"Hubungan kami sudah berakhir beberapa minggu lalu," lirih Danurdara seperti berbicara dengan dirinya sendiri. Damar dan Bima saling berpandangan.
"Kenapa? Dia kasar sama kamu?" Tanya Bima gusar. Melihat sikap Dhimas tadi membuat laki-laki itu langsung curiga.
Danurdara menggeleng. Dhimas memang brengsek, tetapi dia tidak kasar. Memang sifatnya berubah beberapa bulan ini, hampir tidak punya waktu untuknya, dan itu tidak bermasalah. Kekasaran Dhimas baru Danurdara lihat hari ini, bahkan sampai kalap. Mungkin karena cemburu melihatnya bersama Damar.
Bima masih sabar menunggu Danurdara, tatapan lembutnya membuat Damar gelisah. Bima menangkap kegelisahan sahabatnya itu.
"Kenapa Lo?"
"Gak apa-apa. Gue tunggu Samuel Risa diluar aja deh," katanya langsung berdiri.
"Aduh sorry Ra, gue telat. Klien gue rese," tiba-tiba Saras muncul membuyarkan kecanggungan perasaan Damar.
Gadis berambut panjang yang masih terengah, menatap ketiga orang di sekitarnya bergantian. Sahabatnya terdiam diantara dua laki-laki ganteng. Jangan-jangan...
"Kalian siapa? Dara Lo gak apa-apa kan?" Saras bergerak cepat mendekati sahabatnya. Bima berdiri untuk memberi tempat pada gadis itu.
"Gue gak apa-apa,"
"Yakin? Gue lihat mantan lo diluar. Kayaknya lagi emosi," ujar Saras kuatir.
Danurdara mendesah, pikirannya buntu. Semua terjadi begitu cepat, apa yang dilakukan dan dikatakan Dhimas melukai hatinya. Jauh lebih menyakitkan dibanding waktu melihat laki-laki itu tidur dengan karyawannya.
Kedua orangtuanya tidak pernah berlaku kasar, hanya Ajeng yang beberapa waktu ini bersikap sedikit ketus. Hanya ketus, tidak kasar.
"Kalian siapa? Ada apa dengan sahabat saya?" Tanya Saras pada kedua laki-laki yang ditemuinya bersama sahabatnya.
"Kami rekan bisnisnya, saya Damar dan dia Bima," Damar mengulurkan tangan, Bima hanya tersenyum tipis. Saras menyambut enggan tangan Damar.
"Ra, lo..."
"Gue gak apa-apa. Lo, kenapa lama baru datang?" Potong Danurdara mengalihkan pembicaraan. Ekspresi Saras berubah dengan cepat, mungkin gadis itu menyadari kesalahannya.
"Sorry, gue nemu klien menyebalkan. Tuntutannya aneh, gue jadi males ambil kasusnya. Tapi gimana ya, dokunya tebel hahaha..." Saras tertawa lebar. Danurdara melotot sambil mengerling ke arah Damar dan Bima.
"Ups, maaf kebiasaan," katanya malu-malu kucing.
Bima hanya menanggapi dengan senyum samar, Damar bergeming dalam diam. Kedekatan yang diperlihatkan Bima dan Danurdara merusak moodnya.
"Saras ini pengacara Mas, spesialis perceraian ya?"
"Enak aja," Saras melotot tidak terima.
"Sukanya ngurusi rumah tangga orang, padahal dirinya belum nikah juga,"
Tanpa perasaan Danurdara membuka aib sahabatnya. Tentu saja Saras tidak terima begitu saja.
"Kayak lo sudah? Tunangan aja batal!" Sungutnya emosi.
"Eits, gue gak ngurusi domestik keluarga orang ya," sahut Danurdara tidak mau kalah.
Bima jadi pusing melihat dua sahabat itu berdebat. Damar seperti tadi hanya diam sambil menikmati kopinya.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kalau kita pindah dari ini. Munpung ketemu, kita makan malam bersama," usul Bima mencoba memgakhiri perdebatan panjang Dara dan Saras.
Kedua gadis itu saling berpandangan. Saras mengedikan bahunya, pertanda tidak punya jawaban. Pengacara geblek, hobi kok abstain!
"Mas Damar tidak jadi ketemu klien?" Mendengar namanya disebut Damar memfokuskan pandangannya ke arah sumber suara. Danurdara menatapnya lekat, menunggu jawaban.
"Kayaknya gak deh, mereka membatalkan pertemuan di sini," Bima menoleh, Damar tersenyum pasrah.
"Mereka tidak jadi ke sini?" Damar mengangguk.
"Mereka salah masuk mall, sekarang mereka di seberang,"
Sebenarnya kliennya bersedia menyusul ke tempat mereka, tetapi Damar menolak. Pemandangan di depan matanya memaksanya bertindak cepat. Memisahkan kedua anak manusia dengan pandangan lembut yang membakar hatinya, dengan membawa Bima pergi dari tempat itu.
"Aduh jadi gak enak, kami harus pergi. Makan malamnya kita ganti kapan-kapan saja" sesal Bima mendengar penjelasan Damar.
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)
ChickLitDanurdara Agni Pratista Cinta, silahkan berakhir dan pergilah! Aku tak butuh cintamu, tak terima pengkhianatanmu. Cukup bagiku jika kamu pergi menjauh Pengkhianatan, adakah kamu masih mau menghancurkanku? Bahkan ketika kau tabur itu lewat gen yang m...
