Bima memacu motor sportnya membelah kota Jakarta. Hampir jam dua belas siang, jalanan mulai ramai. Keputusan menggunakan motor sangat tepat untuk mengantisipasi kemacetan.
Motor meliuk-liuk di tengah kemacetan, Danurdara berpegangan erat pada pinggang Bima. Kepala sang gadis terkadang bersandar pada punggungnya. Diam-diam laki-laki muda itu tersenyum bahagia.
"Ra, kamu takut?" Tanyanya saat mereka berhenti di lampu merah. Gadis itu hanya menggeleng, Bima menepuk pelan tangan Danurdara yang memegang perutnya.
"Pegangan yang kencang, kita mau jalan," pesannya yang dibalas tepukan di punggung.
"Kenapa?"
"Modus," Bima tergelak. Senang rasanya melihat gadis yang dicintainya tersenyum dibalik helmnya.
Motor kembali melaju, menembus jajaran kendaraan roda empat yang membentuk kemacetan panjang. Danurdara mempererat pelukannya, sejujurnya dia takut karena tidak pernah naik motor sport ala pembalap seperti itu.
Bima membawa kendaraannya masuk ke area Ancol, lalu berbelok ke Dufan. Wisata pemacu adrenalin, tempat orang dengan bebas bisa meluapkan emosinya.
"Oke, saatnya melepas ketegangan," katanya sambil membantu melepas helm yang dikenakan Danurdara.
"Bukannya mencari ketegangan Mas?"
"Kenapa, kamu tidak suka?" Danurdara tersenyum.
"Suka. Sudah lama tidak main ke sini. Ada kali sepuluh tahun," jawabnya memjelaskan. Mata cantiknya menjelajahi area sekitar yang sudah banyak berubah.
"Banyak yang berubah," gumamnya pelan.
"Tentu saja, sepuluh tahun itu waktu yang lama Neng," sahut Bima berbisik, tangan kekarnya merangkul pundak sang gadis. Danurdara melonjak kaget, tidak menduga laki-laki itu akan memeluknya.
"Yuk, mumpung sepi. Kita bisa puas berteriak," Mereka melangkah sambil bergandengan tangan meninggalkan tempat parkir menuju loket.
Danurdara tersenyum malu, sikap lembut Bima membuatnya merasa dicintai. Setelah mendapatkan tiket stempel, mereka masuk memulai petualangan adrenalin mereka.
"Mau apa dulu nih?"
"Kora-kora," jawab Danurdara cepat. Bima mengeryitkan dahinya, Danurdara ikut mengeryit.
"Kenapa Mas?" Tanyanya ragu. Laki-laki itu menggeleng pelan.
"Yuk!" Bima menarik tangan gadis pujaannya, setengah berlari mereka menuju wahana kora-kora.
Dufan di hari kerja tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa kelompok anak sekolah berseragam kaos, sepertinya mereka sedang berkaryawisata. Kenyataan ini tentu saja menyenangkan, pengunjung bisa bermain sepuasnya tanpa harus mengantre.
Bima membimbing Dara menaiki kapal yang akan memacu adrenalin mereka. Buat yang tidak tahan, awas aja mual. Mereka duduk berdampingan, saling menatap layaknya orang yang sedang jatuh cinta.
Tidak berapa lama, kapal berpasangan itu penuh, petugas mengintruksikan agar penumpang memasang sabuk pengaman. Bima membantu memeriksa sabuk pengaman Dara, gadis itu hanya tersenyum.
"Sudah siap?" Teriak petugas memberi semangat.
"Siap!" Teriakan penumpang menjadi pertanda wahana siap dimainkan. Perlahan wahana mulai bergerak, diayun seperti bayi, lama-lama semakin cepat dan cepat lagi.
Teriakan demi teriakan silih berganti, ada teriakan senang ada juga yang ketakutan. Dara ikut berteriak, kesempatan membuang amarah yang menguasai kepalanya. Saat kapal mereka terangkat, serempak tangan mereka angkat bersamaan dengan suara histeris para perempuan.
Pelan-pelan petugas menurunkan kecepatan hingga wahana kembali tenang pada tempatnya.
"Huuu," Seru kelegaan dan kekecewaan kembali bersautan. Dara menghela napas panjang, beban yang dia rasakan sedikit berkurang.
"Lega?"
"Belum, kita ke Niagara yuk!" Ajaknya bersemangat. Bima menurut, mereka melangkah meninggalkan kora-kora ke wahana Niagara yang tidak jauh dari situ.
Menaiki perahu berbentuk balok kayu, Bima mengambil posisi di depan untuk melindungi Danurdara dari guyuran air, tetapi gadis itu menolak. Sepertinya dia ingin melepaskan emosinya dengan bebas.
Melintasi sungai dengan perahu layaknya sungai Amason dengan diorama tentang kehidupan suku Indian di Amerika, memberikan ketenangan. Tangan Bima menangkup pinggang gadis didepannya, mengabaikan keberadaan penumpang lain di belakang mereka. Danurdara diam terlalu takut untuk merespon, jantungnya berdetak lebih cepat.
***
Deg-degannya makin menjadi itu. Luar dalam hahaha
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)
ChickLitDanurdara Agni Pratista Cinta, silahkan berakhir dan pergilah! Aku tak butuh cintamu, tak terima pengkhianatanmu. Cukup bagiku jika kamu pergi menjauh Pengkhianatan, adakah kamu masih mau menghancurkanku? Bahkan ketika kau tabur itu lewat gen yang m...
