"Golongan darah Bima A, bapak butuh informasi itukan?"
Kata-kata itu terus terngiang di telinga Bagus. Karena ada telpon dari kantor, Bima pergi meninggalkannya sendirian di kedai kopi kenamaan itu beberapa waktu lamanya. Bagus masih terpekur di kursinya, inikah hukuman yang harus diterimanya?
Bagus menyadarkan tubuh lelahnya, matanya terpejam membayangkan reaksi Adriani mendengar keinginan gilanya itu. Sanggupkah dia meminta izin kepada ibu Bima untuk kesembuhan putrinya?
***
Sudah pukul sembilan malam, Bima belum beranjak dari kursinya. Pekerjaan hari ini harus diselesaikan agr besok bisa ada waktu menyelesaikan urusn pribadinya.
Bima berniat untuk pulang ke Semarang besok pagi, untuk membahas masalah keluarga mereka dengan ibunya. Apa pun keputusannya nanti, ibunya berhak tahu terlebih dahulu.
Sepulang dari rumah sakit tadi, laki-laki muda itu sempat menelpon ibunya. Beberapa poin penting sempat disampaikan, seperti pertemuannya dengan ayahnya. Tetapi tidak tentang hubungan Dara dengn ayahnya.
Masalah itu akan disampaikannya secara langsung, karena Bima tahu ibunya berharap banyak terhadap Dara.
Drttt... gawainya bergetar. Nama ibunya tertera dilayar. Bima segera menerima panggilan itu.
"Malam Ibu," sapanya ramah.
"Kamu masih di kantor Mas?" Tanya Adriani dari seberang sambungan.
"Kok ibu tahu, padahal Mas belum bilang lho! Ibuku memang hebat," puji Bima
tersenyum. Adriani tertawa renyah mendapat pujian dari putranya.
"Memangnya kamu mau kemana lagi, kalau malam begini belum pulang," Bima kaget. Gak mungkin ibunya sudah ada di Jakarta lagi.
"Ibu di mana?" Tawa Adrini semakin membahana, kejutan untuk putranya berhasil.
Begitu mendengatlr cerita Bima tentang suaminya, Adriani langsung terbang ke Jakarta. Pikiran sama melintas dalam benaknya, masalah mereka harus segera selesai.
"Cepat pulang, Ibu tunggu di apartemen,"
"Beneran Ibu di Jakarta?"
"Iya, emang Ibu pernah bohong sama kamu?" Seloroh Adriani.
Waktu Bima kecil, dia pernah berbohong tentang keberadaan Bagus. Tidak mungkin menceritakan hal sebenarnya kepada anak berumur 3 tahun sampai 11 tahun.
Begitu lulus sekolah dasar, barulah Adriani mulai membuka kisah itu secara perlahan. Sepanjang mendampingi putranya hanya satu yang ditanamkan, menjadikan Bima laki-laki yang bertanggungjawab.
"Oke, habis ini Mas pulang. Kalau tidak capek, Ibu masakin Mas ya. Mas belum makan," pesannya manja. Kehadiran ibunya berarti makanan enak untuknya.
"Jam segini kok belum makan! Kerja ya kerja tapi harus tetap makan. Ya udah Ibu tutup, mau masak buat anak kebanggaan Ibu,"
Adriani mengakhiri sambungan telpon mereka. Airmatanya kembali merebak, debar jantungnya tidak terkendali. Harapannya untuk bisa bertemu dan menyelesaikan masalah dengan Bagus, segera terwujud.
Perlahan perempuan cantik itu bergerak ke dapur, membuka kulkas dan menyiapkan bahan untuk makanan kesukaan anaknya. Untungnya sebelum pulang kemarin, dia sudah memenuhi kulkas dengan bahan makanan. Bima termasuk laki-laki yang suka memasak, setiap Minggu laki-laki muda itu selalu menyempatkan diri berbelanja kebutuham makanan.
Hampir jam sebelas malam, Bima sampai di apartemen. Adriani sedang menonton televisi di ruang tamu ketika Bima datang. Diciumnya punggung tangan ibunya sopan, lalu memeluk tubuh mungil ibunya erat.
"Mas sayang ibu," bisiknya yang membuat sang ibu menitikkan airmata.
"Dibanding dengan Dara, lebih sayang siapa?" Goda Adriani yang membuat tubuh Bima menegang. Adriani terkejut dengan reaksi anaknya.
"Kenapa Mas? Maaf, Ibu hanya bercanda," katanya tidak enak hati. Bima memaksakan diri untuk tersenyum.
"Buat Bima, Ibu segalanya. Tidak ada yang bisa mengalahkan Ibu termasuk Dara," Adriani tersenyum bangga.
"Yo wis, ayo maem dhisik. Wis wengi lho," ajaknya membawa anaknya ke ruang makan. Bima menurut, berbagai menu makanan kesukaannya tersedia di atas meja.
"Kalau setiap hari Ibu di sini Mas jadi gemuk nih!"
"Cepatlah menikah, biar ada yang merawatmu," jawab Adriani mengerlingkan matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)
Romanzi rosa / ChickLitDanurdara Agni Pratista Cinta, silahkan berakhir dan pergilah! Aku tak butuh cintamu, tak terima pengkhianatanmu. Cukup bagiku jika kamu pergi menjauh Pengkhianatan, adakah kamu masih mau menghancurkanku? Bahkan ketika kau tabur itu lewat gen yang m...
