Apa yang dilakukan Dhimas beberapa waktu lalu membuat harga dirinya terluka, dan perlahan tapi pasti kepercayaan Danurdara kepada laki-laki itu terkikis. Penjelasan yang diberikannya tidak pernah dapat menyakinkan gadisnya. Usaha Dhimas memperbaiki keadaan tidak membuahkan hasil, Danurdara menjadi semakin keras dan menghindar.
"Sayang, mas minta maaf. Jangan marah lagi dong," rajuk Dhimas. Mereka duduk di teras samping rumah keluarga Danurdara.
Hari ini Danurdara sengaja libur, kafe kembali diserahkan pada kedua orang kepercayaannya. Dia ingin beristirahat, setelah beberapa hari yang lalu secara beruntun menerima pesanan acara khusus dari pelanggan setianya.
Danurdara bergeming, dengan acuh gadis itu melanjutkan membaca buku yang dipegangnya. Dhimas mendekat, buku yang dibaca gadisnnya diraih. Sang gadis menatapnya galak, Dhimas tersenyum kecut sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sayang, mas benar-benar minta maaf," Dhimas terus merayu. Dia tahu kesalahannya teramat besar, termasuk yang tidak diketahui kekasihnya. Terlalu banyak dustanya pada gadis yang dicintainya itu. Danurdara meletakan bukunya, lalu menatap laki-laki yang sekarang sudah berpindah disampingnya.
"Mas mau aku maafkan?" Laki-laki itu mengangguk penuh harapan. Seperti anak kecil yang minta permen, laki-laki itu menunggu titah sang gadis.
"Aku maafkan, tetapi sekarang mas pulang aku mau istirahat," jawab Danurdara langsung beranjak dari tempatnya.
"Sayang tunggu.." Dengan langkah cepat Danurdara menuju kamarnya, dihempaskan pintu kayu berwarna coklat itu tepat di depan Dhimas yang mengejarnya.
Danurdara tidak peduli meski laki-laki itu terus mengedor pintu kamarnya. Diraih gawainya lalu dipasang headsead di telinganya. Sempurna, suara gedoran pintu tidak terdengar lagi.
Pukul delapan malam, Danurdara terbangun. Lelah yang sudah menumpuk membuatnya kembali tertidur pulas. Direntangkan kedua tangannya, untuk meregangkan otot-ototnya. Merasakan tubuhnya terasa lebih segar, tetapi perutnya terasa lapar. Danurdara turun dari tempat tidur empuk, perlahan melangkah keluar menuju ruang makan.
Makanan masih terhidang lengkap di atas meja. Danurdara duduk, membalik piring, mengambil makanan, dan mulai menyantap makanan perlahan. Sebenarnya dia tidak ingin makan, rasa laparlah yang memaksanya tetap makan.
"Sudah bangun, Nduk?" Sebuah suara mengagetkannya. Ajeng sumber suara itu mendekat, perempuan paroh baya itu menarik kursi dan duduk di sebelah putrinya. Danurdara mendongak, menatap ibunya dengan wajah enggan. Diletakan sendok makannya, makannya berhenti pada suapan ke empat. Napsu makan yang sempat dibangunnya turun drastis pada titik nol. Dia tahu akan ada ceramah panjang malam ini dari ibu suri.
"Kok berhenti? Makanlah, Mama temani. Jarang-jarang kamu bisa makan malam di rumah. Biasakan jam segini kamu masih di kafe,"ujar mamanya panjang lebar.
"Sudah kenyang," sahutnya malas. Gadis itu beranjak membawa piring kotornya ke wastafel.
"Biar mbak saja yang mencuci. Kamu ikut mama, kita perlu bicara," Titah ibu suri menghentikan kegiatan Danurdara untuk mencuci piringnya.
"Kita bicara di ruang keluarga saja. Mama tunggu di sana," Ajeng beranjak pergi,
Danurdara menatap punggung ibunya yang bergerak menjauh. Gadis itu melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda, meletakan piring di rak kemudian mengeringkan tangannya.
Di ruang keluarga, Danurdara melihat kedua orangtuanya sibuk sendiri dengan gawai masing-masing. Televisi yang sedang menayangkan acara showbiz dibiarkan tanpa ditonton.
"Papa sudah di rumah?" Pertanyaan Danurdara menyadarkan keduanya.
"Dara, sini lama papa tidak ketemu kamu!" Danurdara mendekat, dan mengambil posisi duduk di samping ayahnya.
"Kamu lagi ada masalah dengan Dhimas ya?" Tanya Bagus lembut. Danurdara memang lebih dekat dengan Bagus daripada Ajeng. Meski sibuk, ayahnya masih berkabar lewat telpon.
"Masalah begitu saja gak usah diperpanjanglah. Kalian akan menjadi suami istri, kamu harus tahu kesibukan suamimu," tandas Ajeng enteng, tanpa berpikir bahwa pernyataannya menyakiti hati Danurdara.
***
Ini emak kenapa nyebeli banget ya, baru juga calon mantu dibelain terus. Takut kali ya kehilangan calon mantu idaman hahahha...
Biarlah si emak eror, yang penting bapaknya enggak? Beneran bapaknya lempeng? Sabar ya...
Salam literasi
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)
ChickLitDanurdara Agni Pratista Cinta, silahkan berakhir dan pergilah! Aku tak butuh cintamu, tak terima pengkhianatanmu. Cukup bagiku jika kamu pergi menjauh Pengkhianatan, adakah kamu masih mau menghancurkanku? Bahkan ketika kau tabur itu lewat gen yang m...
