Permintaan ibunya kali ini mempersulit Bima. Bagaimana tidak, perempuan yang melahirkan dan membesarkannya dengan penuh cinta itu memintanya membawa Dara untuk makan siang atau malam hari ini. Hari terakhit keberadaan ibunya di sini, besok pagi beliau akan kembali ke Semarang.
Pertanyaan nekatnya pada sang ibu di kafe Danurdara beberapa hari yang lalu, berbuah desakan untuk segera mewujudkan impian ibunya segera memiliki menantu. Bima senang, ibunya menyukai Danurdara bahkan sangat ingin segera meminang gadis itu untuknya. Tetapi Danurdara, apakah gadis itu mau menerimanya setelah apa yang dialaminya beberapa waktu ini?
Danurdara memang tidak pernah menolak kehadiran, menerima semua yang dia lakukan dengan tangan terbuka. Bahkan pagi itu, di kamar hotelnya, gadis itu membalas ciumannya dengan mesra. Membuatnya hampir kehilangan akal sehat untuk berbuat lebih. Untunglah waktu itu logikanya masih terkendali, hingga peristiwa yang mungkin akan membuat mereka menyesal tidak terjadi.
Dara bukan gadis murahan, Bima sangat yakin itu. Kepribadian baiknya dapat dilihatnya dari pertama kali mereka bertemu. Apa yang terjadi pagi itu, bisa jadi karena mereka terbawa suasana.
Bima menyentuh bibirnya. Masih dapat dirasakannya manis bibir Dara, lembut membalas ciumannya. Bima sangat yakin, Dara mempunyai perasaan yang sama dengannya. Gadis itu bukan tipe perempuan penggoda atau gampang tergoda. Dara punya prinsip, itu yang Bima suka darinya.
Ciuman mereka, mungkin hanya kekhilafan. Kekhilafan yang dia harapkan terulang lagi, entah kapan.
Bima menghela napas panjang, apa yang harus dia lakukan sekarang. Hubungan mereka berjalan lancar, beberapa kali mereka berkomunikasi lewat telpon. Tapi bagaimana caranya mengajak gadis pujaannya makan siang bersama ibunya?
Apa yang akan gadis itu pikirkan? Ketika dia belum menyatakan perasaannya kepada gadis itu?
Bima galau, sedari tadi gawai berwarna putih itu hanya dibolak-balik. Keinginan untuk menghubungi gadis mandiri yang menguasai hatinya belum juga dia lakukan. Telpon atau kirim pesan aja ya? Hatinya terus menimbang.
Bagaimana kalau Dara tidak mau? Ah...coba saja dulu, tekadnya dalam hati. Oke, lakukan sekarang Bima. Jangan ragu-ragu.
Benda pipih itu ditimang sekali lagi, ditekan nomor Dara dengan jantung berdebar. Hal tidak biasa buat seorang Bimasena yang terkenal cool.
Beberapa saat panggilan itu belum dijawab. Nada sambung tetapi tidak diangkat sampai panggilan berakhir. Bima mau redial lagi tetapi dibatalkan. Hari masih pagi, mungkin Dara sedang sibuk koordinasi dengan karyawannya, batinnya. Gawai kembali diletakkan di atas meja.
Laki-laki dua puluh delapan tahun itu bangkit dari duduknya. Dilempar pandangannya keluar jendela ruang kantornya, pemandangan suasana kota Jakarta lebih berkabut dari biasanya.
Drtt..gawainya bergetar, Bima melangkah cepat. Dara calling.
"Halo Ra," sapanya cepat. Dadanya kembali berdebar cepat.
"Pagi Mas, maaf tadi telpon tidak dapat Dara angkat. Lagi koordinasi dengan teman-teman," Benar dugaan Bima, gadis itu sedang sibuk.
"Lagi sibuk ya. Maaf sudah mengganggu," Basa-basi banget, Bim!
"Gak kok, biasa saja," sahut sang gadis dari seberang. Bima menghela napas panjang, menata hatinya yang tidak tenang.
"Ada yang bisa Dara bantu? Kayaknya ada masalah berat?" Berat banget Ra, aku kangen dan ibu mau ketemu kamu, teriaknya dalam hati. Hanya dalam hati, mulutnya seperti terkunci. Sesaat suara mereka tenggelam.
"Mas, ada apa ya?"
"Aku ke kafe boleh ya?" Hah! Pertanyaan apa itu! Kafe terbuka untuk umum, tentu saja boleh. Pakai nanya segala, umpatnya dalam hati. Entah kenapa, cinta membuat laki-laki cerdas itu bisa berubah bodoh.
Diseberang sana, Danurdara menjadi bingung dengan sikap aneh Bima. Jantungnya berdebar tidak beraturan, dan jadi salah tingkah sendiri. Padahal mereka tidak berhadapan, bahkan jarak berkilometer memisahkan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)
Chick-LitDanurdara Agni Pratista Cinta, silahkan berakhir dan pergilah! Aku tak butuh cintamu, tak terima pengkhianatanmu. Cukup bagiku jika kamu pergi menjauh Pengkhianatan, adakah kamu masih mau menghancurkanku? Bahkan ketika kau tabur itu lewat gen yang m...
