Debate (2)

1.1K 108 0
                                        

       "Banyak, pertama kamu berhubungan dengan laki-laki lain padahal sudah bertunangan. Kedua,  kamu tidak pulang  semalaman. Kemana? Ketiga, kamu menutup semua akses komunikasi dengan kami. Apa yang kamu sembunyikan?" Tuduh Ajeng yang membuat mata indah Danurdara membelalak tidak percaya. Sedemikian burukkah aku di mata mama, jerit hatinya perih.

       Sakit, dadanya terasa sesak mendengat tuduhan ibunya, seolah mengatakan dirinya perempuan tidak benar.

       "Jaga ucapanmu! Dara anakmu sendiri, serendah itu dia dimatamu!" Bentak Bagus dengan wajah mengeras, emosinya pada sang istri semakin memuncak. Dia tidak rela anaknya dituduh seperti itu.

      "Mas.."

      "Cukup, dengarkan dia. Jangan terus mendengarkan kata-kata orang lain. Ingat, Dara anak kita dan kamu ibunya!" Penekanan demi penekanan yang diberikan Bagus membuat Ajeng terdiam.

       Danurdara tertawa sumbang. pembelaan ayahnya tidak juga mengurangi sakit hatinya pada sang ibu. Mengapa sangat sulit membuat ibu kandungnya mengerti apa yang dirasakannya sekarang.

       Usahanya untuk menerima Dhimas seperti yang Ajeng inginkan, ternyata memberi luka yang semakin dalam. Apa pun alasannya, gadis itu tidak bisa menerima perbuatan tunangannya.

        "Dara, sebenarnya apa yang terjadi. Ke mana kamu semalam?" Dengan lembut Bagus mencoba mencari tahu persoalan anak gadisnya.

       Danurdara membuka ponselnya, dikotak katik sebentar lalu disodorkan kepada ayahnya. Bagus menerima benda pipih itu penuh tanya. Dahinya mengeryit melihat apa yang terpampang di sana.

       "Kamu dapat foto ini dari mana?" Danurdara menggeleng lelah.

       Berminggu-minggu gadis itu menyimpan foto perselingkuhan Dhimas, membiarkannya begitu saja hanya karena masih berpikir mau menyenangkan ibunya. Apalagi melihat ibunya menangis dalam pelukannya beberapa waktu lalu. Mencoba menyakinkan dirinya, bahwa Dhimas benar-benar mencintainya. Tapi apa yang dia dapat?

        "Kapan kamu mendapat foto ini?"

        Mendengar nama foto, Ajeng ikut mendekat. Mengambil ponsel sang putri dari tangan Bagus. Matanya membelalak, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

       "Ini Dhimas?" Danurdara mengangguk.

       "Kapan?" Seperti suaminya, Ajeng juga ingin tahu kapan foto itu diterima putrinya.

       "Hampir dua bulan lalu,"

       "Kamu pernah bertanya pada Dhimas tentang ini?" Danurdara tersenyum miris, mana ada maling mengaku.

       "Kenapa tidak minta penjelasan?"

        "Mama pikir gampang membuat seorang pengacara sekaliber Dhimas mengakui kesalahannya hanya dari foto?" Ajeng dan Bagus terdiam, argumentasi Danurdara benar. Dhimas seorang pengacara handal, belum lagi ayahnya. Perlu kerja keras untuk membuktikan perbuatan itu.

       "Lalu, kenapa semalam..?"

       "Mama buka aja galeri Dara, banyak yang bisa Mama dan Papa lihat,"

       Ajeng kembali membuka galeri dari ponsel anak gadisnya. Kepalanya tidak berhenti menggeleng, jantungnya berdetak lebih cepat.

       "Duh Gusti, apa ini!" Teriaknya reflek melempar benda pipih itu. Tubuhnya merapat di sudut sofa dengan tangan memeluk tubuhnya sendiri.

        "Ada apa Ma?" Bagus tersentak melihat reaksi istrinya yang tidak terduga. Ditepuk pundak sang istri yang tiba-tiba seperti orang ketakutan.

       Danurdara mendekat, memeluk tubuh ibunya yang gemetar. Ajeng menggeleng tidak menjawab. Perasaan bersalah menyerangnya.

        Penasaran Bagus mengambil ponsel Danurdara yang tergelatak di lantai tidak jauh dari kakinya.

        "Kurang ajar, berani-beraninya Dhimas mempermainkan anakku!" Teriaknya marah.

        "Kubunuh dia!" Bagus tidak bisa menahan emosinya lagi. Laki-laki itu beranjak, tapi Danaurdara menahannya.

        "Pa, jangan! Dara tidak mau Papa masuk penjara karena laki-laki seperti dia. Cukup kita akhiri saja," Tegas Dara mantap.

       "Ada apa Pa, Ma?" Tanya Hayu menghambur masuk. Teriakan beruntun dari ruang keluarga membuatnya penasaran. Ditatapnya satu persatu wajah tegang anggota keluarganya, Tanpa tahu apa-apa, gadis itu ikut bergabung dengan ibu dan kakaknya.

       Bagus menatap putrinya dengan darah mengelegak. Tangannya mengepal, ingin rasanya menghajar laki-laki yang melukai anaknya.

      "Dara, maafkan Mama," bisiknya terisak.

                     ***

Asyik, akhirnya mama ngerti juga. Senengnya Dara dipeluk mamanya, aku kapan ya hahahha... gak punya mama kok minta dipeluk.

Satu jalan terbuka, apakah masalah Dara selesai. Jangan...Kalau selesai tamat dong... masih 39 hari lagi lho..

Tunggu konflik selanjutnya

Salam literasi

        

All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang