Bagus tersenyum, menatap gedung Abadi Sejahtera Kontruksi, salah satu kompetitor terbesar perusahaannya. Dia mengenal William Tandayu si pemilik perusahaan, mereka dulu berteman lalu menjadi saingan. William sangat membencinya karena Ajeng lebih memilihnya, laki-laki beristri dan mempunyai seorang anak. Kebodohan tiada tara, padahal ada laki-laki lajang yang mencintainya.
Bagaimana mungkin, sekarang Bima ada disini. Apakah William tahu Bima anaknya dan akan menggunakan anak laki-lakinya untuk mengalahkannya? Bagus menggelengkan kepalanya. Tidak, William tidak akan berlaku seperti itu. Nyatanya sampai sekarang, laki-laki itu tidak melakukan apa-apa untuk menjatuhkannya.
Hari ini, dia datang bukan untuk William tapi untuk anaknya. Bagus bersyukur anaknya hidup dengan baik. Meski bukan dia yang membesarkan darah dagingnya. Adriani memang perempuan luar biasa.
Terima kasih Ri, kamu berhasil membesarkan anak kita, katanya dalam hati.
Bagus melangkah masuk ke dalam gedung berlantai sepuluh itu, seorang sekuriti menyapanya ramah.
"Selamat pagi Bapak, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau bertemu dengan bapak Bima," jawabnya sopan.
"Bapak Bima?" Sang sekuriti tampak berpikir.
"Bimasena Damar Narayana," sambungnya cepat. Mungkin di kantor anaknya dipanggil dengan nama lain.
"O pak Nara, sudah ada janji sebelumnya?"
"Belum Mas. Bisa bantu katakan kepada beliau, saya Bagus Adi Pratama ingin bertemu," katanya menyebutkan nama lengkapnya. Ada konsekuensi yang mungkin akan dia terima dari menyebutkan nama itu. Ditolak!
"Sebentar ya Pak, biar dibantu mbak Sari," Mas Sekuriti berbisik dengan resepsionis yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka. Gadis cantik bernama Sari tadi mengangguk lalu menelpon.
Bagus menunggu dengan sabar, 26 tahun waktu yang sangat lama untuk menunggu. Menunggu beberapa menit lagi tidak masalah baginya. Sejujurannya ada sedikit kekuatiran kalau-kalau Bima tidak mau bertemu dengannya. Bagus sadar betul, perbuatannya tidak pantas dimaafkan.
"Mohon maaf harus menunggu Pak," mbak Sari menyapa ramah begitu selesai menelpon.
"Tidak apa-apa Mbak, saya mengerti. Ini kesalahan saya tidak membuat janji terlebih dahulu," Gadis cantik itu tersenyum.
"Pak Nara nya sedang rapat tetapi kata mbak Ratri sekretarisnya, Bapak bisa menunggu di kantor beliau," Bagus tersenyum, bayang ketakutannya tidak terjadi. Bima tidak menolak kedatangannya.
"Silakan Bapak naik ke lantai 7, dari lift Bapak ke kanan. Di sana Bapak bisa bertanya ruangan Pak Nara," mbak resepsionis menjelaskan dengan ramah.
"Baik, terima kasih Mbak Sari," Bagus membungkuk hormat lalu berjalan masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai 7.
Ting, pintu terbuka, Bagus keluar mengikuti anjuran mbak resepsionis laki-laki itu melangkah ke kanan. Seorang gadis cantik menerimanya dengan ramah dan membawanya masuk ke dalam sebuah ruangan.
"Pesan Pak Nara, Bapak bisa menunggu di sini,"
"Terima kasih Mbak.."
"Ratri Pak, panggil saja begitu," sela gadis cantik itu sopan.
"Iya mbak Ratri, terima kasih," Ratri kembali tersenyum.
"Sambil menunggu, Bapak mau minum apa? Teh atau kopi?"
"Kopi saja, sekali lagi terima kasih,"
"Baik, saya tinggal sebentar ya Pak,"
Ratri keluar meninggalkan Bagus sendirian dalam ruangan Bima. Gadis itu tidak mengerti kenapa Nara memintanya mengantar sang tamu ke dalam ruangan pribadinya bukan di ruang tamu. Tidak biasanya, hanya orang tertentu yang boleh masuk saat sang bos tidak ada. Itu artinya tamu ini spesial bagi bosnya.
Bagus mengamati ruang kerja anaknya dari sofa cream yang diduduknya, warna sama dengan interior dan furnitur yang dia pakai di kantornya. Sepertinya mereka berdua sama-sama ingin menghadirkan seseorang dalam ruang kerja mereka, Adriani.
Klik, suara pintu terbuka mengalihkan pandangan Bagus. Dia pikir Ratri sekretaris Bima yang muncul, ternyata dia salah. Bima, anak laki-lakinya berdiri tegak di depan pintu dengan mata menatapnya tajam. Seketika Bagus berdiri, berniat menghampiri anaknya.
"Akhirnya Bapak datang juga," kata penyambutan Bima menghentikan langkahnya
****
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)
ChickLitDanurdara Agni Pratista Cinta, silahkan berakhir dan pergilah! Aku tak butuh cintamu, tak terima pengkhianatanmu. Cukup bagiku jika kamu pergi menjauh Pengkhianatan, adakah kamu masih mau menghancurkanku? Bahkan ketika kau tabur itu lewat gen yang m...
