Gawai Dhimas kembali bergetar, laki-laki itu menatap kekasih sebentar sebelum meraih benda tipis yang terus bergetar itu dan menjauh. Danurdara menghela napas panjang, kelegaan beberapa waktu lalu seketika lenyap. Dari tempatnya, gadis itu menatap lekat calon suaminya. Ekspresi aneh tampak dari wajahnya yang berubah-ubah, sesaat tegang lalu tersenyum. Danurdara tidak bisa menebak apa yang dibicarakan Dhimas dengan penelpon di seberang sana. Terakhir, wajah itu kembali menegang lalu berbalik ke meja mereka. Dengan kasar dia duduk berhadapan dengan Danurdara yang masih memandangnya bingung.
"Ada apa Mas?" Tanyanya pelan. Dari wajah laki-laki itu gadis itu tahu kekasihnya sedang menghadapi masalah. Dhimas menatapnya tak bersuara, diraihnya tangan sang gadis masuk dalam genggaman tangannya.
"Sayang, maafkan Mas harus pergi sekarang. Klien mas menghadapi masalah. Kamu tolong ngerti ya," ujarnya terbata. Danurdara merasa ada yang aneh, apa yang disampaikan laki-laki itu berbanding terbalik dengan ekspresinya waktu menerima telpon tadi. Dhimas sempat tersenyum beberapa kali sebelun berubah menjadi panik. Selama mengenalnya, Danurdara tahu pasti laki-laki itu tidak gampang panik. Waktu adik bungsunya kecelakaan dan dalam kondisi kritis, dia bisa mengontrol sikapnya. Dialah yang berhasil mengatasi semua masalah mereka sementara orang tuanya limbung. Tetapi sekarang, tidak salah lihatkah dia? Laki-laki itu terlihat gusar dan kuatir.
"Sayang, maaf mas harus meninggalkan kamu sendiri. Kamu pulang naik taksi saja ya?" Dhimas beranjak dengan cepat, mencium kening calon istrinya dan berlari keluar. Danurdara terhenyak, tersadar dengan apa yang terjadi ketika laki-laki itu sudah keluar dari pintu restoran.
Danurdara bangun, mengambil gawai dari dalam tas mencari nomor kontak, kemudian menelpon sambil melangkah keluar. Sampai di pintu lift, sambungannya terjawab.
"Malam Bang, acara ulang tahun Sandra sudah selesai?"
"........."
"Oke, gue meluncur ke sana,"
"........"
"Gak apa-apa, makan malam kami sudah selesai" elaknya bohong.
"........."
"Sendiri aja, gue naik taksi. Oke, gue naik taksi sekarang," Danurdara mengakhiri sambungan tepat saat lift terbuka, dengan langkah cepat gadis itu menghampiri petugas vallet. Sebentar kemudian sebuah taksi datang, Danurdara bergegas masuk.
Taksi bergerak perlahan meninggalkan hotel setelah sang penumpang menyampaikan tujuannya. Danurdara mendesah pelan.
"Maaf, Ibu berbicara dengan saya?" Tanya pak driver.
"Eh enggak pak, maaf," jawabnya merasa bersalah.
"Ibu kelihatan capek, monggo kalau mau tidur. Saya akan mengantar Ibu sampai tujuan dengan selamat," ucap si bapak lagi.
"Kelihatan ya Pa?" Tanyanya balik.
"Ya kelihatan Bu, saya pernah kerja di hotel kecil. Saya banyak melihat wajah lelah atasan kami setiap pulang. Saya tahu kerja mereka berat," ujar pak Rahmat si driver.
"Pantas Bapak tahu. Bapak tahu tempat tujuan saya ini?" Tanya Danurdara menyakinkan.
"Insya Allah tahu Bu," si bapak menjawab sambil tersenyum. Danurdara mengamati laki-laki beruban itu dengan seksama. Tidak ada yang aneh, senyum si bapak juga wajar. Aku yang aneh, keluar dari hotel dengan wajah tidak bersemangat. Untung tidak dicurigai sebagai perempuan bayaran, atau sudah. Ah biarlah, Danurdara terus berbicara dalam hati.
"Saya tidak kerja di hotel tadi Pak, tetapi di kafe tujuan kita," jelasnya tidak perlu. Apa pentingnya menjelaskan siapa kita pada driver taksi yang tidak dikenal.
Pak Rahmat kembali tersenyum, diam-diam Danurdara lega melihat senyum laki-laki tua itu. Gadis itu menyadarkan tubuhnya santai. Pertanyaan besar yang sempat mampir dalam pikirannya tentang tingkah Dhimas kembali mengganggu.
Sehebat apa kliennya sampai calon istrinya menjadi tidak penting lagi? Ditinggalkan begitu saja di tempat yang dari awal tidak dia inginkan? Setelah dia sendiri dipaksa meninggalkan pekerjaannya? Perlahan matanya tertutup dan dia tertidur pulas. Saat terbangun, Danurdara sudah berada di depan kafenya.
"Sudah sampai Bu," ujar pak Rahmat. Danurdara mengerjap, matanya menangkap sosok Rajasa berdiri di depan pintu taksinya.
***
Maafkan janji double update tidak terlaksana. Ngantuk dan cuapek banget, sudah tepar dari sore.
Terima kasih yang masih setia membaca kisah Danurdara.
Salam
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Danurdara (LENGKAP Alias Tamat)
Chick-LitDanurdara Agni Pratista Cinta, silahkan berakhir dan pergilah! Aku tak butuh cintamu, tak terima pengkhianatanmu. Cukup bagiku jika kamu pergi menjauh Pengkhianatan, adakah kamu masih mau menghancurkanku? Bahkan ketika kau tabur itu lewat gen yang m...
