"Dhimas lapor apa ke Mama?" Sahut Danurdara jengkel. Matanya menatap tajam perempuan yang telah melahirnya. Emosi mengelegak dalam dada, dia tidak bisa mengerti mengapa mamanya selalu membela Dhimas. Sang ayah menepuk pundaknya pelan.
"Sejak kapan kamu berani melawan mama?" Ajeng melotot, tidak suka mendengar jawaban putrinya.
"Mama yang membuat Dara melawan. Setiap ada masalah dengan Dhimas, Mama selalu membelanya. . Apakah Dara bukan anak kandung Mama!" Teriaknya lantang. Ajeng dan Bagus tersentak mendengar pertanyaan anak gadisnya.
"Dara, apa maksudmu? Kamu anak kami Sayang," jawab Bagus sambil membelai lembut rambut Danurdara. Ajeng memperhatikan interaksi kedua orang yang dicintainya dengan hati sedih. Beberapa tahun ini dia sudah kehilangan perhatian suaminya.
"Mama yang mengandung kamu. Mama yang berjuang melahirkan dan membesarkan kamu. Mama ingin kamu bahagia, Dara. Lebih baik dicintai daripada mencintai," sahut Ajeng pedih. Luka hatinya terbuka lagi, kesalahan masa lalunya tidak membuatnya bahagia. Bagus menatap istrinya, dia tahu apa yang dirasakan perempuan yang memberinya dua anak perempuan yang cantik itu.
"Dhimas bilang mencintai Dara, Ma?" Ajeng mengangguk. Danurdara mendesah.
"Cintakah namanya, meninggalkan calon istrinya sendirian hanya karena seorang klien?"
"Itu pekerjaannya, bagi laki-laki pekerjaan itu penting. Beda dengan kita,"
"Apakah Papa juga melakukan itu pada Mama?" Bagus terdiam, pertanyaan putrinya menyadarkannya.
"Papa mencintai Mamakan?" Tanya Danurdara mengejar jawaban sang ayah. Ajeng tercekat, dadanya terasa nyeri. Tanpa mengucapkan apa-apa, Ajeng berlari masuk ke kamarnya, tidak sanggup mendengar jawaban Bagus. Danurdara menatap kepergian ibunya bingung, apa yang sebenarnya tidak dia tahu? Amarah Danurdara seketika luruh. Ada yang tidak beres dengan keluarga yang selama ini dianggapnya baik-baik saja.
"Pa.." Bagus memeluk putrinya erat.
"Maafkan papa," lirih Bagus di telinga Danurdara, yang membuat gadis itu mulai mengerti sakit yang dirasakan ibunya.
"Papa menikah lagi atau punya perempuan lain?" Danurdara berteriak marah. Bagus menggeleng tidak yakin, dia memang tidak menikah lagi, tidak mengkhianati Ajeng. Tetapi betulkah dia tidak mempunyai perempuan lain?
Danurdara menghela napas panjang, tanpa bertanya lagi dia berlari menyusul ibunya. Perempuan yang melahirkannya itu berbaring miring. Dada naik turun dengan cepat.
"Ma, maafkan ucapan Dara," Ajeng tidak menjawab. Gadis itu ikut berbaring, dipeluk tubuh ibunya dari belakang. Tangan Ajeng bergerak menangkup tangan anak gadisnya.
"Ma, maafkan Dara. Tapi Dara tidak bisa menerima perlakuan Dhimas seenaknya. Kalau belum nikah saja sudah begini, bagaimana nanti?" keluh Danurdara.
Tubuh Ajeng menegang, ucapan anaknya mengingatkannya pada masa lalunya. Seandainya waktu itu dia memakai logikanya dengan baik, rasa ini tidak akan pernah ada. Haruskah dia mendukung putrinya?
Tetapi Dhimas mencintai Danurdara, bahkan memujanya. Ajeng bisa melihat dari tatapan laki-laki muda itu. Diam-diam dia sering mengamati sikap calon menantunya ketika dia bertamu. Dhimas terlihat gelisah ketika berantem dengan Putrinya, ekspresi yang tidak pernah dia lihat dari Bagus.
"Ma..." Danurdana menarik tubuh ibunya. Ajeng tersadar, perlahan perempuan itu membalik tubuhnya menatap sang putri lekat. Putri sulungnya ini cantik, mandiri dan sangat bersahaja, sifat yang diturunkan Bagus laki-laki yang dicintainya sepenuh hati. Laki-laki yang menemani hidupnya 26 tahun ini.
"Dara, Dhimas mencintaimu, Mama yakin perasaannya padamu. Kalau dia melakukan kesalahan itu karena dia juga manusia. Dia masih muda, egonya masih sangat tinggi. Kita perempuan, harus belajar memahami pasangan kita," Nasehat Ajeng, seperti beberapa waktu yang lalu. Danurdara terdiam, mencoba mencerna ucapan ibunya dengan hati. Melihat interaksi tidak lazim kedua orangtuanya membuatnya semakin bimbang. Akankah perkawinannya berjalan baik-baik?
"Ma, apakah perkawinan itu hanya cukup dengan cinta? Apakah cinta pasti membuat kita bahagia?" Danurdara bertanya ragu. Kebimbangan diikuti ketidakpercayaan kepada Dhimas, membuatnya ingin berhenti melangkah. Mundur dari rencana indah yang laki-laki itu buat untuknya.
***
Semalam mau sekalian update part ini gagal, lagi-lagi ketiduran menjadi alasan klise. Hari ini bisa gak ya double update?
Mohon doanya ya Gaes, semoga mood nya masih lancar jaya.
Di luar panas banget, sepanas hati Danurdara hahahha...opo kuwi..
Salam literasi
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)
ChickLitDanurdara Agni Pratista Cinta, silahkan berakhir dan pergilah! Aku tak butuh cintamu, tak terima pengkhianatanmu. Cukup bagiku jika kamu pergi menjauh Pengkhianatan, adakah kamu masih mau menghancurkanku? Bahkan ketika kau tabur itu lewat gen yang m...
