Waktu dan alam begitu kejam
Hingga mulutku hanya mampu bungkam.
Saat suaramu yang begitu lantang
Menggema ke seluruh dinding yang menjadi saksi.
Netra yang sendu seolah mencari pembelaan.
Namun dinding kekecewaan terlalu menjulang tinggi.
Sehingga netra miliknya tak mampu melihat
Betapa memupuk-nya banyak kesedihan.
Tetesan bening yang meluncur
Hanya menjadi saksi bisu
Betapa sakit dan tersirat-nya hati ini.
Telunjuk-mu dengan sombongnya memberikan tuduhan
Atas apa yang tidak pernah aku lakukan.
Seluruh isi rumah seolah menertawakan
Atas luka ini dan kesedihan.
Bumi seakan berhenti berputar
Waktu seakan berhenti berjalan
Tak ada bukti yang mampu ku pamerkan...
Sedangkan Dia...
Menunjukan senyum kemenangan .
______
Tetesan air mata dengan sombongnya meluncur tanpa izin setelah bait terakhir pada sajak tersebut selesai Nafisah tulis.
Nafisah tertunduk lemas membiarkan hatinya meronta atas belati yang menusuk hatinya. Saat ini hanya air mata yang mampu mewakili perasaannya sekarang.
Rasanya sakit, hancur , perih, saat orang yang amat di percaya lebih mempercayai orang lain , bahkan menuduhkan semua tuduhan yang tak pernah di lakukan sama sekali.
Seburuk itukah aku di matamu mas!!
"Hikh...hikh...hikh..." Nafisah tak bisa menghentikan Isak tangisnya , hatinya terlalu sakit untuk menghentikan luka ini.
Tak bisa di jelaskan oleh kata kata apalagi jika harus mendeskripsikan-nya ,sudahlah... Hanya hati yang tahu.
Nafisah yang sedang duduk di bangku taman ,hanya mampu terpuruk dan menangis . Angin sepoi-sepoi malam sedikit menenangkan hatinya yang terlalu hancur.
Nafisah menenggelamkan kepalanya di meja taman dan menutupnya dengan tangannya untuk sekedar mengeluarkan semua air matanya.
"Minum dulu nyonya! " tiba tiba seseorang datang menghampiri Nafisah dengan membawakan secangkir teh hangat.
Nafisah mendongakkan kepalanya . " Yeti?"
Seseorang yang di panggil Yeti itu tersenyum dan mengangguk ." Iya nyonya, Yeti bawain teh manis hangat untuk nyonya, nyonya minum dulu yah !" Suruhnya seraya menaruh secangkir teh itu di meja.
Nafisah menghapus air matanya , dan meminum teh buatan Yeti.
"Makasih" ucap Nafisah setelah meminum beberapa teguk teh-nya dan menaruh kembali di atas meja.
"Iya nyonya sama sama, maaf nyonya sebelumnya , Yeti boleh duduk ?" Tanya Yeti dengan sopan.
Nafisah mengangguk ." Iya boleh kok"
"Makasih nyonya" Yeti mendaratkan bokongnya di bangku satu lagi yang kosong.
"Nyonya jangan sedih lagi yah, Yeti gak tega liat nyonya nangis terus, Yeti juga jadi ikut sedih !" Ujar Yeti . Nafisah hanya diam karena sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Jujur yah nya, dari awal yeti tuh gak suka banget sama non Sherin , semenjak nyonya ajak dia ke rumah ini , non Sherin jadi sering caper di depan tuan pas nyonya gak ada "
"Tapi Yeti bisa apa, dia kan temennya nyonya , dan semenjak kejadian sore tadi bikin Yeti makin gemes pengen ngacak-ngacak mukanya non Sherin deh nya !"
Mendengar ocehan Yeti barusan berhasil membuat Nafisah menatap Yeti terkejut ," kamu liat kejadian tadi?."
"Iya nyonya, maaf sebelumnya bukannya Yeti nguping , cuma gak sengaja kebetulan Yeti lagi lewat ."
KAMU SEDANG MEMBACA
Anta Habibi Ya Zawji
Novela Juvenil⚠️AWAS BAPER⚠️ (DALAM REVISI) Faiha Hana Nafisah. Seorang gadis dengan kepribadian tomboy dan keras kepala. Nafisah pernah di khianati oleh laki-laki yang ia cintai, dari situ Nafisah menjadi gadis yang hilang respect soal percintaan, dia friendly...
