Keduanya menoleh, dari balik pintu muncul gadis yang mereka bicarakan. Dara masuk dengan membawa tas kertas, matanya menatap kedua laki-laki yang berdiri kaku di dekat sofa.
"Papa, kenal mas Bima? Ada urusan pekerjaan ya?" Tanyanya beruntun sambil mendekati kedua laki-laki yang terpaku menatapnya. Keduanya saling berpandangan, Bagus bingung kehadiran Dara tidak terpikirkan olehnya.
"Kamu kenapa ke sini?" Tanya Bagus aneh. Tentu saja Dara ke sini mau menemui pacarnya. Ditangannya ada tas makanan dari kafenya, pasti mereka mau makan siang bersama.
"Dara membawa makan siang buat mas Bima," sahut Danurdara malu-malu.
Bima menunduk, masalah dengan bapaknya belum selasai, persoalan baru muncul. Dara, bagaimana dia mungkin dia mencintai adiknya sendiri. Bagaimana dia harus menghadapi gadis yang dicintainya itu?
"Mas Bima kenapa, kok diam saja," Bima gelagapan mendengar pertanyaan Dara. Pandangannya dialihkan kepada bapaknya yang terlihat kikuk.
"Kalian ikut papa, kita bicara di luar," ajak Bagus mengambil sikap.
"Tapi Pak,"
"Ikut saja, tolong atur jadwalmu dengan sekretarismu itu," perintahnya otoriter.
Bima ingin mengumpat, tetapi suaranya tertahan dalam hati. Enak saja asal perintah, lagian ini bukan kantor pribadinya. Bagaimana bisa asal pergi!
"Pagi Wil, Bagus ini. Aku pinjam Nara hari ini," Bima meringis, Bagus sudah minta izin pada bosnya. Jadi Bapak kenal sama pak William?
"Tenang, ini bukan masalah kerjaan. Maksudku tidak untuk kali ini, mungkin suatu hari ini," sambungnya tertawa lebar.
Benar, hari ini dia tidak berniat berbicara tentan pekerjaan dengan Bima, tetapi besok atau lusa masalahnya akan berbeda. Bima akan menjadi penerus usahanya.
Mereka bertiga bergegas keluar, Bima berpesan sebentar kepada Ratri. Danurdara mengikuti ayahnya masuk ke dalam lift, pintu ruang besi berjalan itu masih ditahan Bagus untuk menunggu Bima. Laki-laki muda itu berlari menyusul mereka beberapa menit berikutnya.
"Pakai mobil papa saja, biar tidak repot!" Lagi-lagi perintah Bagus tidak dapat dibantah kedua anak muda itu.
Dara terlihat sedikit takut hubungannya dengan Bima dilarang ayahnya. Sementara Bima berpikir keras bagaimana respon adiknya tahu situasi tidak menyenangkan ini.
Bagus membawa mobilnya dengan kecepatan sedang, meninggalkan kota Jakarta menuju Bogor. Setelah berjalan sekitar dua jam, mobil berhenti di sebuah rumah mewah di komplek perumahan yang Bima kenal.
"Yuk turun," ajak Bagus tanpa menghiraukan kebingungan kedua anaknya.
Seorang laki-laki tua menyambut mereka, laki-laki itu membuka gerbang tinggi yang melimdungi rumah bercat putih.
"Selamat siang tuan, ada apa kok tiba-tiba datang?" Tanyanya sambil membungkuk hormat.
"Tidak apa-apa Mang, bilang bik Iis siapkan minuman dan makan siang buat kami. Makanan yang seperti biasa aku pesan ya?" Laki-laki tua itu mengangguk.
Bagus memberi tanda kedua anaknya untuk mengikutinya. Seperti ruangan kerjanya, ruangan ini hampir semua diisi ornamen berwarna cream atau coklat. Melihat rumah dan interiornya, Bima mulai bisa menangkap apa yang dipikirkan bapaknya.
"Pa, ini rumah siapa?"
"Rumah Papa. Kenapa?"
"Sejak kapan?" Bagus tersenyum. Dirangkulnya sang putri yang masih tampak kebingungan.
"Duduklah, banyak yang harus kita bicarakan," ujar Bagus.
"Mengapa harus sejauh ini," Bima menyela.
"Supaya kita bisa bicara dengan tenang," sahutnya santai. Laki-laki paruh baya itu duduk di sofa besar, diikuti kedua anaknya yang terpaksa duduk berdekatan. Kini mereka duduk saling berhadapan. Danurdara tampak gelisah, Bima memberanikan diri memegang tangan gadis itu.
"Tidak apa-apa," bisiknya menguatkan.
Danurdara menunduk, jantungnya berdebar cepat. Dengan ekor matanya gadis itu melirik ayahnya, tidak ada respon negatif dari laki-laki itu. Hanya tatapan yang Danurdara tidak mengerti artinya.
Bagus menatap keduanya dengan rasa bersalah. Seandainya waktu bisa diputar kembali...
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)
ChickLitDanurdara Agni Pratista Cinta, silahkan berakhir dan pergilah! Aku tak butuh cintamu, tak terima pengkhianatanmu. Cukup bagiku jika kamu pergi menjauh Pengkhianatan, adakah kamu masih mau menghancurkanku? Bahkan ketika kau tabur itu lewat gen yang m...
