Haykal menyiapkan keperluan untuk kuliahnya nanti di luar sana. Dari laptop, buku-buku, dan peralatan selebihnya.
Kegiatannya terhenti ketika mendapati sebuah buku yang terletak di paling pojok. Karena penasaran, dia mulai mengambilnya. Mulai membuka cover yang berwarna pink.
Sudah dipastikan ini punya perempuan itu. Karena penasaran, dia mulai membukanya.
Today's actions are the diary for tommorow.
-AM-
Dia ingin melanjutkan lembar kedua, tetapi tiba-tiba ponselnya berdenting.
Ting ting ting!
Haykal kembali menutup buku tersebut, lalu memasukannya ke dalam tasnya.
Ting ting ting!
"Apaan sih!?" kesalnya membuka ponselnya
yang terus berbunyi.Ganteng (5)
Maliq18+
Kal emgg lu jdii kuliah disanaa??Kenanjing
Woi kal!! Emg lu jdii njing??Ryanplusplus
HAYKAL!
Luu seriuss bangsdddNaufalanakombudi
Seblum lu pergi, kita hrus ketemu
Ada sesuatu yg harus kita ksih tauKenanjing
2inMaliq18+
3inRyanplusplus
4inHaykaljvn
bsk gw brngkat
klo mau ketmu di bndara ajRyanplusplus
ANJINGG LU SERIUUSSSSMaliq18+
GBLOG pasti lu nyesel sumpahKenanjing
Gw doain nyesel malahNaufalanakombudi
Gw nyesel relain aya sm luHaykal mematikan ponselnya. Segala hinaan terus diberikan kepadanya. "Nyesel? Gua lebih nyesel bisa nerima dia di hidup gua."
***
"Udah siap?" tanya Zavier pada Haykal yang baru saja turun dengan pakaian rapihnya. Tampan.
"Udah."
"Haykal, mama gak bisa anter ya. Adek lagi gak enak badan," Syena memberi kecupan dan pelukan pada putranya yang sebentar lagi akan meninggalkan rumah ini.
"Belajar yang bener di sana ya, jaga kesehatan, jangan terpengaruh sama budaya di sana, dan satu lagi, sering-sering telpon mama,"
Haykal membawa Syena yang sudah menangis ke dalam dekapannya. Untuk pertama kalinya dia meninggalkan keluarganya sendiri. "Jangan nangis, ma."
"Anak mama udah besar," Syena menangkup rahang tegas Haykal. Mencium kening putranya. "I love you,"
"Love you more."
KAMU SEDANG MEMBACA
Disappointed.
Teen FictionAku kecewa terhadap diriku. Aku kecewa terhadap logika otakku. Aku kecewa kepada semua yang ada dalam diriku. Aku kecewa karena hanya memikirkan diriku saja. Kesalahan terbesarku membuatku menjadi membenci diriku sendiri. Musuh terbesarku adalah aku...