Pertemuan dengan ibu Bima menyenangkan hati Danurdara. Perempuan paruh baya yang masih cantik itu bukan tipe emak-emak rempong yang banyak bertanya. Sebaliknya, dia menerima Danurdara dengan sangat baik, menjadikan gadis cantik itu nyaman bersama mereka.
"Santai saja, anggap rumah sendiri," Adriani memeluk Danurdara hangat.
"Terima kasih, Tante,"
"Jangan tante dong! Panggil Ibu saja. Ayo bantu ibu, kamu suka masak to? Kita siapkan makan malam istimewa untuk pangeran kita,"
Adriani menarik tangan Danurdara yang masih terlihat kikuk. Bima tersenyum melihat ibunya antusias menerima kekasihnya. Hatinya membuncah bahagia, bisa membuat ibunya tertawa lepas.
Acara memasak bersama ibu Bima terjalan menyenangkan. Danurdara yang memang suka masak, menikmati kebersamaan mereka. Bima mengamati interaksi ibu dan kekasihnya dari ruang tamu, sambil menyelesaikan pekerjaan kantor yang tadi terbengkelai.
"Mas, ini kopinya," Danurdara mendekat membawakan secangkir kopi yang masih mengepul.
"Makasih, ibu yang nyuruh ya?" Tebaknya disambut anggukan dari sang gadis.
"Dihafalkan takarannya ya? Jangan sampai lupa," bisiknya sebelum Danurdara meninggalkannya. Sang gadis tertawa renyah.
"Kenapa Ra, kayaknya senang banget?" Tanya Adriani begitu calon mantu idamannya mendekat.
"Kopi buatan Dara enak Bu, sudah pantas jadi istri Bima," terial Bima dari ruang tamu.
"Tinggal bilang mau kapan Mas, ibu siap melamarnya untukmu," sahut ibunya. Danurdara tersipu malu, pipinya merona.
"Mas mu itu sudah niat banget mau lamar kamu. Kamu mau gak Cah Ayu?"
"Ah Ibu bisa aja," Danurdara tersipu.
"Serius Sayang, Mas tidak main-main. Biar ibu menjadi saksi, Dara maukah kamu menikah denganku?" Bima berjongkok di depannya. Sama seperti tadi siang di ruangannya, bedanya Danurdara kini berdiri di dekat ibu laki-laki itu.
Danurdara salah tingkah. Tindakan konyol Bima membuatnya malu, sekaligus bahagia. Adriani tersenyum penuh arti.
"Dara, anakku bukan tipe laki-laki yang suka main-main. Dia serius sama kamu Cah Ayu. Mau ya jadi menantu ibu?"
Bima memang penuh kejutan, hampir semua yang dilakukan untuknya diluar nalar. Pertemuan mereka di taman safari, ciuman paginya di hotel, pengakuannya di depan Dhimas yang membuat mantan tunangannya marah besar dan hari ini, laki-laki di depannya tiba-tiba memintanya menjadi istrinya. Apalagi yang direncana Bima untuknya?
"Dara, aku menyukaimu sejak pertama kita bertemu. Sikapku cuekku waktu itu, ujian buat diriku sendiri. Kupikir aku hanya sebatas suka, ternyata tidak. Aku mencintaimu, meski aku tahu kamu hampir menjadi milik Dhimas. Aku tidak rela karena aku tahu siapa laki-laki itu. Pertemuan tidak terduga kita di Taman Safari, di starbucks juga di Grand Indonesia merupakan anugerah yang tidak kuduga. Ketidaksengajaan itu membuatku yakin dengan perasaanku sendiri. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu," Kata Bima memperjelas perasaannya.
Danurdara tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Apa yang disampaikan Bima sama dengan perasaannya. Debar dan kenyamanan yang dia rasakan saat bersama, terjawab sudah. Mereka saling mencintai.
Adriani terdiam mendengar cerita putranya tentang perjalanan cinta Bima dan Danurdara. Entah kenapa, sejak pertama bertemu gadis yang saat ini tengah menatap putranya dengan rona merah di pipi itu, sudah membuatnya jatuh hati.
Gadis itu berhasil mencuri perhatiannya. Gadis sederhana yang mengingatkannya pada dirinya sendiri, dua puluh enam tahun lalu ketika luka itu membuatnya berubah seperti sekarang.
"Kamu mau Nak?" Danurdara menunduk, tidak tahu harus menjawab bagaimana.
Adriani mendekati kedua anak muda yang sedang jatuh cinta itu. Tangan kirinya memegang tangan kanan Danurdara, satu tangan lainnya mengangkat Bima untuk berdiri.
Laki-laki muda itu menatap gadis pujaannya yang kali ini lebih banyak diam. Adriani menangkupkan Kedua tangan mereka, keduanya saling berpandangan tidak mengerti apa yang diinginkan perempuan lima puluhan itu.
"Dara, Ibu berikan cincin yang pernah Ibu terima dari ayah Bima ini untukmu. Jadilah menantu Ibu,"
***
Yes, dilamar!
Kecepatan gak sih! Segitu yakin ibu Bima menerima Dara menjadi menantunya? Semudah itukah perjalanan cinta mereka?
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)
ChickLitDanurdara Agni Pratista Cinta, silahkan berakhir dan pergilah! Aku tak butuh cintamu, tak terima pengkhianatanmu. Cukup bagiku jika kamu pergi menjauh Pengkhianatan, adakah kamu masih mau menghancurkanku? Bahkan ketika kau tabur itu lewat gen yang m...
