ditumpangi seperti ini. Sungguh tindakan yang nekat berwisata malam di taman safari sendirinya.

       Menyadari gadis disebelahnya menegang, Bima merapatkan tubuhnya. Tangannya terulur memeluk pundak Danurdara.

       "Gak usah takut, ada aku," bisiknya lirih yang membuat jantung gadis itu berhenti berdetak.

                  ***

Malam semua
Maaf, banyak monolog ya.. Danurdara gak berkhianatkan? Kan sudah minta putus hahaha...
Hayo, cerita terus bagaimana enaknya? Bimasena suka gak sih sama Dara atau cuma phpin doang?????
Maunya reader gimana? Ayo siapa mau kasih ide...

Matur nuwun

Salam literasi

      

All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang