Twin

960 92 1
                                        

        Tepukan pelan di pipi membangunkan  danurdara. Matanya mengerjab mengadaptasi lampu yang sudah menyala terang. Layar besar di depan sana masih menampilkan nama-nama besar dibalik pembuatan film yang baru mereka tonton.

        "Sudah selesai?" Hayu tidak menjawab, wajah cantiknya ditekuk.

        "Maaf, kakak ketiduran," Gadis itu bergeming. Kejengkelan tampak jelas di wajahnya.

         Danurdara mengerti kemarahan adiknya, tetapi matanya lagi tidak mau bersahabat. Apalagi film yang mereka tonton bukan genre kesukaannya.

         Joker, film yang lagi naik daun itu menarik perhatian Hayu, tetapi bukan dirinya. Danurdara sangat tidak menyukai film horor atau yang bertema kekerasan. Setan kok ditonton, itu prinsipnya dari dulu. Tidak ditonton saja mereka sudah menguasai hidup manusia, apalagi jika kita terjerat pada pesonanya.

         Nonton itu menikmati, bukan teriak-teriak ketakutan. Itu pendapat pribadinya, tidak diizinkan matanya melihat yang tidak perlu dilihat. Ada banyak kamuflase roh kegelapan dengan berbagai cara, menjerat hidup manusia. Memaksa manusia untuk percaya dan takut pada bayang-bayang mereka. Ada juga ditebarkan sugesti tentang "kebaikan" dan keuntungan mengikuti ajarannya. Meski dalam dunia nyata, cerita seperti itu banyak. Danurdara hanya tidak mau terjebak didalamnya.

         Hari ini gadis itu terpaksa  mengikuti keinginan adiknya. Ujungnya, mata lelahnya langsung terpejam bahkan sebelum film dimulai.

        "Ayo keluar, sudah sepi. Petugasnya pasti mau membersihkannya," ajaknya pada sang adik yang masih manyun di kursinya.

         "Gak usah horor gitu, ke Louis Vuitton yuk? Kakak mau mencari sesuatu," Mata Hayu langsung berbinar, Danurdara tersenyum. Dasar sosialita..

         Kedua gadis itu meninggalkan ruangan berkursi merah yang sudah sepi itu dengan bergandengan tangan. Hayu sangat bahagia mendapat perhatian penuh dari kakaknya.

        Puluhan tas mahal yang terpajang rapi di rak toko, membangkitkan semangatnya. Hayu tahu, untuknya Danurdara tidak akan pelit mengeluarkan koceknya. Langkahnya ringan menyusuri toko, mencari tas yang sesuai dengan seleranya.

        "Kak, ini bagus gak?" Danurdara menggeleng. Modelnya terlalu tua untuk anak seusia Hayu. Gadis tujuh belas tahun itu mengcungkan jempolnya, masih banyak model yang bisa dia pilih.

       Beberapa pilihan Hayu yang lain tetap saja mendapat gelengan dari sang kakak. Gadis itu mulai jengkel, wajah cerahnya menghilang. Dengan kesal dia duduk di sofa yang tersedia di sana, sambil menatap Danurdara.

         "Mau ini gak Dik? Atau ini?" Danurdara menenteng dua buah model selempang unik. Hayu mengamati keduanya dengan mata menyipit.

        "Kalau kamu mau yang ini, kita kembaran

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

        "Kalau kamu mau yang ini, kita kembaran. Gimana?" Mendengar kata kembaran, wajahnya berubah sumringah. Kesempatan seperti itu tidak akan pernah datang dua kali. Tanpa berpikir panjang, Hayu langsung mengangguk.

        "Mbak, kami mau yang ini dua,"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

        "Mbak, kami mau yang ini dua,"

        Si mbak pramuniaga yang melayani mereka tersenyum ramah. Pelayanan terbaik merupakan salah satu hukum wajib buat pelanggan kelas eksekutif semacama mereka. Tas seharga $ 680.00, dengan sangat mudahnya mereka beli, langsung dua lagi.

        Orang-orang berduit memang royal untuk dirinya sendiri. Gadis manis berbaju seksi itu bahkan tidak bermimpi untuk bisa memiliki  tas seharga setengahnya sekali pun. Gadis itu menggelengkan kepala, membuang pikiran tidak pentimg itu.

         "Sebentar ya Kak, saya rapikan dulu. Silakan ke kasir sebelah sana," katanya mempersilakan Danurdara.

         "Mbak tunggu," Hayu menahan langkah si mbak.

         "Kak, boleh gak tasnya langsung kita pakai. Tas kita aja yang dibungkus. Boleh ya?" Katanya berharap.

         Danurdara dan mbak pramuniaga saling berpandangan. Seperti anak kecil yang baru mendapat mainan baru, belum sampai di rumah mereka langsung memainkannya. Begitulah ekspresi berharap yang diperlihatkan Hayu.

         Akhirnya Danurdara mengangguk, Hayu langsung memeluk saudara satu-satunya itu. Danurdara mengelus rambut panjang adiknya.

         "Terima kasih, Kak Dara baik deh," bisiknya yang membuat hati Danurdara menghangat. Ternyata adiknya begitu ingin dekat dengannya.

                      ***
Gayane author pamer tas mahal itu. Hiks kapan dapat hadiah tas sebagus itu yah???

Colek sapa ya biar dapat hadiah hahaha

All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang