Meet

1K 85 4
                                        

       Mall hari Jumat sore selalu saja ramai, kayaknya orang-orang Jakarta tidak pernah kehabisan uang. Kata siapa cari uang susah, nyatanya mall tiap akhir Minggu penuh, dumal Danurdara gak tahu pada siapa.

        Danurdara sebenarnya tidak suka ngemall, kecuali urusan tertentu seperti hari ini. Saras ngajakin ketemu, tetapi gak mau di kafe. Lagi-lagi karena males ketemu Rajasa yang sebenarnya dia rindukan. Sahabatnya itu memang aneh, suka kok gak mau bersikap lebih manis. Bawaannya jutek aja di depan sang cowok idaman. Kalau sudah begitu, Danurdara juga yang harus berkorban. Untung hanya korban waktu bukan korban perasaan.

        Gak hanya korban waktu juga sih! Sebenarnya the jadoel kafe juga sedang ramai, ada acara pesta kecil teman-teman Rajasa untuk nanti malam. Danurdara terpaksa menyerahkan urusan kafe kepada laki-laki itu dan Putri. Biar saja siapa suruh membuat Saras jadi tidak nyaman. Merepotkan!

        Gadis cantik berbaju sporty itu melirik jam tangannya, pukul 18.10 menit, artinya dia sudah terlambat sepuluh menit dari waktu yang mereka janjikan. Menyadari keterlambatannya, Danurdara mempercepat langkah menuju strabuck coffe, tempat janji ketemu mereka.

        Dari jauh, Danurdara sudah melihat logo berwarna hijau bergambar perempuan berambut panjang dan bermahkota itu. Gadis itu menarik napas lega, setidaknya dia tidak perlu mencari-cari lagi.

       Kafe kopi favorit anak muda itu belum terlalu ramai, Danurdara celingukan mencari sosok Saras di seputar ruangan. Tetapi gadis yang dia cari tidak kelihatan batang hidungnya. Pasti terlambat, alasan klise Saras yang memang susah on time.

       Danurdara memutuskan mencari tempat di salah satu sudut kafe. Mengambil kursi menghadap ke pintu, untuk mempermudah Saras menemukannya. Sebelum duduk, diambil gawai dari kantong celananya. Benda pipih bergambar apel dimakan berlubang itu diletakkannya di atas meja, meletakkan ransel kecil yang dibawanya di sisi kursi.

        "Mau pesan apa Mbak?" Seorang pramusaji menginterupsi aktivitasnya.

       "Capuccino grande aja," sahutnya tersenyum.

        "Mau ditemani snack apa gitu?" Tanya si mbak sekali lagi.

       "Nanti aja Mbak, saya masih menunggu teman," si mbak tersenyum sebelum berlalu.

        Danurdara melanjutkan kembali aktivitasnya, dikeluarkan ipad dari dalam tas, mengirim pesan buat Saras dan mulai bekerja. Laporan keuangan yang dikirim Putri semalam belum sempat diperiksa. Seminggu ini dia sibuk mengerjakan proposal kerja sama dengan sebuah supplier kopi dan beberapa barang lainnya. Supplier yang lama mulai mempermainkan harga dan itu membuat Danurdara berpikir ulang untuk melanjutkan kerjasama dengan mereka.

         "Hei, sendirian saja?" Sebuah suara ceria mengagetkannya. Danurdara mendongak, Damar laki-laki penuh senyum itu berdiri didepannya.

        "Hei Mas, apa kabar?" Sapanya ramah. Damar tersenyum lebar, diulurkan tangannya menyambut tangan gadis cantik itu.

       "Kabar baik, boleh duduk di sini gak?" Tanyanya minta izin.

       "Duduk saja Mas, gak ada tulisannya milik Danurdara kan?" Jawabnya tertawa lirih. Damar ikut tertawa bahagia.

        Laki-laki berkacamata itu benar-benar bahagia, bisa bertemu dengan gadis yang membuatnya susah tidur sejak pertama kali bertemu. Meski dia tahu gadis itu sudah bertunangan. Karena status itulah, Damar tidak mau memupuk perasaannya.

        Rindu yang membuncah dalam hati, terbayar hari ini. Sepertinya semesta mendukung perasaannya, tanpa sengaja, Damar melihat gadis pujaannya tengah duduk sendirian di sudut kafe. Dia tidak mau melewatkan kesempatan langka itu.

         "Janjian sama tunanganmu?" Tanya Damar hati-hati. Jantungnya berdebar lebih cepat, berharap jawaban tidak keluar dari mulut Danurdara.

         "Gak, janjian sama teman," Damar tersenyum lega. Setidaknya, dia tidak harus melihat Danurdara bersama laki-laki saingannya.

        "Mas Damar sendiri, ada janji sama teman?" Damar masih tersenyum, matanya menatap lekat gadis berkaos putih itu. Danurdara menunggu, berharap Damar menyebut nama Bima, laki-laki yang dirindukannya beberapa waktu ini.
             ***

Akhirnya bisa update juga..
Sok sibuk dengan diri sendiri yang galau menunggu lahiran buku perdanaku.

Arcane...

 Tentang apa sih?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

 Tentang apa sih?

  Kalau mau order boleh kok, mumpung masih harga promo

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

  Kalau mau order boleh kok, mumpung masih harga promo.  Caranya gampang, kontak aku aja ya...

Salam literaai

All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang