Let go (2)

899 86 6
                                        

"Aaaaaa" teriakan histeris Danurdara terdengar saat perahu mulai menanjak perlahan lalu menghujam tajam. Air menyembur membasahi tubuh mereka. Danurdara tertawa lantang, dilepasnya sabuk pengaman lalu bangun. Bima yang sudah lebih dulu keluar dari perahu memegang tangannya.

"Tubuhmu basah, kita cari baju ganti dulu yuk," ajaknya menggandeng tangan Danurdara.

"Gak usah, arung jeram dulu. Biar sekalian basah," tolak Danurdara.

"Nanti kamu sakit?" Katanya kuatir. Anak rambut Danurdara yang berantakan dirapikannya dengan tangan lainnya yang bebas. Danurdara tersipu malu, jantungnya berdetak sangat cepat. Bima menjadi semakin gemas, hidung mancung Danurdara dicolek dengan ujung jarimya.

"Mas, aku bukan anak kecil. Lihat aku kuat kan?" Jawab Danurdara sambil mengangkat kedua lengannya seperti atlet angkat besi. Bima tertawa, sikap sok kuat Danurdara membuatnya ingin melindungi gadis itu.

"Oke, terserah tuan putri," Bima memberi hormat ala pangeran dari Eropa. Danurdara tergelak, Bima berdiri. Diacaknya sayang rambut gadis itu.

"Ayo, kita bermain lagi," Danurdara menarik tangan Bima. Terima kasih Mas, sudh membuatku bisa tertawa lepas, bisik Danurdara dalam hati.

Wahana arung jeram nampaknya juga menjadi favorit anak-anak sekolah tadi. Karena perahu yang dimainkan tidak terlalu banyak, mereka harus mengantre.

"Seneng ya, dari tadi senyum-senyum terus," Danurdara mengangguk.

"Terima kasih Mas," akhirnya kata itu terucap dari bibir merahnya. Bima tersenyum, direntangkan tangannya lebar-lebar. Tanpa paksaan Danurdara menghambur dalam pelukan laki-laki itu. Bima memeluknya erat, detak jantung mereka berkejar-kejaran.

"Dara, bolehkah Mas menjagamu?" Tanyanya dalam posisi masih berpelukan. Danurdara langung mengangguk, Bima mengurai pelukan mereka. Dikecupnya kening sang gadis dengan mesra.

"Mas, malu tahu dilihati anak-anak itu," bisik Danurdara mengingatkan sikap mesra Bima.

"Mas sayang kamu, Ra," Bima ikut berbisik mengabaikan protes sang gadis. Danurdara tidak menjawab, kakinya berjinjit diciumnya pipi laki-laki gagah yang masih merengkuk cepat.

"Katanya malu," Ledek Bima kaget. Seperti layaknya ABG yang baru jatuh cinta, keduanya saling berpandangan sambil tersenyum.

Kebahagiaan terpancar di wajah keduanya. Apalagi yang hendak disembunyikan, jika rasa yang ada di hati mereka berbalas. Mereka kembali berpelukan, menyatukan rasa yang beberapa waktu ini mereka pendam.

Hari ini milik mereka, berdua memadu rasa, menikmati setiap wahana dengan tawa dan canda. Makan di resto fast food ala anak muda, melupakan gaya hidup sehat yang biasa Danurdara jalankan. Hingga lupa waktu dan janji Bima pada ibunya.

"Ra, sudah jam lima. Masih mau main?" Danurdara menengok pergelangan tangannya.

"Ya ampun, lama banget kita main. Mas jadi gak kerja menemani aku," ujarnya manja.

"Gak apa-apa, mas suka kok. Malam ini ada acara gak?" Tanyanya mulai mengarah ke memenuhi keinginan ibunya. Bima berharap jawaban tidak dari gadisnya.

"Gak ada, paling ke kafe. Kenapa, Mas masih mau jalan?" Bima menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Danurdara mengeryit tidak mengerti.

"Mau ikut aku pulang gak? Ehm.. ibu pengin ketemu kamu," Akhirnya Bima menyampaikan pesan ibunya.

"Ibu, mau ketemu dengan aku?"

"Iya, sebenarnya tadi siang tapi melihat keadaanmu, aku tidak tega ngomongnya. Lagian tadi kita belum jadian kan?" Goda Bima memeluk gadisnya.

"Harus malam ini?"

"Yup, karena besok pagi ibu sudah harus pulang ke Semarang. Katanya siang ada rapat penting. Atau kamu mau ketemu ibu di Semarang aja, sambil jalan-jalan," Ke Semarang, enak juga kali jalan-jalan. Tapi masih banyak urusan yang harus dia kerjakan. Gak mungkin ditinggalkan begitu saja, belum lagi masalah Dhimas. Danurdara yakin, kali ini keluarga Dhimas tidak akan tinggal diam.

"Tapi pakaianku gini, Mas. Kita mampir cari baju dulu gimana?" Bima tersenyum tipis.

"Gak usah, ibu suka kamu apa adanya,"

"Gak sopan Mas, ketemu orang tua pakai baju santai begini," Danurdara kembali melihat pakaiannya, karena basah mereka membeli kaos khas Dufan dan celana pendek sepasang, layaknya anak muda yang sedang kasmaran.

"Tenang saja ibu pasti suka. Selera kami sama, apa yang aku suka ibu juga suka, buktinya kamu. Sekali ketemu kamu ibu langsung suka, sama dengan aku,"

"Maksudnya?"

"Gak usah diperjelas, kita pulang," Danurdara tersenyum bahagia.

Ucapan Bima membuktikan bahwa laki-laki itu menyukainya dari pertama mereka bertemu. Uniknya, sikap kaku dan acuhnya mengalihkan pikirannya.

***

Yeayy udah jadian, jatuh cinta itu menyenangkan. Apalagi baru jadian yah...

Hati-hati karena jatuh cinta bisa membuat sakit yang sangat sakit..


All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang