"Mas Bima?" Danurdara tercenggang melihat laki-laki yang membuatnya salah tingkah sepagi ini, sudah berdiri di depannya. Dengan kaos hitam lengan panjang kesukaannya. Setiap ketemu, Bima hampir selalu memakai kaos berwarna hitam.
"Hey, apa kabar hari ini? Pesanku tidak kamu balas. Telpon juga tidak kamu angkat, aku kuatir," katanya dengan santai. Danurdara tidak berkutik dengan jawaban penuh perhatian itu.
"Maaf, saya..."
"Tidak apa-apa. Mungkin kamu lebih suka kita langsumg bertemu," sambungnya tanpa basa-basi.
Danurdara tersenyum canggung, menyadari laki-laki itu tidak lagi bersikap formal padanya. Sejak semalam, Bima mengubah gaya bicaranya menjadi lebih santai. Tidak ada lagi, Bima kaku yang dikenal beberapa waktu lalu.
"Boleh masuk?" Tanyanya tersenyum. Danurdara tersadar, mereka masih berbicara di depan pintu. Pintu kamarnya dibuka lebih lebar agar laki-laki itu dapat masuk.
Pandangan Bima menyapu kamar gadis cantik yang sekarang lebih banyak membisu. Tempat tidur yang masih berantakan, menandakan bahwa sang empunya kamar masih pada mood bermalas-malasan.
"Belum mandi, ya?" Danurdara tersentak mendapat pertanyaan lugas Bima. Senyum malu menghiasi wajahnya, yang membuat Bima mengumpat dalam hati.
Laki-laki itu menatap lekat gadis ayu di depannya. Rambut panjangnya yang diikat sembarang memperlihatkan leher jenjangnya yang membuat Bima menelan ludah. Bibirnya yang merah seperti mengundang untuk dicium. Untung tubuhnya tertutup rapat, kalau tidak lengkap sudah kegalauan Bima. Jiwa laki-lakinya berontak, akal sehatnya menipis. Gila kamu sangat menggoda Dara, keluh hatinya.
Danurdara salah tingkah diperhatikan sedemikian. Jantungnya berdenyut sangat cepat, ketakutan menguasainya. Apa yang akan dilakukannya jika Bima ternyata berniat jahat padanya? Bagaimana jika kebaikannnya semalam hanya kamuflase untuk memasang jerat dan membuatnya jatuh cinta? Bukankah dia tahu aku sudah bertunangan? Tanya itu kembali mengusik pikirannya.
Bima berbalik menghadap Danurdara. Perlahan dia berjalan mendekat, gadis itu merespon mundur. Kakinya gemetaran, dalam hatinya Danurdara mengutuk kebodohannya mengizinkan laki-laki mempesona itu masuk kamarnya. Seharusnya aku tidak memberinya peluang. Danurdara hampir menangis, tetapi ditahannya. Dia tidak mau Bima merasa menang jika memang niatnya tidak baik.
Bima terus mendekat sampai Danurdara terjepit di sudut ruangan. Tubuh kekarnya mengurung gadis pemilik kafe, yang sejak pertama kali bertemu sudah menguasai hatinya. Tangannya terulur melepas ikatan rambut gadis pujaannya, rambut panjang itu dibiarkan terurai. Beberapa anak rambut yang berantakan dirapikan dengan lembut. Danurdara semakin mengkerut, Bima bukan tidak menyadari ketakutan gadis itu, tetapi akal sehatnya berangsur menghilang membuatnya nekat mencium sekilas bibir ranum itu. Danurdara membeku, bibirnya bergetar. Bima tersadar, dengan cepat dirangkumnya Danurdara masuk dalam pelukanmya.
"Maaf, aku membuatmu takut," bisiknya lembut.
Dikecupnya puncak kepala gadis dalam pelukannya itu dengan lembut. Mendapat perlakuan sedemikian manis, Danurdara kehilangan akal sehatnya. Dengan kesadaran penuh, disandarkan kepalanya didada bidang Bima yang erat memeluknya.
Detak jantung mereka berpadu, saling berkejaran. Beberapa saat mereka hanya berpelukan dalam diam, berdebat dengan pikiran masing-masing. Memaknai rasa yang mulai tumbuh.
"Kamu cantik, baik dan mandiri, betapa bodohnya laki-laki yang menyakitimu," bisiknya parau.
Danurdara tidak memahami apa maksud laki-laki itu, dia tidak peduli apakah itu bualan atau pujian tulus. Dia terlalu menikmati perlakuan Bima yang melambungkan hatinya.
Perlahan, Bima mengurai pelukannya. Ditatap Danurdara yang menunduk malu, laki-laki itu semakin gemas. Dara yang ada di depannya saat ini, jauh berbeda dengan yang dilihatnya di kafe. Diangkatnya dagu sang gadis, dipegangnya tengkuk jenjang itu dengan lembut diciumnya bibir ranum yang menggoda hatinya. Danurdara merespon ciuman Bima, sesaat mereka terhanyut. Bima menghentikan ciuman mereka, takut semakin tidak terkendali. Bibir ranum itu diusap dengan jari tangannya. Danurdara memeluk laki-laki didepannya menyembunyikan wajah merahnya.
"Kenapa?" Danurdara menggeleng malu dalam pelukannya.
Bima tersenyum bahagia, gadis yang dicintainya merespon perasaannya. Meski dia tahu, Dara terikat pertunangan dengan orang lain dan saat ini sedang bermasalah dengan laki-laki itu.
"Ra, kamu mandi dulu ngih! Aku tunggu di bawah, kita sarapan bareng," Danurdara mendongak, menatap laki-laki yang sudah membuatnya melupakan harga dirinya.
"Atau aku tunggu di sini? Tapi aku takut semakin khilaf," Danurdara tersipu malu. Bima mencolek hidung mancung gadis pujaannya gemas. Dipeluknya gadis itu sekali lagi lalu pergi, meninggalkan Danurdara yang tersipu-sipu seperti abg.
***
Aduh piye iki, author khilaf. Maafkan yang tidak suka dengan pengkhianat cinta, habis gregetan dengan dua hati yang sama2 suka tapi terhalang. Eh, halangannya sudah gak ada kan? Dara kan sudah minta putus? Bukan karena Bima ya..karena Dhimas lebih dulu tidak setia.
Wis ah, sadar... takut makin gak jelas nulisnya.
Salam literasi
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)
ChickLitDanurdara Agni Pratista Cinta, silahkan berakhir dan pergilah! Aku tak butuh cintamu, tak terima pengkhianatanmu. Cukup bagiku jika kamu pergi menjauh Pengkhianatan, adakah kamu masih mau menghancurkanku? Bahkan ketika kau tabur itu lewat gen yang m...
