Danurdara memilih kembali bekerja dengan komputernya, sambil menunggu sahabatnya terbangun sendiri. Tidak tega rasanya membangunkan wajah lelah itu.
"Oh ngantuk!" Saras merentangkan tangannya, merenggangkan otot-otot rangkanya.
"Kerja keras, Bu?"
"Banget, hari ketemu klien rese dan...,"
"Pesanan datang," teriak Yanuar ala waiter profesional, memotong keluhan Saras.
"Wow.. wow..wow.., cacing-cacing di perutku langsung joget mencium wanginya," Saras mengendus nasi goreng mengepul didepannya.
"Makasih Yan,"
"Sama-sama, Bos. Selamat menikmati mbak Saras cantik," katanya nyengir. Saras langsung cemberut.
"Anak buah lo makin kurang ajar kayak...," gadis itu menahan ucapannya.
"Kayak siapa?" Tanya Danurdara penasaran. Saras tidak menjawab malah tertawa aneh. Dengan santai gadis itu menyantap nasi goreng spesial kesukaannya. Danurdara memperhatikan sahabatnya yang hari ini terlihat tidak biasa.
"Kenapa Ra, lihatnya begitu amat!" Tanya Saras menyadarkan Danurdara. Sepiring nasi goreng spesial dan segelas es lemon tea nya sudah ludes tidak bersisa.
"Laper apa doyan?" Ledeknya tersenyum.
"Dua-duanya," jawabnya pendek. Danurdara tertawa, sahabat terbaiknya ini, adalah salah satu spesies cewek langka, apa adanya, tidak pernah jaim masalah makanan. Bahkan di depan laki-laki yang dia suka sekali pun.
"Katanya mau ngomong, ada yang serius ya?" Saras diam, mata tajamnya menatap sahabatnya lekat. Pertanyaan sederhana itu membuatku resah. Danurdara masih menunggu dengan sabar.
Saras mendesah, pikirannya bercabang antara berkata jujur atau menyimpan rahasia itu rapat-rapat, yang kemungkinan akan berdampak buruk bagi sahabatnya. Bukan hanya sekali Saras melihat Dhimas sedang bermesraan dengan perempuan lain. Pengacara muda itu terlalu sering membuat sensasi. Foto-foto sebagai bukti perselingkuhannya tersimpan rapi di galeri gawainya. Saras mencoba mengingatkan sahabatnya sebelum mereka bertunangan. Tetapi dia gagal, tidak tega membeberkan bukti yang dimilikinya. Otak polosnya berpikir, semoga setelah bertunangan Dhimas berubah. Nyatanya tidak, baru seminggu lalu pesta digelar, hari ini laki-laki itu sudah membawa perempuan lain di depan umum.
"Ras, lo kenapa? Kalau ada masalah cerita aja,"
"Lo yang punya masalah Ra, bukan gue!" Jawabnya dalam hati. Suaranya tersekap di tenggorokan.
"Gak apa-apa kok. Gue cuma capek," Akhirnya jawaban aman itu yang diberikannya. Danurdara mendekat, tangannya bergerak memijat pundak sahabatnya. Perbuatan sederhana yang dilakukan gadis pemilik kafe itu, membuat hati Saras semakin sakit. Danurdara terlalu baik untuk disakiti. Haruskah dia bongkar kebohongan Dhimas?
***
Berhari-hari Saras bergelut dengan keraguannya, antara menghentikan kebiasaan buruk Dhimas atau menyelamatkan perasaannya sendiri. Rajasa, Saras mencium gelagat perasaan laki-laki itu terhadap Danurdara. Kalau mereka bubar, Rajasa mempunyai kesempatan mendekati gadis itu lagi. Itu berarti, Saras menutup peluangnya sendiri.
"Lakukan sesuatu Ras, pikirkan persahabatan kalian. Dara sangat baik, dia tidak pantas dikhianati?" Bisik hatinya menegur.
"Kamu juga pantas bahagia. Percayalah, Dara bisa melewati semuanya,"
"Hei, jangan egois! Salah apa Dara padamu? Bukankah dia selalu untukmu?"
"Kamu mau Dara mengambil Rajasa?"
"Kamu yakin, Rajasa akan memilihmu jika Dara menikah dengan Dhimas. Laki-laki itu hanya melihatmu sebagai seorang teman,"
"Setidaknya ada peluang untuk memilikinya,"
"Cukup, hentikan!" Saras terbangun, keringat membasahi sekujur tubuhnya. Napasnya terengah-engah. Tok..tok..tok..
"Saras ada apa?" Teriak ibunya dari balik pintu.
"Buka pintu Nduk!" Dengan malas Saras bangkit dan membuka pintu.
"Ibu sudah bilang, jangan mengunci pintu. Kamu mimpi buruk lagi?" Ibunya terus mengomel. Saras mengangguk lesu. Sejak Saras sering bermimpi buruk beberapa waktu belakangan, ibu selalu berpesan untuk tidak menutup pintu saat tidur. Toh mereka hanya tinggal berdua, tidak ada rahasia diantara keduanya.
"Kamu harus melepas semuanya, Nduk. Relakan bapakmu," ibu mengelus punggung Saras lembut. Pernyataan salah paham ibunya membuat Saras terdiam. Kenangan buruk tentang pengkhianatan ayahnya dua tahun lalu, menari-nari dalam benaknya. Haruskah aku mengalah seperti ibu? Merasakan sakitnya sendiri? Tidak, aku tidak mau seperti ibu. Aku harus berjuang untuk kebahagiaanku. Maafkan aku Dara.
***
Aduh, author mulai tidak konsisten update nih..
Maaf ya... lagi sibuk dengan dunia emak-emak sosialita RT. Rempong arisan sana sini...
Semoga hari ini bisa double update beneran.
Salam literasi
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)
ChickLitDanurdara Agni Pratista Cinta, silahkan berakhir dan pergilah! Aku tak butuh cintamu, tak terima pengkhianatanmu. Cukup bagiku jika kamu pergi menjauh Pengkhianatan, adakah kamu masih mau menghancurkanku? Bahkan ketika kau tabur itu lewat gen yang m...
