QOBILTU

3.1K 130 6
                                        

Jodoh, rizki, maut.
Semua sudah Allah tulis dalam setiap takdir manusia di Arsy Nya jauh sebelum kita di lahirkan.

2 jam kemudian...

Cklek

Seseorang membuka pintu dan masuk ke dalam, yang membuat ayah dan bunda menunjukkan senyum saat melihatnya, sedangkan aku? Penuh tanda tanya.

Seseorang itu terlihat sangat rapih dengan kemeja putih yang di timpah dengan jas hitam keren, celana panjang berwarna hitam lengkap dengan kopeah hitam khas orang mau menikah.

What?, menikah ?? Imposible!!mungkin dia hanya ada urusan dengan ayah dan bunda, tapi kok aku ngerasa pernah liat dia sebelumnya.

Dengan berfikir {P x L} Read: panjang kali lebar. Nafisah ingat, dia adalah dokter yang merawat bunda tadi, yang Nafisah tanyakan bagaimana keadaan bundanya.

Tapi anehnya kenapa dokter itu ganti pakaian dan dia datang tidak sendiri melainkan dengan seorang pria paruh baya dengan pakaian yang rapih juga tidak lupa beserta tas hitam yang ia bawa, tidak hanya itu 2 orang lagi datang yang sepertinya sepasang suami istri.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh" ucap salam darinya.

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh" jawab kami serentak.

"Irsyad, masuk nak!" suruh Amran pada dokter itu.

Oh jadi namanya Irsyad. Lumayan, tapi mau ngapain ayah manggil dokter itu segala? kayanya gak mungkin cuma buat periksa bunda doang, toh pakaiannya bukan pakaian dokter.

Terus itu siapa lagi bapak- bapak sama emak-emak ikut ikutan segala?, apa temennya bunda atau ayah?. Celoteh Nafisah dalam hati.

"Baik, Pak" ucap dokter itu penuh dengan hormat, dia berjalan menghampiri kami dan juga bapak-bapak sama emak- emak tadi.

"Panggil saya ayah saja!" Seru Amran lagi pada Irsyad.

"Baik, Yah" jawabnya.

What ayah?, sungguh Nafisah sangat-sangat tidak mengerti saat ini, mungkin otaknya sedang korslet kali ini, apa apaan manggil-manggil ayah, ih siapa lo siapa ?,hah!.

"Nah Afi, ini calon suami kamu " ucap ayah, seraya merangkul Irsyad.

Suami?, Calon? calon suami? Nafisah mimpi apaan sih semalem, kok jadi aneh gini?gila, Nafisah terkejut bukan main. Nafisah kira bundanya hanya bercanda bicara seperti tadi untuk menikahkannya, ternyata beneran.

"Hah? ini dokter yang tadi kan yah, yang rawat bunda?" Tanya Afi memastikan.

Ntahh kenapa saat ini perasaannya tidak tenang, rasanya tidak percaya. Oh tuhan secepat ini kah? Harus secepat ini? Afi kan masih kuliah.

"Iya sayang, dia calon imam kamu " ucap ayah lagi, namun bagai petir yang menyambar rasanya bagi Nafisah, kenapa harus nikah sama dokter tua itu sih, cari yang lebih kerenan dikit kek, agak kekinian kek, lah ini sama dokter tua, minimal pembalap lah, atau penyanyi, atau apalah itu.

Aaaaaa ... Nafisah gak mau sama dia, dia itu kolot, Norak, pasti penuh ceramah mulutnya, udah keliatan dari tampangnya, apalagi gaya pakaiannya.

Ditambah lagi Afi masih kuliah, agggrrr!! Afi masih ingin bermain, pesta pora, senang-senang,kumpul bareng teman, bukan harus membina rumah tangga, dan menjadi ibu rumah tangga yang sangat repot.

Oh tidak! ini bukan keinginan Afi, rasanya aku sudah tidak bisa membayangkan bagaimana jadi ibu rumah tangga, jangankan itu, baru memikirkannya pun Afi sudah bergidik ngeri.

Anta Habibi Ya ZawjiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang