Sinar mentari pagi menembus kamar tidurnya, menyilaukan mata Danurdara yang baru saja terbangun. Digulingkan tubuhnya ke kiri untuk menghindari sinar menyilaukan itu. Danurdara masih ingin bergolek, menikmati hari bebasnya.
Perasaannya sekarang jauh lebih baik dari hari kemarin. Tekadnya sudah bulat untuk menyelesaikan masalah dengan Dhimas secara baik-baik. Danurdara berencana pulang siang nanti, berbicara dengan orangtuanya dan orangtua Dhimas. Apa yang dilakukan laki-laki itu tidak termaafkan. Danurdara tidak mau mengikatkan diri dengan laki-laki yang sejak awal tidak setia.
Diraihnya gawai yang tergeletak di atas nakas, benda pipih itu diaktifkan. Begitu aktif, notifikasi pesan masuk silih berganti seperti kemarin. Semua pesan itu diabaikannya karena Danurdara sudah bisa menebak isinya. Ada satu pesan yang sempat mengelitik rasa ingin tahunya. Debar jantungnya kembali tidak normal.
"Sudah bangun?" Danurdara tersenyum membaca pesan super pendek itu. Beribu kupu-kupu berterbangan di perutnya, membangkitkan rasa yang tidak pernah ada bahkan saat dia bersama dengan Dhimas.
Danurdara belum ingin membalasnya, senyum tidak lepas dari bibirnya. Sekali lagi dia berguling ke kanan, mencoba mengusir perasaan aneh yang menguasainya. Mengingat lagi apa yang sudah mereka lewati semalam, pelukannya dalam bus wisata, bisikannya yang membuat debar jantungnya menjadi lebih cepat, hingga obrolan ringan mereka setelah mengakhiri petualangan tidak terencana itu. Tanpa disadari rona merah menjalar di pipinya. Jatuh cintakah dia?
Getaran benda pipih berwarna perak itu menyadarkannya. Dhimas.. diacuhkan panggilan itu. Puluhan kali pesan dan miscall laki-laki itu diabaikannya. Danurdara tidak mau memberi kesempatan kedua untuk pengkhianat itu. Dhimas tidak menyerah, panggilan terus diulang berkali-kali. Danurdara bergeming, sambungan terakhir langsung ditolaknya.
Drtt.. satu pesan masuk datang lagi. Danurdara semakin salah tingkah, dibuka pesan itu dengan berdebar.
"Bisa tidur nyenyak? Aku telpon ya?" Danurdara terpana membaca pesan dari laki-laki yang berhasil menggetarkan hatinya.
Tuhan, aku tidak selingkuh seperti Dhimas kan? Aku tidak merencanakan ini semua? Aku...
Monolog batinnya terputus oleh getaran gawainya lagi. Dipandangi alat komunikasi canggihnya tidak berkedip, betapa ingin dia mengangkat dan menyambut suara laki-laki yang mulai menguasai pikirannya. Keinginan itu tetap hanya sebuah keinginan. Sampai benda itu berhenti berbunyi, Danurdara hanya bisa diam.
Tuhan apa yang terjadi padaku? Dipegangnya dadanya yang berdetak lebih cepat. Perhatian kecil Bima memporakporandakan hidupnya. Apa maksud laki-laki itu padanya, bukankah dia sudah tahu aku sudah bertunangan? Banyak tanya yang tidak terjawab membuatnya menyerah.
Gadis itu beranjak dari tempat magernya, pintu balkon yang menghadap ke alam bebas dibuka lebar. Hawa sejuk menyerbu masuk, dirapatkan hoodienya. Danuradara mengikat rambutnya sembarang, menampilkan leher jenjangnya. Kemudian bergerak ke pantry kecil yang ada di kamar untuk memanaskan air. Gadis cantik itu masuk ke kamar mandi, sekedar mencuci muka dan gosok gigi. Setelah selesai, kembali ke pantry, menyeduh kopi dan membawanya ke balkon.
Diedarkan netranya ke alam terbuka, hijau dedaunan di puncak pohon yang menjulang menyejukan hati. Puas menikmati pemandangan jauh di depan sana, Danurdara duduk menikmati kopinya sambil membaca beberapa pesan masuj yang sudah diabaikannya. Hanya dibaca tanpa niat membalasnya.
Benda itu kembali bergetar, sebuah panggilan masuk. Rajasa calling.
"Dara, kamu di mana? Kamu baik-baik sajakan? Kenapa tidak pulang?" Pertanyaan beruntun dilontarkan laki-laki yang sudah dianggapnya sebagai saudaranya itu. Danurdara tahu, Rajasa mengkuatirkannya.
"Pagi Bang, tenang aja. Gue baik-baik saja. Sore nanti gue balik," jawabnya tenang.
"Bener kamu gak apa-apa? Kasih tahu kamu di mana, aku jemput?"
"Gak usah, gue gak apa-apa. Abang urusi kafe saja dan kasih tahu papa, gue baik-baik saja,"
"Kenapa gak ngomong sendiri?"
"Abang saja. Sudah ya Bang, gue mau mandi dulu," Sambungan telpon itu langsung dimatikan sepihak. Diembuskan napas kuat-kuat. Danurdara bukan tidak mengerti perasaan Rajasa padanya, tetapi dia tidak pernah bisa mencintai laki-laki yang dicintai sahabatnya.
Ting tong ting tong, bel pintu kamarnya berbunyi tepat saat sambungan telponnya berakhir.
"Siapa ya? Perasaan belum pesen sarapan?" Gumamnya sambil berjalan membuka pintu.
***
Dosa nggak sih Dara suka sama Bima, sementara urusannya dengan Dhimas belum selesai?
Kompleks ya.. Bima gak jadi pelariankan?
Lho lah.. authornya melu bingung... enake piye iki???
Salam literasi
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)
Literatura FemininaDanurdara Agni Pratista Cinta, silahkan berakhir dan pergilah! Aku tak butuh cintamu, tak terima pengkhianatanmu. Cukup bagiku jika kamu pergi menjauh Pengkhianatan, adakah kamu masih mau menghancurkanku? Bahkan ketika kau tabur itu lewat gen yang m...
