Danurdara bersyukur, akhirnya ibunya bisa mengerti keputusannya. Bahkan perempuan yang melahirkannya itu, sangat bersemangat segera mengakhiri hubungan resmi Dara dengan Dhimas.
"Tidak sudi aku punya mantu tidak setia," katanya getir.
Bagus menangkap nada marah istrinya. Maafkan aku Jeng, kamu yang menempatkanku pada posisi sulit. Seandainya dulu aku lebih berani melawan? Ah, seandainya itu tidak penting lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Dua puluh enam tahun telah berlalu, mereka sudah menikah dan mempunyai dua orang putri yang sudah tumbuh dewasa.
Setelah pembicaraan keluarga, mereka sepakat untuk bertemu keluarga Dhimas nanti malam. Bagus sudah menelpon calon besannya untuk membuat janji. Harsanto yang tidak tahu menahu masalah yang dibuat anak sulungnya, sangat antusias mendengar rencana kunjungan Bagus sekeluarga.
Tepat pukul enam, Bagus membawa sendiri kendaraannya meninggalkan rumah mereka. Ajeng duduk di sampingnya dengan wajah ditekuk, Danurdara dan Hayu duduk di belakang, diam tanpa suara. Mobil meluncur membelah malam, suasana sepi membuat Bagus tidak nyaman.
"Mama jangan cemberut gitu! Ingat rencana kita, bersikap biasa saja," Bagus membuka pembicaraan, mengingatkan istrinya.
Ajeng menoleh, laki-laki yang dicintainya menatapnya lembut. Mendapatkan perhatian dari Bagus membuat hatinya membuncah. Sudah lama, Bagus mengabaikannya. Masalah Danurdara ternyata memberi berkah untuknya.
"Betul kata Papa, Mama harus bisa bersikap wajar. Dara saja santai, ini jalan Tuhan buat Dara bisa melepaskan diri dari Dhimas," sambung Dara menyakinkan ibunya.
"Kamu tidak mencintai Dhimas?" Tanya Ajeng tidak enak hati.
"Dulu pernah cinta, lama-lama hilang seiring waktu. Dara tidak suka sifat buruknya yang mulai tercium sebelum pertunangan kami,"
"Kenapa mau bertunangan," sela Hayu. Ajeng terdiam, rasa bersalah kembali mengganggunya. Danurdara menerima pertunangan itu karena dirinya, dia yang memaksa anak gadisnya masuk dalam perangkap laki-laki muda yang berhasil memengaruhinya.
"Mama yang salah. Maafkan mama, Dara,"
"Sudah, tidak perlu membahas itu lagi. Kita hampir sampai. Di rumah kita sudah sepakat, akan saling menguatkan. Mama tenang ya, kita atasi bersama," potong Bagus mengakhiri pembahasan yang akan menyakiti istrinya lebih dalam.
Laki-laki itu sadar betul, perubahan sikap Ajeng karena kesalahannya. Kalau saja dia tidak mundur kembali ke masa lalunya, Ajeng akan tetap menjadi istri yang bahagia.
Mobil ford hitam Bagus memasuki komplek rumah keluarga Harsanto yang tidak kalah mewah dengan rumah mereka. Harsanto dan istrinya sudah menunggu di depan rumah berlantai dua itu. Keduanya lari tergopoh-gopoh menyambut tamunya begitu mobil berhenti. Penyambutan yang terkesan berlebihan.
Ajeng mendengkus kesal, muka sebalnya muncul kembali. Bagus menyentuh tangan istrinya ditepuk lembut beberapa kali.
"Tenang ya Ma, jangan gusar. Kita selesaikan baik-baik, untuk Dara," Ajeng mengangguk pasrah
"Dara, kamu sudah siap Nak?"
"Iya Pa,"
"Hayu, kamu tidak boleh terpancing ya. Pokoknya semua harus tenang," pesan Bagus wanti-wanti.
Semua mengangguk setuju. Secara bersamaan mereka membuka pintu mobil. Ibu Dhimas mencium Ajeng, mereka berpelukan sejenak. Harsanto menjabat tangan Bagus, diikuti Dara dan Hayu.
"Monggo silakan masuk. Senengnya kita bisa makan malam bersama," Harsanto mempersilakan tamunya masuk. Seperti tidak terjadi apa-apa, keluarga Bagus mengikuti tuan rumah.
"Silakan duduk Mas Bagus, Mbak Ajeng. Dara, kamu sudah ngabari mas mu mau ke sini?" Dara tersentak mendapat pertanyaan calon mertuanya. Dialihkan matanya pada sang ayah, Bagus mengangguk samar.
"Belum tante, Dara mau membuat kejutan," jawabnya basa basi.
"Oalah, jadi Dhimas gak tahu ya, pantas belum kelihatan batang hidungnya," Danurdara tersenyum kecut mendengar penjelasn perempuan paruh baya itu.
"Maaf, saya tinggal sebentar. Mau telpon Dhimas biar ke sini," pamit Hanum.
"Tidak usah Mbakyu, kami hanya perlu berbicara bisa dengan mbakyu dan Mas Harsanto," Kedua orangtua Dhimas berpandangan bingung.
***
Gubrak...
Hancur senyum keluarga Harsanto mendengar jawaban calon besannya.
Gagal deh punya mantu Danurdara...
Kasihan gak sih...
Wis ah... matur nuwun sudah baca tulisanku. Jangan lupa vote atau komen ya..
Salam literasi
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)
ChickLitDanurdara Agni Pratista Cinta, silahkan berakhir dan pergilah! Aku tak butuh cintamu, tak terima pengkhianatanmu. Cukup bagiku jika kamu pergi menjauh Pengkhianatan, adakah kamu masih mau menghancurkanku? Bahkan ketika kau tabur itu lewat gen yang m...
