"Sebenarnya ada jalan, transplantasi. Masalahnya..." jawab Bagus menggantung ragu.
"Masalahnya apa?" Bima minta penjelasan.
Keraguan ayahnya semakin membuatnya yakin maksud laki-laki di depannya itu.
Bagus mengembuskan napas perlahan, dadanya terasa sesak. Apa yang terjadi hari ini terasa berat buatnya.
Bertemu Bima adalah kebahagiaan yang lama ditunggu. Tetapi kenyataan Bima pacar Dara itu menyakitkan putri kesayanganya. Tiba-tiba Hayu sakit dan membutuhkan donor hati. Bima jugakah yang harus berkorban?
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Bagus menceritakan semua yang dikatakan dokter, termasuk keadaan keluarga mereka. Bima mendengarkan penjelasan ayahnya dengan seksama. Diabaikan kecurigaannya tentang keinginan sang ayah, yang akhirnya menjadi kenyataan.
"Itu satu-satunya jalan menyelamatnya," Bagus mengakhiri ceritanya dengan menyesap kopi yang sudah dingin.
"Bapak mau apa dari Bima?"
Pertanyaan to the point yang dilontarkan Bima membungkam Bagus. Jawaban apa yang harus diberikan apa yang harus diberikan pada anaknya itu?
"Bapak tidak tahu. Hanya ingin berbagi beban saja," jawab Bagus tidak yakin.
Bohong besar dia tidak berharap apa-apa dari Bima, jika kesempatan anak bungsunya sembuh ada di tangan putra sulungnya.
Bima tersenyum maklum. Akal sehatnya memintanya berpikir lebih manusiawi. Tidak perlu berpikir tentang sakit hati atau balas dendam. Selama ini ibunya tidak pernah mengajarkan hal itu padanya.
Pembalasan bukan hakmu, Tuhan yang mempunyai kuasa atas kita, Dialah yang berhak memberikan pembalasan buat pelanggaran kita, begitu pesan ibunya setiap kali dirinya marah atas ketidakhadiran ayahnya.
Amarah Bima memuncak saat duduk di bangku SMP. Masa pencarian jati dirinya sebagai laki-laki. Kerinduannya pada sosok laki-laki yang seharusnya menjadi panutan dalam hidupnya, membuatnya membetontak. Untuk pertama kalinya, Bima si anak penurut yang baik membuat ibunya menangis sedih.
"Bima hanya mau bertemu Bapak Bu, Bima mau lihat seperti apa laki-laki tidak bertanggumgjawab itu!" Teriaknya emosi.
Tadi pagi gurunya meminta ibunya datang ke sekolah karena Bima membolos. Kata-kata seorang guru tentang Bapaknya membuat jiwa laki-lakinya tersinggung. Siapa dia yang berhak menilai dirinya dan keluarganya. Sehebat apa guru itu mendidik anaknya, hingga merasa anaknya lebih baik dari dirinya.
"Ada apa Mas? Kenapa pulang langsung marah-marah?" Tanya ibunya lembut.
Perempuan cantik yang membesarkannya dengan penuh cinta itu tersenyum memeluknya. Bima mengeraskan hati, ditolaknya pelukan sang bunda yang biasanya sangat dia suka.
"Ada apa sih, kenapa anak ibu yang ganteng jadi marah? Ayo bilang, ada apa?" Ibu masih sabar merayunya.
Bima mengulurkan surat panggilan dari sekolah yang membuatnya marah.
"Apa ini?" Ibu mengambil lalu membukanya perlahan. Senyuman manis tersungging di wajah cantiknya.
"Tumben Mas bolos, main ke mana?" Bima bingung melihat reaksi ibunya. Perempuan itu sama sekali tidak marah. Ditepuk pundak putra kesayangan dengan lembut.
"Apa yang Mas ingin tahu tentang bapak, ibu sudah menceritakan semuanya. Bapak masih ada di suatu tempat. Suatu saat, Bapak pasti datang menemui kita lagi," Hibur Adriani yang hanya terus menjadi hiburan, karena sampai dia dewasa laki-laki itu tidak pernah datang.
Ibunya tidak pernah sekali pun menjelekan suami yang meninggalkannya untuk perempuan lain. Bahkan ketika keluarganya menyudutkannya sekali pun.
Masalah di sekolah diselesaikan ibunya esok harinya. Apa yang diceritakan Bima diklarifikasi kepada guru yang dimaksud putra, apa pun alasannya dia tidak suka ada yang menyakiti putranya.
Ternyata diam-diam, ibunya mengawasi kehidupan suaminya. Adriani tahu, Bagus mencarinya kemana-mana. Bertanya pada kerabatnya, tepat seperti yang tadi pagi ayahnya bilang. Semua bungkam, untuk memberi pelajaran pada laki-laki kurang berpendirian itu. Itu artinya, Bapaknya masih mencintai mereka.
****
Yes tiga part...
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)
ChickLitDanurdara Agni Pratista Cinta, silahkan berakhir dan pergilah! Aku tak butuh cintamu, tak terima pengkhianatanmu. Cukup bagiku jika kamu pergi menjauh Pengkhianatan, adakah kamu masih mau menghancurkanku? Bahkan ketika kau tabur itu lewat gen yang m...
