Love (2)

962 94 11
                                        

        "Cepatlah menikah, biar ada yang merawatmu," jawab Adriani mengerlingkan matanya.

         Bima tersedak, tangan kanannya bergerak mencari gelas minum di dekatnya. Adriani berdiri, menepuk punggung anaknya perlahan.

         "Hati-hati makannya Sayang," tegur Adriani lembut.

         Sikap Bima tentu saja membuat Adriani bingung, tidak biasanya putranya gugup hanya karena digoda. Dua hari lalu, anak laki-lakinya begitu bersemangat melamar Dara. Kenapa sekarang gugup, apakah mereka sedang berselisih paham?

         Tidak mau melakukan kesalahan lagi, Adriani membiarkan anaknya menyelesaikan makannya dengan tenang. Wajah Bima tampak lelah, tidak mungkin kalau hanya karena pekerjaan. Pasti ada yang tidak beres, selain masalah pertemuannya dengan ayahnya.

         "Mas mandi saja dulu, kita bicara setelah itu," Bima mengangguk dan segera berlalu masuk ke kamar untuk   membersihkan diri.

          Selesai mandi, Bima masih diam dalam kamar beberapa waktu lamanya. Pikirannya mengembara pada peristiwa hari ini. Seperti mimpi di siang bolong, semua terjadi begitu cepat.

         Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. Lako-laki muda itu bangkit, berjalan ke pintu. Adriani berdiri di depan kamarnya dengan wajah teduhnya.

        "Ada apa Mas, kamu terlihat aneh hari ini," perempuan paruh baya itu memeluk pinggang anak lelakinya sambil masuk ke dalam kamar.

         Mereka duduk di bibir tempat tidur, Bima masih diam, tubuhnya direbahkan,  matanya menerawang jauh. Adriani semakin tidak memahami sikap putra tunggalnya.

        "Mas..."

        "Bima tidak mengerti kenapa semua jadi begini?" Desahnya lirih.

        Adriani menatap laki-laki muda itu dengan seksama. Gurat kekecewaan terlihat jelas di wajah tampan itu.

        "Ini tentang siapa, bapakmu atau Dara?" Tanya Adriani mulai tidak sabar.

        "Dua-duaanya karena mereka satu ikatan,"

        Dahi Adriani mengeryit bingung, apa maksud pernyataan itu. Tidak mungkin, hal itu tidak boleh terjadi. Dari sekian banyak perempuan, akankah anaknya terlempar dalam kesalahan mereka.

         "Mas, ada apa?" Adriani menepuk paha anak laki-lakinya, Bima memiringkan tubuhnya menghadap sang ibu. Tangan kekarnya memeluk pinggang Adriani manja, laki-laki muda itu butuh kekuatan.

          "Dara tidak akan pernah bisa menjadi menantu Ibu," keluhnya lirih. Embusan napasnya terdengar sangat lelah.

         "Kenapa? Apa hubungan Dara dengan Bapakmu?" Tanya Adriani gusar. Ucapan pasrah anaknya mengganggu pikiran perempuan menjelang 50 tahun itu.

         "Dara adik Bima. Mas mencintai adik senditi," Adriani terpaku. Kemungkinan buruk yang terlintas dipikirannya benar-benar terjadi. Tuhan, kenapa harus begini akhirnya?

                     ***

          Dara tergolek lemah di sofa kamar rawat Hayu. Adik semata wayangnya sudah terlelap beberapa jam yang lalu, Ajeng pulang ke rumah untuk beristirahat. Sementara Bagus pergi entah kemana.

         Sejak kembali dari berbicara dengan Bima, ayahnya lebih banyak diam,  Danurdara tidak tahu apa yang mereka bicarakan sampai ayahnya berubah drastis. Berulang kali, gadis cantik itu membalik badannya gelisah. Peristiwa demi peristiwa tidak menyenangkan membuatnya lelah.

All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang