"Dara, maafkan Papa," kata Bagus memulai pembicaraan serius mereka setelah beberapa waktu mereka hanya ngobrol tidak jelas.
Danurdara mengeryitkan dahi, sepertinya mimpi buruknya benar terjadi. Ayahnya tampak serius menatap mereka berdua bergantian
"Dara ingat, beberapa bulan lalu kamu pernah bertanya, apakah Papa punya perempuan lain?" Gadis itu diam sejenak, lalu mengangguk. Dadanya berdebar cepat.
"Waktu itu, Papa tidak bisa menjawab karena jawaban Papa tidak menyenangkan untuk kamu dengar," Lanjut Bagus hati-hati.
"Artinya Papa mempunyai perempuan lain?" Tanya Danurdara getir. Gadis itu berharap, ayahnya menggeleng. Harapannya salah, laki-laki paruh baya itu mengangguk lemah.
"Papa tega melakukan itu pada mama? Papa...," Danurdara berteriak histeris. Tidak percaya ayah yang dihormati dan dicintainya ternyata sama dengan Dhimas, tukang selingkuh. Inikah karma untuknya?
"Dengar dulu, jangan emosi. Papa tidak mengkhianati mamamu tetapi karena mamamu Papa berkhianat," potong Bagus langsung membungkam amarah putrinya. Tubuh gadis itu luruh seketika, Bima menahan tubuh adiknya.
"Tenang Ra, dengarkan dulu penjelasan bapak," bisiknya lembut.
Bima terpaksa bersuara, dia tidak suka pada keadaan seperti ini, serba salah tidak tahu harus bagaimana. Bisikan lembut kekasihnya menyadarkan kesadaran Danurdara.
Tunggu, kenapa mas Bima ada disini? Kenapa papa menceritakan aib keluarga mereka di depan orang asing?
Bukankah Bima orang asing bagi papanya? Tidak mungkin papa berniat mempermalukan dirinya di depan Bima hanya karena papa tidak setuju, papa cukup bilang saja pendapatnya. Lalu kenapa? Apa tujuan laki-laki yang dicintainya ada di sini bersama mereka?
"Kenapa Mas Bima di sini?" Tanyanya lirih.
Bima menggeleng pelan. Bagus menatap putranya yang menunduk. Bagus bisa merasakan gejolak yang terjadi dalam hati laki-laki muda itu.
"Apa hubungannya dengan mas Bima?" Tanya Danurdara mulai curiga.
"Untuk apa Mas Bima disini? Kenapa Papa membicarakan hal ini di depan mas Bima?" Danurdara terlihat gusar.
"Mas Bima, kenapa diam saja? Kenapa tidak menjawab pertanyaan Dara?"
"Mas tidak tahu harus bicara apa," sahut Bima getir.
Dia sendiri masih tidak percaya kenyataan yang dua jam lalu dia dengar. Cinta yang baru saja tumbuh harus patah bahkan sebelum sempat berkembang.
"Pa, tolong jelaskan pada Dara. Ada apa ini?" Danurdara terus mendesak Bagus, minta penjelasan.
Laki-laki itu mengambil napas panjang, dadanya terasa sesak. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada putrinya setelah tahu rahasia memalukan itu.
'Ra, sekali lagi maafkan Papa. Setelah ini kamu boleh marah kepada Papa, Bima juga. Tetapi inilah fakta yang harus Papa sampaikan," Danurdara menatap ayahnya dengan ekspresi marah.
"Dalam hal ini, Papa tidak bermaksud menyalahkan siapa pun, termasuk mamamu," Mendengar mamanya disebut Danurdara mendongak.
"Mama, kenapa dengan mama?"
"Papa sudah menikah dan mempunyai seorang anak ketika Papa bertemu mamamu. Seperti yang kamu tahu, Mama anak bos Papa. Mama jatuh cinta dengan Papa dan tidak peduli dengan kondisi Papa saat itu. Karena kebodohan Papa, semua ini terjadi," Bagus menghela napas.
Mengingat kembali kisah dua puluh enam tahun lalu, membuatnya marah pada dirinya sendiri. Bagaimana dia tidak bisa berbuat apa-apa dipisahkan dari anak dan istrinya. Laki-laki seperti apa dia yang sama sekali tidak berani berkutik, karena mertuanya mengancam akan membunuh orang-orang yang dia cintai jika berani meninggalkan Ajeng.
"Papa tidak pernah bercerai dengan istri pertama Papa, ketemu pun tidak bisa. Opamu memenjarakan Papa di alam bebas, dengan banyak penjaga. Telpon juga tidak bisa, handphone Papa disadap. Lima belas tahun lalu, Papa bertekad mandiri agar bisa terlepas dari opa kamu. Bersyukur usaha Papa berhasil, sayangnya Papa tidak berhasil menemukan anak dan istri Papa. Mereka pergi dan kampung halaman kami, dan semua orang bungkam tidak mau memberitahu Papa," Bima semakin gelisah, menunggu bapaknya menceritakan siapa dirinya.
***
Nyicil hutang satu ah...
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)
Chick-LitDanurdara Agni Pratista Cinta, silahkan berakhir dan pergilah! Aku tak butuh cintamu, tak terima pengkhianatanmu. Cukup bagiku jika kamu pergi menjauh Pengkhianatan, adakah kamu masih mau menghancurkanku? Bahkan ketika kau tabur itu lewat gen yang m...
