Tiga jam perjalanan, akhirnya Danurdara memasuki kawasan perumahan mewah di Jakarta Selatan. Satpam penjaga gerbang mengangguk hormat saat mobilnya melewati gerbang. Danurdara menyapa ramah sebelum berlalu.
Di depan rumah bercat putih gadis itu menghentikan mobilnya. Danurdara tersenyum lega, mobil ayahnya terparkir di depan. Meski tahu ibunya tidak akan semudah itu menerima pendapatnya, setidaknya ada ayahnya yang akan membantunya.
Danurdara segera keluar, sinar Matahari menyentuh kulit halusnya. Setengah berlari, gadis berbaju kotak-kotak biru itu membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Hal langka yang terjadi dalam rumahnya.
"Neng Dara sudah pulang," sambut mbak Lastri salah satu pembantu di rumahnya.
"Iya Mbak, papa dan mama ada Mbak?" Mbak Lastri mengambil tas bawaan putri sulung tuannya.
"Ada mbak, baru saja pulang dari gereja,"
"Terima kasih Mbak," ucapnya tulus.
"Neng..." panggilan mbak Lastri menahan langkahnya.
"Kenapa Mbak?" Tanyanya heran. Mbak Lastri menundukan kepala.
"Sudah pulang kamu?" Sebuah teguran sinis memecah kebisuan. Ajeng menatap anak gadisnya tajam Melihat suasana tegang antara nyonya dan putrinya membuat Mbak Lastri segera pergi meninggalkan tempat itu.
"Sudah berani tidak pulang ya? Belajar dari mana?" Danurdara membalas tatapan sinis ibunya.
"Dara anak mama, tentu saja belajar dari ibunya," sahutnya santai.
"Lancang kamu!" Teriakan Ajeng membuat Bagus dan Hayu menghambur ke ruang tamu. Mbak Lastri dan mbak Susi pergi menghindar karena tidak mau mendengar pertengkaran keluarga itu.
"Kenapa Ma?" Bagus mendekati istrinya yang sedang emosi.
"Lihat anakmu! Mas terlalu memanjakannya, begini akibatnya," emosinya berpindah kepada sang suami yang baru datang.
"Dara, kamu sudah pulang?" Bagus menghampiri anak gadisnya.
"Kak," Hayu memeluk kakaknya.
"Bela saja terus, sampai dia mempermalukan keluarga kita. Seperti tidak bisa mengajar anak saja," Ajeng semakin melihat Bagus dan Hayu menyambut Danurdara dengan lembut.
"Anak tidak pulang, Mama bingung. Sekarang sudah datang malah marah-marah. Kenapa tidak bicara baik-baik saja Ma," Ajeng mendengkus kesal lalu berbalik masuk ke ruang keluarga. Sekeras apa pun dia, akan cepat luluh dengan kelembutan Bagus. Kelembutan yang sudah jarang dia terima karena kesalahan masa lalunya.
"Yuk, kita bicara di dalam! Kamu baik-baik saja kan?" Danurdara mengangguk. Mereka berjalan beriringan ke ruang keluarga, tempat Ajeng menunggu dengan wajah ditekuk.
"Ada apa Ra, mau cerita sama Papa?" Tanyanya lembut. Danurdara menatap keluarganya bergantian. Ajeng masih menatapnya tajam, sebaliknya Bagus dan Hayu menatapnya iba.
"Sekarang Dara baik-baik saja, Pa. Dara pulang mau bicara baik-baik dengan papa dan mama,"
"Tentang?" Bagus bertanya ngambang.
"Dik, boleh tinggalkan kami. Mbak mau bicara penting sama mama dan papa," pinta Danurdara kepada adiknya. Hayu ganti menatap keluarganya, memastikan kakaknya akan baik-baik saja. Anggukan ayahnya membuat Hayu tenang, setidaknya dia tahu Dara aman dari amukan ibunya.
Sesaat keheningan melingkupi ketiganya. Ajeng tidak sedetik pun melepaskan pandangannya ke arah anak gadisnya.
"Pa, Ma, maafkan Dara. Hubungan Dara dan Dhimas sudah berakhir,"
"Apa maksudmu berakhir?" Tanya Ajeng gusar. Dhimas menantu yang diidam-idamkan akan mendampingi anak sulungnya. Kenapa Dara bilang berakhir?
"Dara tidak bisa melanjutkan hubungan dengannya lagi,"
"Kenapa, kamu ketemu laki-laki lain? Siapa, Rajasa atau dua fotografer itu?" Tanya Ajeng sinis.
Danurdara kaget Ajeng menyebut dua fotografer. Dhimas selalu selangkah lebih maju, pasti dia mengadu pada ibunya tentang Damar dan Bima. Kedua laki-laki itu hanya rekan bisnisnya. Mereka tidak mempunyai hubungan apa-apa. Betulkah tidak ada apa-apa antara dirinya dengan Bima? Laki-laki itu sudah menciumnya tadi pagi, membuat bunga dalam hatinya mekar sepanjang pagi tadi. Tiba-tiba dia menjadi malu, pipinya merona.
"Jadi benar kan kamu berhubungan dengan salah satu dari mereka?"
***
Aduh jadi gemes sama si mulut ember Dhimas. Ampun itu cowok, lemes banget yach...
Berhasilkah Dara menyakinkan ibunya?
Sabar... tunggu ya.
Salam literasi
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)
ChickLitDanurdara Agni Pratista Cinta, silahkan berakhir dan pergilah! Aku tak butuh cintamu, tak terima pengkhianatanmu. Cukup bagiku jika kamu pergi menjauh Pengkhianatan, adakah kamu masih mau menghancurkanku? Bahkan ketika kau tabur itu lewat gen yang m...
