Kepala Danurdara menjadi pusing, foto Dhimas dengan perempuan tidak baru sekarang dia terima. Selama ini dia masih menganggap wajar. Dhimas seorang pengacara, makan berdua dengan klien yang kemungkinan cantik, masih bisa diterima akal sehatnya. Tetapi ini? Tuhanku, dosa apa aku mempunyai calon suami seperti ini? Jeritnya dalam hati.
Danurdara tidak ingin emosi, dengan sabar dia menunggu laki-laki itu muncul. Tiga puluh menit berlalu, Dhimas belum ada batang hidungnya. Diketiknya pesan untuk playboy tengil itu.
"Mas, di mana? Aku sudah menunggu di butik" Lama pesan itu tidak berbalas. Danurdara menelpon kantor Dhimas, kata sekretarisnya laki-laki itu sudah keluar kantor dua jam yang lalu. Dua jam, seharusnya dia sudah sampai di titik temu mereka.
"Sayang maaf, mas ada janji mendadak dengan klien. Biasa kasus perceraian, agak ribet. Ke butiknya kita reschedule aja ya. Maaf, i love u," Sayang, kepala lo peyang. Danurdara mengumpat dalam hati.
"Aneh, tidak biasanya Dhimas menjawab sepanjang dan serapi ini. Pasti perempuan itu yang menulisnya," katanya pada dirinya sendiri. Beberapa saat gadis itu terdiam, menimbang tindakan apa yang harus dilakukan.
"Okey, saatnya pembuktian. Aku bukan gadis bodoh yang bisa terus kamu kadali, Dhimas Raka. Kita lihat siapa yang menang," batinnya yakin. Perlahan Danurdara membawa mobilnya menjauh dari butik, menuju tempat yang selama ini paling dia hindari, apartemen Dhimas.
Di mana pun laki-laki itu pergi, apartemen mewahnya akan menjadi tempat dia kembali. Danurdara hanya ingin menyelesaikan semuanya dengan jelas, tanpa kepura-puraan lagi. Apartemen menjadi tempat paling aman buat mereka berbicara.
Hampir satu jam berkendara, Danurdara sampai di apartemen mewah milik calon suami brengseknya. Tanpa bersusah payah, gadis itu bisa masuk ke sana. Dhimas pernah membawanya beberapa kali, kepada security dirinya diperkenalkan sebagai tunangannya. Fakta itu memudahkannya hari ini.
Lift membawanya ke lantai 21, Danuradara keluar, berbelok ke kanan. Di ujung lorong, kamar no 18 gadis itu berhenti sebentar. Memantapkan diri bahwa yang dikerjakannya benar.
Ada konsekuensi besar yang harus diterimanya jika memutuskan hubungan dengan Dhimas. Ibunya dan keluarga Dhimas, pasti akan marah besar. Pernikahan mereka tinggal tiga bulan lagi. Danurdara tidak peduli.
Ditekannya kode keamanan seperti yang dipesankan Dhimas. Laki-laki itu sangat ingin calon istrinya mau datang ke apartemennya dengan sukarela. Akhirnya saat yang dia tunggu itu tiba.
Perlahan pintu terbuka, Danurdara melonjak kaget kakinya menginjak benda yang tergeletak di depan pintu. Dengan tangan kiri, dinyalakan lampu ruangan. Cahaya yang bersinar sempurna membuat Danurdara semakin terkejut.
Baju-baju laki-laki dan perempuan berserakan di lantai sampai sofa. Danurdara limbung, untung masih bisa berpegangan sandaran sofa coklat muda tempat biasa mereka ngobrol.
Amarah menguasainya, dengan kesadaran penuh gadis itu berjalan menuju kamar Dhimas yang dia yakini ada penghuninya. Tidak ada suara berisik yang mencurigakan, jantungnya berdebar kencang. Pintu yang tidak terkunci memudahkannya melihat apa yang terjadi.
Tubuhnya gemetar, di depan matanya Dhimas calon suaminya tidur dengan seorang perempuan, saling berpelukan dalam keadaan telanjang. Rasa mual menyerang, akal sehatnya berlarian entah kemana. Danurdara mendekati pasangan mesum itu, melempar mereka dengan selimut yang tergeletak di lantai. Keduanya terbangun, langsung melindungi diri menyadari ada orang lain di antara mereka.
"Begini caramu melayani klien?" Sindirnya sinis.
"Kita putus dan kamu, jangan pernah menginjakan kakimu di kafe lagi. Kamu saya pecat!" Danurdara berbalik, berjalan cepat meninggalkan mereka.
"Sayang tunggu," Dhimas yang baru sadar, segera turun dari tempat tidur dan mengejar. Sementara Tasya, tersenyum licik dibalik selimut yang membungkus tubuhnya.
Danurdara berjalan cepat tidak peduli Dhimas mengejar. Tidak mungkin laki-laki itu akan mengejarnya keluar dalam keadaan telanjang. Kemarahan tak urung membuat airmatanya mengalir, pengkhianatan itu menyakitkan.
Danurdara langsung keluar begitu pintu lift terbuka, hingga hampir menabrak seseorang.
"Maaf," ujarnya membungkuk dan segera berlalu.
"Dara, tunggu!" Panggilan itu diabaikannya.
***
Gimana, seru gak?
Author ikut deg-degan nulisnya hehehe...
Siapa ya yang manggil Dara? Ah, rahasia maning rahasia maning...
Kudu dan harus wajib, kalau langsung kejawab kelar dong cerita, pan kudu 61 hari wkwkwk..
Maaf ya kalau kurang greget, gak pernah nulis yang agak ekstrim gini takut kualat.
Besok update lagi... sabar...
Salam literasi
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)
ChickLitDanurdara Agni Pratista Cinta, silahkan berakhir dan pergilah! Aku tak butuh cintamu, tak terima pengkhianatanmu. Cukup bagiku jika kamu pergi menjauh Pengkhianatan, adakah kamu masih mau menghancurkanku? Bahkan ketika kau tabur itu lewat gen yang m...
