Danurdara tersentak mendengar sindiran ibunya. Dia punya hubungan dengan laki-laki lain? Gak salah?
"Mama dengar apalagi dari calon mantu mama yang brengsek itu?" Balas Danurdara yang jelas menaikan emosi Ajeng.
"Jaga mulut kamu! Bahasa apa itu!" Suara Ajeng makin melengking.
"Dara tidak pernah bisa mengerti kenapa Mama selalu membela Dhimas. Mama tahu apa yang dilakukannya di belakang Dara? Bahkan di depan Dara?" Balas Danurdara tidak kalah tinggi. Keinginan untuk berbicara baik-baik dengan ibunya hanyalah sebuah keinginan jika berhubungan dengan laki-laki menyebalkan itu.
"Sebegitu hebatnya laki-laki calon mantu Mama itu? Tapi maaf, Dara tidak berniat melanjutkan pernikahan impian Mama," Ajeng kaget mendengar ucapan anak gadisnya. Bagus yang dari tadi hanya diam mendengarkan perdebatan istri dan anaknya menyela.
"Dara, apa yang terjadi?" Suara lembut ayahnya sedikit meredakan emosinya.
"Kami putus,"
"Dhimas mencintai kamu Dara. Kenapa kamu tidak mengerti juga," Danurdara tersenyum sinis.
"Cinta? Sayangnya Dara tidak percaya," sahutnya sesinis senyumnya.
"Kalian sudah bersama tiga tahun, sudah memutuskan bertunangan. Kenapa tiba-tiba ingin putus? Karena fotografer tidak jelas itu?" Sekali lagi Ajeng menyebut fotografer, Bagus terganggu dengan pertanyaan istrinya. Laki-laki itu tidak percaya anak gadisnya berlaku tidak benar.
"Siapa dia, Ra?" Pertanyaan ayahnya menyakiti hati Dara. Apakah Bagus juga tidak mempercayainya?
"Hanya rekan kerja, Pa. Mereka meminjam kafe untuk foto prewedding klien mereka, dan itu murni kerjasama," Danurdara mencoba menjelaskan.
"Kerjasama bisnis kok mesra," gumam Ajeng yang dapat ditangkap jelas telinga Dara.
"Mesra apa? Kata siapa? Dhimas! Maling teriak maling," Danurdara mendengkus kasar. Emosi semakin tidak terkendali melihat ibunya berhasil dipengaruhi Dhimas. Selalu saja begitu.
"Apa yang kamu mau katakan tentang foto ini?" Ajeng menyodorkan sebuah foto dari galeri di gawainya.
Danurdara mengeryit, didepannya terpampang foto dirinya dengan Damar. Sepertinya gambar itu diambil waktu Damar ke kafe mengantar foto kafenya, sendirian tidak dengan Bima. Dari mana Ajeng mendapatkan foto, Danurdara tahu pasti jawabannya. Dhimas! Tetapi siapa yang mengambil foto itu?
Kejadian di kafe, banyak orang juga. Tidak mungkin Putri, aha... Tasya. Pasti cewek kurang ajar itu yang melakukannya.
"Ra, kamu tidak bermain api kan?" Bagus bertanya ragu.
"Papa lihat deh, ini foto di kafe. Damar datang hanya mengantar foto kafe kita yang mereka ambil sebagai ucapan terima kasih. Ada banyak orang Pa, kalau Dara mau berlaku tidak benar gak mungkin kan di depan karyawan Dara," Bagus mengangguk-angguk paham. Penjelasan Danurdara cukup masuk akal, dia mengenal putri sulungnya ini dengan baik. Tidak mungkin anak gadisnya mempermalukan dirinya sendiri. Dara bukan Ajeng, yang akan menghalalkan segala cara untuk mendapat kesenangannya.
"Di tempat ramai saja kalian bisa sedekat itu, apalagi kalau hanya berduaan," Sungguh Danurdara tidak bisa mengerti pikiran ibunya. Setega itu, perempuan yang melahirkannya itu menyudutkannya.
"Ma, Dara anakmu. Kenapa bicaramu seperti itu?" Tegur Bagus pada istrinya.
"Anak kalau salah juga harus ditegur," sahutnya tidak senang.
"Bukankah salah Dara, salah kita juga? Berarti kita tidak bisa mendidiknya dengan baik," sambung Bagus yang membuat Ajeng terdiam.
"Tapi Dara salah Mas!" Suara Ajeng meninggi. Bagus menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dua puluh enam tahun mendampingi Ajeng, terkadang dia merasa lelah. Perempuan lima puluhan yang masih cantik itu selalu mau menang sendiri, tidak pernah bisa mengerti keadaan orang lain. Tidak juga pada kedua anak mereka. Keinginannya adalah hukum yang harus diikuti. Jika bukan karena mertuanya, Ajeng sudah ditinggalkannya ketika mereka belum sempat mempunyai anak.
"Kesalahan apalagi yang mau Mama jatuhkan?" Tantang Danurdara semakin emosi.
****
Pas 550 kata, ngantuk mau tidur dulu. Rasanya gimana gitu menuliskan perdebatan ibu dan anak. Habis gak pernah sih hehehe...
Makasih sudah baca.
Salam literasi
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)
Literatura FemininaDanurdara Agni Pratista Cinta, silahkan berakhir dan pergilah! Aku tak butuh cintamu, tak terima pengkhianatanmu. Cukup bagiku jika kamu pergi menjauh Pengkhianatan, adakah kamu masih mau menghancurkanku? Bahkan ketika kau tabur itu lewat gen yang m...
