"Ada janji sama klien," Jawaban Damar seketika melenyapkan senyum Danurdara. Angannya pupus dalam sekejap.
Bertemu Damar di tempat dan waktu yang tidak direncanakan, sempat melambungkan angannya untuk bertemu Bima sahabat Damar. Sayang, Damar janjian dengam orang lain.
"Mbak Dara berharap saya ketemu siapa?" Tanya Damar curiga. Mata tajamnya sempat melihat sorot kecewa gadis itu.
"Maaf ini minumannya," sela seorang pramusaji yang mendatangi mereka.
"Terima kasih Mas," kata Danurdara sopan. Sebagai pemilik kafe yang biasa melayani tamu, gadis itu mencoba berlaku sopan pada siapa saja, termasuk karyawannya.
"Mas, saya mau caffe americano," pesan Damar sebelum pramusaji itu pergi.
"Medium," tambahnya melihat si mas mau bertanya lagi.
"Pecinta kopi rupanya," gumam Danurdara lirih.
"Kenapa Mbak?" Damar mendekatnya telinganya mencoba menangkap omongan Danurdara.
"Ah gak apa-apa," kilahnya pura-pura sibuk bekerja.
"Pertanyaan saya belum dijawab lho?"
"Pertanyaan apa ya?" Danurdara pura-pura tidak ingat. Tidak mungkin kan dia jawab nama seseorang yang membuat jantungnya berdebar cepat?
"Sudahlah tidak ada berita ulang," putus Damar mengakhiri kecurigaannya.
Danurdara hanya mengenal satu temannya, Bima. Mungkinkah sahabatnya itu yang diharapkan gadis cantik yang sedang asyik dengan ipadnya itu?
Sejauh yang dia tahu, interaksi Bima dan Danurdara biasa aja. Bima yang memang kelewat cuek dengan perempuan, tidak sedikit pun menampakan ketertarikannya dengan Danurdara. Adakah gadis ini jatuh cinta pada sahabatnya?
Lalu bagaimana dengan tunangannya? Bukankah Danurdara sudah mau menikah? Pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba membuat kepalanya pusing. Minuman yang baru saja diantar dicecapnya pelan. Minuman belum sempat Damar letakkan, sebuah suara sinis menyerbu meja mereka.
"O jadi ini, maling teriak maling!" Tanpa dikomando keduanya mendongak mencari sumber suara tidak diharapkan itu.
Danurdara melotot, Dhimas tertawa sinis dengan mata marah. Damar mengeryitkan dahinya, dia tahu laki-laki yang berdiri di samping meja mereka. Tunangan Danurdara. Tetapi apa maksudnya tadi? Maling teriak maling?
Damar melirik Danurdara yang sedang bersitatap dengan tunangannya. Mata keduanya memancarkan kemarahan. Tidak ada suara, hanya tatapan mata seperti ingin saling menyakiti. Laki-laki berkacamata itu, mencium aura yang tidak beres.
"Ngapain ke sini?" Tanya Danurdara memecah keheningan.
"Menangkap maling yang pura-pura suci," sahut Dhimas enteng. Laki-laki itu menarik kursi kosong di sebelah Danurdara. Gadis itu beringsut menjauh. Damar merasa perlu melakukan sesuatu.
"Maaf, Mas ini siapa ya?" Tanyanya pura-pura tidak kenal. Secara resmi mereka memang belum pernah berkenalan, Damar hanya pernah melihatnya di kafe waktu itu.
"Saya Dhimas, tunangan gadis yang anda kencani malam ini," jawab Dhimas marah.
"Ralat, mantan tunangan," sahut Danurdara sinis.
Mantan? Mendengar kata mantan, Damar mendapat angin segar.
"Benaran sudah mantan Mbak?" Tanyanya menyakinkan. Danurdara mengangguk, sementara Dhimas memaksa menggenggam tangan gadis di sampingnya. Tentu saja Danurdara menolak.
"Mas, sama perempuan jangan kasar dong," sentak Damar tidak suka.
"Apa pedulimu! Kamu hanya selingkuhannya!" Teriak Dhimas.
"Jaga mulutmu Dhim! Kamu lupa, pertunangan kita sudah berakhir!" Balas Danurdara. Dhimas semakin emosi, ditariknya tangan Danurdara yang berusaha melawan.
"Eh Mas, jangan..." Buukk.. sebuah pukulan mendarat di wajah Damar, kacamatanya terlempar.
Danurdara berhasil berontak, tangan yang dipegang Dhimas terlepas. Gadis itu menghampiri Damar yang membungkuk mengambil kacamatanya.
"Mas Damar tidak apa-apa?" Pertanyaan retoris. Dhimas kembali menerjang, menendang Damar yang baru kembali berdiri.
"Dhimas, hentikan! Jangan mempermalukan dirimu sendiri!" Teriakan Danurdara membuat Dhimas semakin emosi. Matanya nanar menghujam ke arah Danurdara.
"Kamu yang mempermalukan dirimu sendiri perempuan jalang! Pura-pura suci padahal sama saja," Plak, tangan Danurdara mendarat mulus di pipi Dhimas. Laki-laki itu membelalak, tangannya hendak menampar gadisnya tetapi sebuah tangan berhasil menahannya.
***
Yeayy bisa double update. Cakep.
Siapa ya yang nongol belakangan?
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)
ChickLitDanurdara Agni Pratista Cinta, silahkan berakhir dan pergilah! Aku tak butuh cintamu, tak terima pengkhianatanmu. Cukup bagiku jika kamu pergi menjauh Pengkhianatan, adakah kamu masih mau menghancurkanku? Bahkan ketika kau tabur itu lewat gen yang m...
