Dara terbangun, matanya mengerjap mencoba mengusir kantuk yang membuatnya tertidur di sofa. Lampu ruangan nya masih menyala, ditengoknya arloji di pergelangan tangannya. Sudah jam 6 pagi, sebentar lagi karyawannya akan berdatangan. Gadis itu mengeliat, menegakkan tubuhnya, mencoba membuang lelah tubuhnya.
"Arggg" Dara kembali mengeliat, lalu memiringkan tubuhnya, sebelum bangun.
"Mas Bima?" Mata gadis itu terbelalak. Bima tidur nyenyak dengan posisi duduk. Kaki panjangnya menekuk, tangannya terlipat di dada. Wajah tampannya terlihat tenang. Dara tidak berani mendekat. Detak jantungnya berkejaran, rindu.
Sejak kapan laki-laki itu ada di sini? Bagaimana dia bisa masuk? Pasti bang Rajasa yang memberinya akses. Sedekat apa pun mereka, Dara tidak pernah memberikan kunci kafe kepada Bima. Bukan tidak percaya, tetapi kafe bukan ranah pribadi yang bisa dibagi ke sembarang orang. Laki-laki itu memang memberinya akses ke apartemen, tapi dia tidak.
Perlahan Dara bangun, berjalan ke arah pintu, membukanya pelan, lalu menutupnya kembali. Gadis itu bergegas ke dapur. Sesaat Dara hanya diam di depan wastafel, dipandangi wajahnya di kaca yang terpampang besar. Pipinya terlihat lebih tirus, garis hitam menghiasi matanya. Apa yang sudah kulakukan? Aku harus bagaimana?
Dara menghela napas, sepertinya usaha menghindari Bima harus berakhir sekarang. Laki-laki muda itu setia menunggunya, mengabaikan sakit hatinya sendiri. Sepahit apa pun kenyataan harus dihadapi, Bima mengabaikannya. Laki-laki itu tetap setia menemaninya.
Dara tahu apa yang dilakukan Bima selama ini. Matanya tidak buta, untuk tidak menyadari kehadiran laki-laki itu disekitarnya. Tiga hari terakhir ini, Dara melihat kekasihnya mengikuti nya setiap pulang dari kafe. Itu alasan dia enggan pulang semalam. Kami dan ibu terlalu baik Mas, aku malu menerima kebaikan kalian. Perbuatan mama terlalu memalukan, dan tidak dapat dimaafkan. Tapi kenapa kalian tidak marah? Seharusnya Ibu marah, melepaskan penderitaan yang Mama torehkan. Biar aku lega, setidaknya berkurang bebanku.
Dara mendesah. Sikap Adriani dan Bima membuat posisinya makin sulit. Seandainya... Gak perlu berandai-andai Ra, terima saja kenyataan yang sudah terjadi. Fakta tidak bisa diubah, Bagus bukan ayah kandungmu, laki-laki itu ayah kandung Bima. Kekasih mu..
Gadis itu kembali mendesah. Kedua telapak tangannya merapikan rambutnya yang berantakan. Dipaksanya sebuah senyuman muncul dibibirnya yang pucat.
Dara bergerak mengambil dua buah cangkir, menyiapkan alat pembuat kopi, menyeduh kopi sesuai takaran kesukaan Bima. Sudah lama Dara tidak menyiapkan minuman kesukaan kekasihnya itu. Sambil menunggu, Dara membuat roti bakar. Perutnya terasa lapar, seharian kemarin Dara bahkan tidak sempat makan. Siang hari dia hanya mengisi lambungnya dengan pisang goreng keju, itu pun setelah dipaksa Rajasa. Spaghetti yang sudah disiapkan koki andalan nya itu, berakhir di perut Putri.
Setelah kopi matang, dituangnya ke dalam cangkir yang sudah disiapkan. Aroma kopi menguar, membuat perutnya makin lapar. Kopi dan roti sudah rapi tertata di atas nampan, Dara diam sesaat hanya memandang sarapan paginya. Itu sarapan kesukaan Bima.
Mereka sempat menikmati bersamaan yang menyiksa itu, setelah Dara tahu Bima anak ayahnya. Ketika keluarganya sibuk mengurusi Hayu, dan dia harus tinggal di apartemen laki-laki itu, setiap Adriani datang. Perempuan bijaksana itu menerimanya dengan baik, memanjakannya dan melindunginya, seperti yang dilakukannya kepada Bima. Sekarang kenyataannya berbeda, bagaimana dia harus bersikap?
Dara mengambil napas panjang, lalu menghembuskan perlahan. Mengumpulkan keberanian menghadapi Bima, laki-laki yang dirindukannya tetapi juga dihindarinya. Perlahan gadis itu mengangkat nampan sarapan yang sudah disiapkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)
ChickLitDanurdara Agni Pratista Cinta, silahkan berakhir dan pergilah! Aku tak butuh cintamu, tak terima pengkhianatanmu. Cukup bagiku jika kamu pergi menjauh Pengkhianatan, adakah kamu masih mau menghancurkanku? Bahkan ketika kau tabur itu lewat gen yang m...
