Danurdara terpukul mendengar cerita ayahnya. Betapa memalukan perilaku mama dan opanya, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Hal itu mengingatkannya pada cerita Ajeng beberapa waktu yang lalu, saat konflik dengan Dhimas memanas.
Jadi ini yang pernah mama katanya malam itu, lebih baik dicintai daripada mencintai. Itu artinya, Hayu dan dia bukan lahir karena cinta. Danurdara mendengkus kasar.
Bima menoleh, Danurdara disebelahnya tampak tertekan. Laki-laki muda itu paham yang dirasakan adiknya. Apa yang bisa dilakukannya sekarang?
"Dara maafkan Papa, Nak," bisik Bagus mendekati putrinya.
Diraihnya tubuh putri kesayangannya masuk dalam pelukannya. Tubuh Danurdara bergetar, airmata mulai membasahi pipinya.
"Papa sayang kamu Ra, maaf Papa menyakitmu," Danurdara terisak. Kemarahan tidak mengubah kenyataan. Lalu Bima, mungkinkah mas Bima anak Papa?
"Pa, Mas Bima?" Lirih suara Danurdara hinggap di telinga Bima.
Dipejamkan matanya, tidak sanggup membayangkan reaksi Dara. Semua berjalan sangat cepat, sakit hatinya mengetahui kenyataan gadis yang dicintainya beberapa bulan terakhir belum juga sembuh, sekarang harus menghadapi Dara yang pastinya lebih syok.
"Iya Ra, Bima putra Papa," Dara lemas mendengar jawaban Bagus. Tubuhnya luruh dalam pelukan ayahnya, dengan sigap Bima membantu ayahnya.
"Bawa ke kamar Bim, biar leluasa bernapas,"
Bima menggendong tubuh Danurdara menuju kamar tidak jauh dari ruang tamu. Tubuh itu dibaringkan di atas tempat tidur besar berseprai krem. Lagi-lagi warna kesukaan ibunya. Bima memijat ujung kaki Danurdara, Bagus membalur tubuh putrinya dengan minyak kayu putih. Tidak lama kemudian, Danurdara menggeliat.
"Bangun sayang, ini Papa," mata Danurdara mengerjap.
"Pa, Mas Bima mana?" Tanyanya mencoba bangun.
"Mas, di sini Ra," Bima mendekat, menopang tubuh Danurdara dengan lengannya. Danurdara kembali menangis. Bima memeluk tubuh Dara erat, tidak peduli ada ayahnya di situ. Bagus duduk diam di dekat kaki anaknya.
"Mas, kenapa jadi begini? Dara salah apa Mas?" Rintihnya lirih.
"Kamu tidak salah Ra, papa yang salah," sela Bagus. Hatinya sakit melihat putrinya menangis sedih. Dara yang biasanya tegar, kini terlihat rapuh. Cintanya pada Bima melebihi cintanya pada Dhimas.
Bagus keluar kamar mencari bik Iis untuk membuatkan teh hangat. Ketika kembali, didapati kedua anaknya sedang berbicara. Tidak mau mengganggu, Bagus keluar lagi setelah meletakkan minuman di nakas.
"Ra, Mas tahu ini sulit buat kita tetapi ini kenyataan yang harus kita terima. Kamu adikku, kita tidak mungkin bersama," kata Bima menghibur adiknya.
Danurdara menatap Bima sendu, butiran bening masih mengalir dari matanya. Bima menghapusnya lembut.
"Mas lebih suka Dara yang kuat, itu yang membuat Mas jatuh cinta," Danurdara tersenyum kecil. Bima memeluk gadis cantik itu sekali lagi.
Semudah itukah melepaskan amarah karena perbuatan ayahnya? Sebenarnya tidak, tetapi penjelasan Bagus tadi sedikit melegakannya. Setidaknya dia tahu alasan Bagus meninggalkannya.
Bima sempat menangkap foto masa kecilnya bersama ibunya di satu sisi kamar tidur tempat Dara berbaring. Juga beberapa foto bayinya dipajang di atas nakas. Nuansa ibunya ada di sini.
"Mas," Bima tersentak dari lamunannya.
"Iya Ra,"
"Papa di mana?"
"Di luar, kenapa?"
"Mas Bima benci sama kami?" Bima terdiam, haruskah dia marah pada keadaan?
Ibu tidak pernah mengajarkannya untuk menyimpan kebencian. Kedatangannya ke Jakarta memang untuk mencari bapaknya. Tetapi tidak untuk mengambil bapak dari keluarga barunya. Beban bapaknya sudah sangat banyak.
"Kamu mau Mas bagaimana?"
"Dara..."
"Ra, mama telpon," Bagus masuk membuyarkan obrolan mereka. Danurdara menerima gawai yang diserahkan ayahnya.
"Halo, iya Ma," sahut Danurdara dengan suara parau.
"Kamu di mana?" Tanya Ajeng dari seberang terdengar sedang menangis.
"Kenapa Ma?"
"Susul Mama di rumah sakit, Hayu masuk dirawat,"
***
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)
ChickLitDanurdara Agni Pratista Cinta, silahkan berakhir dan pergilah! Aku tak butuh cintamu, tak terima pengkhianatanmu. Cukup bagiku jika kamu pergi menjauh Pengkhianatan, adakah kamu masih mau menghancurkanku? Bahkan ketika kau tabur itu lewat gen yang m...
