"Akhirnya Bapak datang juga," kata penyambutan Bima menghentikan langkahnya.
Senyum sinis menghiasi wajah tampan anak yang dirindukannya. Bagus mengabaikan tatapan itu, wajar Bima membencinya. Setidaknya panggilan "bapak" yang keluar dari mulut anaknya membuatnya senang. Panggilan yang mengisyaratkan Bima mengakui siapa dirinya, meski Bagus sadar betul dia hanya laki-laki pengecut yang bersembunyi dibalik kata melindungi orang yang dicintainya.
Laki-laki muda itu berjalan mendekatinya, jarak mereka semakin dekat. Ada amarah di wajah anaknya, yang sangat mirip dengan Adriani perempuan yang sangat dicintainya.
"Untuk apa Bapak kemari? Mau menunjukan Bapak berhasil menemukanku?" Bagus menggeleng lemah. Bukan itu Nang. Bapak datang untuk menghentikan dosa baru karena kesalahanku, katanya dalam hati. Mungkin kedatanganku akan lebih menyakitimu.
"Ibumu sehat Nak?" Tanya Bagus mengabaikan pertanyaan Bima.
"Masih ingat Ibu to? Kirain sudah lupa, Bapak punya istri dan anak lain dari nona besar itu!" Sindir Bima tajam. Bagus menghirup napas panjang, dan diembuskannya perlahan. Dia butuh keberanian untuk mengatakan sebuah kenyataan.
"Sedikit pun Bapak tidak pernah melupakan kalian. Bapak tahu, yang sudah terjadi adalah kesalahan besar yang tidak termaafkan. Apa pun yang akan Bapak katakan, kamu tetap tidak akan percaya. Jangankan kamu, Bapak sendiri tidak percaya bisa meninggalkanmu dan ibumu, istri pilihanku sendiri,"
"Kenapa Bapak lakukan itu?" Kilatan amarah tampak jelas dimata Bima.
"Boleh kita duduk, bicara dengan tenang sebagai laki-laki?"
"Laki-laki? Sadar kalau bapak laki-laki," sungutnya kasar. Dihempaskan tubuhnya di atas sofa tidak jauh dari mereka berdiri tadi, Bagus menghela nafas lalu ikut duduk di dekat anaknya.
Dadanya bergemuruh, rindu membuncah dalam dada. Ada banyak hal yang ingin dilakukan bersama sang putra, tetapi Bagus harus bisa menahan diri, sekarang belum saatnya.
Keinginan memeluk laki-laki muda itu begitu besar, sekali lagi itu hanya sebuah keinginan. Bima adalah anak kebanggaannya, buah cintanya dengan Adriani, perempuan sederhana yang membuatnya jatuh cinta puluhan tahun lalu. Sampai sekarang rasa itu masih ada, dan semakin bertambah sejalan dengan waktu.
"Bima, Bapak minta maaf. Bukan karena meninggalkan kalian, karena Bapak tahu pasti kesalahanku tidak termaafkan," ujar Bagus mengulang permintaan maaf sebelumnya.
Bima diam menunggu, sepertinya ada hal yang lebih penting dari permintaan maaf itu.
"Maaf, Bapak terlambat datang. Bapak segera menemui kamu begitu tahu kamu ada disini dan kamu..." Bagus menahan ucapannya. Matanya menatap lekat anak sulungnya, kakak Dara dan Hayu.
"Saya kenapa?" Tanya Bima tidak sabar.
"Kamu tidak boleh mencintai Dara," ucapnya pelan tetapi cukup membuat Bima terkejut.
Dara, apa hubungan bapak dengan kekasihnya itu? Apakah bapak mempunyai anak laki-laki yang mencintai Dara? Apakah dia ayah Dhimas? Seketika amarah Bima memuncak. Pantas Dhimas bersikap seenaknya terhadap perempuan, bapaknya kayak gini!
"Kenapa tidak boleh? Karena Dhimas mencintai kekasihku itu?"
"Bukan itu Nak, bukan. Aku juga tidak mau Dhimas mendekati Dara lagi. Terima kasih sudah menjaga Dara dengan baik. Tetapi jangan mencintainya, karena dia juga anakku," Bima tersentak.
Dara, anak bapak? Berarti Dara adiknya? Apa pula ini, tega banget takdir mempermainkannya.
"Tidak mungkin! Bapak jangan bohong!" Bima terteriak marah.
"Itu benar. Kalian sadarah, satu ayah," jawab Bagus kelu.
Melihat respon Bima, Bagus tahu seberapa besar cinta kedua anaknya. Semalam Dara juga menunjukan reaksi cinta yang sama.
"Maafkan Bapak, tetapi itulah faktanya. Dara dan Hayu adalah adikmu," Bima mengerang marah.
Lakon apa yang harus ia perankan saat ini? Kenapa menjadi tragis kisah hidupnya? Puluhan tahun ditinggal pergi figur laki-laki yang seharusnya menjadi teladannya, sudah cukup menyakitnya baginya.
Baru kemarin, dia berani mengungkapkan perasaannya pada gadis yang dicintainya, bahkan melamarnya didepan ibuny. Sekarang apa? Kenapa harus Dara yang menjadi anak bapak, kenapa bukan gadis lain saja?
"Permisi Pak, mbak Daranya sudah datang," suara Ratri mengintrupsi ketegangan diwajah mereka berdua.
****
Aduh piye iki, maaf ya author sadis.
Eh ngomong-omong, author baru nyadar kalau ternyata sudah mau habis jatahnya. Tapi konfliknya kok belum kelar, gimana dong...
12 part lagi harus kelar.
Doain bisa motong kompas ya hehhehe
Salam literasi
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)
ЧиклитDanurdara Agni Pratista Cinta, silahkan berakhir dan pergilah! Aku tak butuh cintamu, tak terima pengkhianatanmu. Cukup bagiku jika kamu pergi menjauh Pengkhianatan, adakah kamu masih mau menghancurkanku? Bahkan ketika kau tabur itu lewat gen yang m...
