Twin (2)

977 93 0
                                        

        Danurdara mengurai pelukan adiknya. Airmata membasahi pipi Hayu.

         "Lho kok malah nangis, kenapa?" Hayu menggeleng, dengan lembut Danurdara menghapus butiran air bening itu. 

         "Adik kakak jadi cengeng gini sih! Kakak janji, akan meluangkan waktu lebih banyak untuk kamu. Dengan syarat, Sabtu dan Minggu bantu kakak di kafe. Ok?"

         "Boleh Kak?" Tanya Hayu tidak percaya.

         "Boleh dong, kakak malah senang kamu bantu," Hayu mengangguk setuju.

        "Jadi bagaimana Kak?" Pertanyaan si mbak menyadarkan mereka. Gadis itu masih menunggu dengan setia.

         "Maaf Mbak, keasyikan," Lagi-lagi si mbak hanya bisa tersenyum, meski hatinya iri melihat kemesraan kakak beradik didepannya. Bukankah pembeli adalah raja?

         "Tas yang ini langsung kami pakai. Tas kami saja yang dibungkus. Bolehkan?" Tentu saja boleh, asal sudah dibayar.

        "Tentu saja boleh Kak, silakan kita diselesaikan transaksinya. Saya persiapkan yang satu lagi," Danurdara mengikuti si mbak menuju kasir. Disodorkan kartu ATM nya untuk menyelesaikan pembayaran.

         Tidak berapa lama, si mbak kembali dengan dua tas yang sama.

         "Mohon dicek terlebih dahulu Kak," Danurdara melakukan saran kasir. Setelah yakin semua aman, mereka memindahkan barang bawaan mereka.

       "Terima kasih Kak, ini tas nya,"

       "Terima kasih," Hayu mengambil alih bingkisan yang baru saja diterima Danurdara. Sang kakak dengan senang hati melepaskan tanggungjawab menenteng bawaan itu.

       Keduanya keluar dengan wajah ceria. Kembali menyusuri lorong pertokoan highclass yang biasa Hayu nikmati.

       "Masih ada yang mau dibeli?" Tanya Danurdara setelah beberapa waktu berjalan.

        "Ada," jawab Hayu spontan.

       "Mau apa?" Langkah mereka terhenti. Mereka saling berpandangan.

        "Kakak ikut aja, Hayu yang traktir!" Jawabnya antusias. Matanya berbinar bahagia, sekilas senyum mencurigakan muncul.

        "Yakin?" Dahi Danurdara mengeryit, mencoba menebak apa yang dipikirkan adiknya.

        "Apaan sih Dik?" Tanpa menyahut Hayu menarik tangannya. Mereka membawanya masuk lift untuk turun ke lantai Lover Ground.

         Hayu mengajak Danurdara masuk ke Cold Stone Creamery, salah satu penyaji dessert creamy yang disukai anak muda. Seperti biasa, mereka mengambil tempat duduk di sudut.

        "Kakak tunggu sebentar," pesan Hayu lalu menghilang. Tidak lama kemudian, gadis itu kembali dengan dua porsi ice cream yang mengundang selera.

       "Tara...Nutty Caramel spesial untuk Kak Dara tercinta. Terima untuk hari ini, Kak," Tangannya terentang seperti layaknya seorang pramusaji.

       Danurdara tergelak melihat gaya adiknya. Hayu ikut tertawa, lalu duduk disamping kakaknya.

       "Terima kasih juga," Diciumnya pipi Hayu, mereka berdua tertawa lepas.

       Danurdara merasakan betapa indahnya kebersamaan. Sudah terlalu lama mereka sibuk dengan dunia masing-masing, hingga tidak menyadari ada yang hilang di sana.

       Dessert super lezat, campuran Peanut Caramel Ice Cream, Snickers, dan Peanut Butter itu mereka nikmati sambil ngobrol seru.

      "Dik, sudah malam. Pulang yuk! Besok kakak harus ke kafe pagi,"

      "Ada acara Kak?"

      "Iya, ada yang mau pakai kafe untuk ulang tahun anaknya,"

        "Hayu bantuin boleh?"  Danurdara mengacungkan jempolnya tanda setuju.

        "Siap bos, kita pulang sekarang," katanya dengan sikap hormat ala tentara.  Danurdara membalas salam adiknya sambil tersenyum. Hayu menggandeng Danurdara keluar dari situ..

        "Dara?" Panggil seseorang begitu keluar. Danurdara kenal suara itu, Bima. Benar, laki-laki itu berdiri di depannya dengan seorang perempuan paruh baya.

        "Mas Bima?" Siapa perempuan itu? Gak mungkin Bima.... ah gak mungkin! Danurdara segera memutus kecurigaannya.

        "Sama siapa?" Tanya Bima menyadarkan gadis itu.

       "Eh iya, ini Hayu adikku. Hayu ini mas Bima," Danurdara memperkenalkan mereka gugup. Mereka bersalaman sambil mneyebutkan nama.

       Hayu bisa menangkap ada yang tidak beres dengan sang kakak. Perempuan paruh baya yang masih cantik di sebelah Bima menyenggol laki-laki itu.

       "Ra, kenalkan ini ibu saya," Danurdara tersenyum lega.

                    ***

Indahmya sebuah kebersamaan. Bener yah, kumpul dan ngobrol dengan keluarga itu menyenangkan. Gak percaya, buktikan aja hehehhe...

      

All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang