Danurdara melajukan kendaraannya keluar dari Jakarta. Gawainya tidak henti berbunyi tetap diabaikannya, Dhimas tidak berhenti menelpon. Notifikasi pesan pun bersahut-sahutan, tidak mampu mengusiknya.
Toyota yaris super white dibawanya masuk sebuah hotel di Cisarua. Sejenak dia hanya diam didalam mobilnya yang parkir di basement. Kepalanya tertelungkup di atas stir, dipejamkan matanya mencoba mengusir pemandangan menjijikan yang sempat dia lihat. Dhimas dan Tasya berpelukan dalam keadaan telanjang bulat, Danurdara tidak bisa membayangkan perbuatan bejat yang sudah mereka lakukan sebelumnya. Untung dia tidak datang lebih cepat. Sebebas itukah Dhimas menjalani hidupnya?
Tiba-tiba perutnya mual, kepalanya sedikit pusing. Diliriknya jam dipergelangan tangan kirinya, jam lima dan perutnya belum terisi apa-apa lagi sejak sarapan tadi pagi. Pantas saja pusing.
Gawainya kembali bergetar. Diliriknya benda pipih yang sedari tadi tergeletak di kursi penumpang. Melihat nama ibunya dilayar, gadis itu mendengkus. Pasti si brengsek itu sudah melapor pada perempuan yang melahirkannya itu.
"Gak ada lagi kesempatan Ma, aku sudah mengakhirinya," gumamnya pelan. Diraih gawai dan tote bag berwarna coklat yang menemaninya dari pagi. Dia turun, mengunci pintu dan melangkah ke resepsionis.
"Selamat sore, ada yang bisa kami bantu," sapa resepsionis cantik ramah.
"Saya perlu satu kamar,"
"Silakan Ibu bisa memilih dari sini," Mbak petugas menyodorkan daftar kamar yang tersedia. Danurdara membaca sekilas, sebelum akhirnya memilih kamar deluxe dengan balkon. Dia hanya ingin istirahat, melepas kepenatan akibat ulah laki-laki yang mengaku mencintainya.
Sampai di kamar, dilemparkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya menatap langit-langit bercat putih, pikirannya mengembara ke masa lalu. Mengenang perkenalan pertama mereka lima tahun lalu, masa-masa masih di kampus. Bagaimana Dhimas mengejarnya, menyakinkannya menerima cintanya. Bagaimana mereka menjalani hubungan seperti naik turun seperti naik roller coaster selama tiga tahun terakhir. Danurdara sudah sering ingin keluar dari hubungan tidak sehat itu. Dia hanya tidak mempunyai bukti nyata, yang bisa mematahkan argumentasi pengacara muda itu.
Danurdara merasa sangat bodoh sudah mengabaikan keberatan sahabat-sahabatnya, Saras dan Rajasa. Juga menolak keraguannya sendiri yang selama ini membayangi langkahnya. Gawainya kembali bergetar, tanpa berminat membuka pesan yang sudah menumpuk dimatikan benda pipih itu.
Danurdara beringsut naik, mencari posisi enak untuk mengistirahatkan tubuhnya. Dipejamkan matanya mencoba mengusir semua pikiran yang mengganggu, sampai dia benar-benar terlelap.
Tidur nyenyak Danurdara terganggu karena bunyi bel pintu kamarnya. Dengan malas gadis itu bergerak membuka pintu, seorang bell boy berdiri di depan pintu membawa makanan pesananku. Diterimanya makanan itu dengan senang hati dan kembali menutup pintu.
Rasa lapar yang sudah ditahannya dari tadi membuatnya segera melahap nasi goreng pesanannya. Selesai makan, diraihnya gawai dan diaktifkan setelah beberapa waktu lamanya benda itu hanya membisu. Notifikasi pesan menyerbu masuk, belum sempat satu pun pesan itu dibuka satu panggilan masuk, Rajasa.
"Iya Bang,"
"Lo di mana? Semua orang bingung mencari Lo," serbu Rajasa dari seberang.
"Gue lagi pingin sendiri aja,"
"Kasih tahu lo di mana, gue temenin," desaknya ngotot.
"Gak usah, abang jaga kafe aja. Gue gak apa-apa, hanya pingin sendiri saja,"
"Ra, apa pun yang terjadi gue siap mendukung lo," Dukungan Rajasa membuat Danurdara menangis.
"Ra, jangan nangis! Dengar, lo terlalu berharga untuk menangisi laki-laki bajingan itu!" Seru Rajasa emosi. Hatinya tidak bisa menerima gadis yang dicintai diam-diam menangis karena laki-laki lain. Danurdara terlalu baik untuk disakiti.
"Ra, kasih tahu abang kamu di mana?" Laki-laki di seberang sana masih memaksa untuk bertemu.
Danurdara belum mau diganggu, tanpa permisi dimatikan sambungan komunikasinya dengan laki-laki yang dianggap seperti kakak baginya.
Maafkan gue Bang
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)
ChickLitDanurdara Agni Pratista Cinta, silahkan berakhir dan pergilah! Aku tak butuh cintamu, tak terima pengkhianatanmu. Cukup bagiku jika kamu pergi menjauh Pengkhianatan, adakah kamu masih mau menghancurkanku? Bahkan ketika kau tabur itu lewat gen yang m...
