Life is beautiful, begitu kata orang. Indah, jika mau melihat setiap peristiwa yang terjadi pada kita dari banyak sudut bukan hanya sudut negatif saja. Itu yang dilakukan Danurdara sekarang.
Lupakan Dhimas dan melangkahlah! Begitu pesan ayahnya padanya untuk melanjutkan hidup. Dari awal peristiwa itu terjadi, Danurdara bersyukur Tuhan menunjukan jalan terbaik dalam hidupnya. Cintanya pada Dhimas sudah luntur beberapa waktu sebelum kasus itu terjadi.
"Lo utang janji cerita, apa yang terjadi," Rajasa langsung mengejar begitu Danurdara masuk kantornya dua hari kemudian.
"Sabar kali Bang, baru juga datang. Harusnya Abang sama Putri ke sini kasih laporan bukan nodong gini," kilah sang empunya kafe.
"Gak usah ngeles. Kafe aman-aman saja, Putri kerja dengan baik. Cuma Tasya tidak pernah nongol lagi," Danurdara manggut-manggut.
Jelas dia tidak akan pernah datang lagi, sudah gue pecat, jawab Danurdara dalam hati. Putri benar, aku pelihara anak macan. Tetapi gadis cantik itu berjasa membebaskanku dari Dhimas, seharusnya aku berterima kasih. Sayangnya aku tidak dapat mempertahankannya di sini.
"Hey, malah bengong!" Danurdara tersentak.
"Lagi gak ada tamu Bang?" Tanyanya masih mencoba menghindar.
Sejujurnya Danurdara belum merasa nyaman membicarakan masalahnya. Dhimas masih mengganggunya dengan pesan-pesan yang tidak pernah dibalas atau telpon yang tidak pernah diangkat.
"Susah buat jawab ya?" Tanya Rajasa tidak enak hati.
"Jujur iya, gue belum siap Bang," Rajasa mengerti, bosnya memang tidak harus menjawab rasa ingin tahunya.
"Oke, anggap aja gue gak pernah tanya. Buat gue, yang penting lo baik-baik saja," Rajasa memutus keingintahuannya.
Danurdara pura-pura sibuk dengan pekerjaannya. Terhitung empat hari dia tidak memeriksa laporan keuangan dan stok yang dikirim Putri lewat email. Ada rasa tidak enak mendengar kalimat terakhir Rajasa.
Danurdara sangat paham, laki-laki yang tengah menatapnya saat ini mengkuatirkan keadaannya. Gadis cantik itu hanya belum siap bercerita tentang kandasnya hubungannya dengan Dhimas.
Rajasa sudah berulang kali mengingatkannya tentang keputusannya bertunangan dengan Dhimas. Sepertinya Rajasa dan Saras sama-sama menyimpan rahasia kebusukan mantan tunangannya itu. Mungkin mereka tidak tega menyampaikan hal itu padanya.
"Gue balik ke dapur. Tetap jaga kesehatan aja," Rajasa berbalik meninggalkan Danurdara.
"Bang, terima kasih sudah jagain gue dan kafe," ujar Danurdara sebelum Rajasa sempat membuka pintu.
Laki-laki berambut panjang itu berbalik, menatap gadis pujaannya dengan tersenyum. Danurdara ikut tersenyum, Rajasa merasa lebih tenang. Gue sayang sama lo Ra. Gue gak mau lo nangis, katanya dalam hati. Selalu hanya dalam hati.
"Ra, beneran tunangan lo bubar?" Tanpa mengetuk pintu Saras nyelonong masuk dan menyerbu sang empunya kantor dengan pertanyaan. Rajasa dan Danurdara sama-sama kaget.
"Ketuk pintu dulu kali Neng, untung kepala gue gak kejedot," timpal Rajasa sambil memegangi kepalanya yang hampir saja kecium pintu.
"Ups sorry, gak tahu," Saras jadi salah tingkah, hampir saja dia mencelakakan laki-laki yang disukainya.
Danurdara tergelak melihat wajah bersalah sahabatnya. Rajasa meliriknya sekilas, sebelum kembali menatap Saras yang menunduk malu.
Diam-diam laki-laki itu mencerna ucapan gadis yang sedang menunduk di depannya. Pertunangan Dara bubar? Separah itukah persoalan mereka sampai harus bubar.
"Bang, sudah dong lihatin Sarasnya. Kasihan mati gaya dia," ledeknya tertawa. Kehadiran Saras membuat moodnya membaik.
Saras mendongak, gerakan mendadaknya berefek magic baginya. Kini wajahnya tepat di bawah tatapan Rajasa yang menusuk. Saras terkesima, tidak sengaja gadis mundur. Lagi-lagi gerakanya salah, tubuhnya oleng, dengan sigap Rajasa menangkap tubuh berbalut kaos biru itu. Tatapan mereka bertemu, Saras segera sadar dan mengalihkan pandangan matanya. Semburat merah menjalar di pipi ranumnya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)
ChickLitDanurdara Agni Pratista Cinta, silahkan berakhir dan pergilah! Aku tak butuh cintamu, tak terima pengkhianatanmu. Cukup bagiku jika kamu pergi menjauh Pengkhianatan, adakah kamu masih mau menghancurkanku? Bahkan ketika kau tabur itu lewat gen yang m...
