Spesial Edisi Manis : Juni & Kenzo

627 36 1
                                        


Kali ini, hidup Juni mulai berubah. Usaha yang membuat jati dirinya kembali normal, seseorang yang hadir dihidupnya mulai merasakan adanya kebahagiaan. Juni selalu bersyukur mengenai ini—apalagi ketika Juni telah dihadirkan seseorang yang sangat berarti untuknya. Mungkin, saat ini, Juni belum bisa apa - apa selain berterima kasih pada laki - laki yang sudah mengubah kesehariannya—pada rasa sunyinya maupun rasa bahagianya yang telah lama hilang.

Awalnya Juni memang tidak percaya apa itu definisi: kebahagiaan yang benar. Menurutnya, hari tidak akan menjadi baik jika diri sendiri tidak merasakan hari itu. Mungkin benar apa kata laki - laki yang saat ini menjadi miliknya—tidak ada satu pun seseorang yang tidak merasakan kebahagiaannya yang sempurna. Melainkan jiwa dan raga juga tidak ikut bersamanya.

Hari ini, Juni mulai tahu apa definisi itu dan apa makna dari kata itu. Dan mulai dari sekarang Juni akan berjanji pada laki - laki yang selalu menjadi dunia barunya terus berwarna dan menyaksikan masa depannya bersama - sama.

"Kamu tau, apa yang paling berharga dalam hidup ketika aku sudah memilih kamu?." Visual dari hati, Juni menyalurkan naluri bahagianya pada laki - laki yang tengah memandang manik mata indahnya

"Apa kalau boleh aku tau?"

Ucapannya begitu menenangkan. Seolah - olah angin semesta ini menyuarakan rasanya juga pada hatinya. Juni tidak bisa berteriak ketika hatinya terus mengalun dalam sendu. Bukannya labil ataupun ia tidak berani, hanya saja laki - laki itu terus membuatnya jatuh ke dalam perangkap hatinya dan membuat Juni tidak bisa melepaskan dirinya sendiri.

"Aku lebih bahagia ketika orang yang dulu tidak aku terima—dan saat ini lebih berusaha untuk meyakinkan aku 'bahwa kamu memang lebih pantas untuk aku." Seutas kepercayaan ketika Juni menyuarakan isi hatinya. Begitu sangat tentram sampai - sampai jemari tangan besar itu menyentuh permukaan wajah begitu lembut

Bibirnya mulai mendekat ke arah kening terbuka lebar. Semilir angin menerpa anak rambut yang membuat keningnya tertempel oleh rambut—lalu menyingkirkannya begitu manis, "Awalnya aku nggak percaya bahwa bidadari turun dari khayangan dan menetap di bumi. Tapi, semakin kesini aku semakin percaya bahwa Tuhan menciptakan kamu dengan rupa yang cantik dan mampu mencuri hatiku sampai aku mampu bertanggung jawab atas semua ini."

Sapuan tangan menerpa pipi tembem laki - laki di hadapannya, "Aku pun lebih percaya bahwa anak raja bisa memilih gadis biasa seperti aku, hehehehe." Seolah - olah terjebak oleh waktu, Juni benar - benar lupa oleh suasana manis yang terjadi pada halaman belakang rumah barunya

Pagi - pagi begini hatinya mulai berani gombal pada kekasihnya. Ia seakan - akan tidak peduli dengan laki - laki itu yang menganggapnya seperti apa. Mungkin yang laki - laki itu pikiran hanya satu: berubah sejak kapan dan mengapa mendadak jadi puitis seperti ini.

Ingin tertawa lebar - lebar, tetapi ia lebih takut ketika laki - laki itu murka lalu memberikan nasihat panjang kepadanya. Lantas Juni lebih memilih untuk memindahkan kepalanya diatas pangkuan laki - laki ini. Entah mengapa, rasa kenyamanannya lebih baik ketika berada disisi laki - laki ini. Mungkin hatinya benar, Tuhan tidak salah menciptakan rupa kekasihnya dan menetapkan pada dirinya untuk menjadi masa depan yang lebih baik.

"Kamu tau, apa bedanya semesta sama kamu?." Kenzo memang tidak gampang memberikan perumpamaan, tetapi kali ini, mendadak bibirnya mengatakan itu dan mulai berimajinasi pada khayalannya

Juni melihat wajahnya yang begitu manis, "Apa?."

"Semesta boleh dimiliki semua orang—tapi kamu, 'kamu nggak boleh dimiliki semua orang dan kecuali aku sendiri."

"Narsis banget sih, pacaranya siapaaa yang gemes gemes gemes ini!." Katanya yang begitu manja menarik anak pipi tembemnya seperti memainkan squishy

CERITA JUNI & JULI [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang