Kau seperti senja, datang lalu pergi sesuka hati. Tapi kenapa aku tak pernah bisa untuk membenci? Justru rasa cinta ini yang malah semakin meningkat tinggi. Bergejolak hebat ingin memiliki.
• • •
Hari senin, hari paling menyebabkan bagi sebagian siswa. Dimana mereka harus berjemur diri demi memperingati para pahlawan. Mendengarkan pidato panjang, yang membuat telinga jengah. Bosan.
Bulan mengibaskan tangan di depan leher. Mulai mengeluh, "mo pingsan aja rasanya."
"Lo pura-pura pingsan aja. Terus nanti gue yang pura-pura panik." Agata menimpali.
"Gak bisa."
"Kenapa gak bisa?"
"Nanti kalo pas gue di gendong, guenya malah ketawa gimana? Terus kalo mata gue malah kedip-kedip gimana? Kan gak lucu."
"Ya lo tahan lah."
"Mana bisa! Lo kan tau gue paling anti kalo di pegang pinggangnya." Bisik Bulan, "lo aja yang pura-pura pingsan."
"Gak bisa!"
"Kenapa gak bisa?"
"Lo kan tau, nanti yang gendong gue pasti laki-laki. Nanti kalo gue malah emosi begimana? Kan gak lucu."
"Iya ya. Tapi kok kemarin lo digendong sama Rendra lo diam aja?"
"Kan itu emang pingsan beneran bego!" Geram Agata, membuat Bulan terkekeh.
"BULAN! AGATA! KALIAN NGAPAIN BISIK-BISIK?!"
Mampuss!
Bulan dan Agata meringis menoleh ke belakang dimana bu Tutik berada dengan penggaris plastik di tangannya.
"Aduh bu, maaf. Cuma ngobrol dikit kok." Bulan menjelaskan sambil cengengesan.
"Maaf maaf! Coba kalian sebutin apa yang Bapak kepala sekolah tadi sampaikan." Bu Tutik memukul-mukul penggaris di tangannya.
"Agata apa?" Bisik Bulan pada Agata.
"Gue gak tau." Agata balas berbisik.
"Ayo sebutin." Sentak Bu Tutik tajam.
"Hehehe, kita gak tau bu." Bulan meringis bersiap menerima amukan Bu Tutik. Satu... Dia.. Ti—
"Makanya kalo lagi upacara itu diem! Anteng! Dengerin! Jangan asik ngobrol sendiri. Kalo kalian capek, bosen. Kita para guru juga ngerasain itu. Jangan cuma mau enaknya doang! Upacara di adakan itu untuk menghormati jasa pahlawan. Tanpa pahlawan kalian gak akan ada di sekolah ini!" Nah kan bulan bilang juga apa.
"Iya bu." Saut mereka apa adanya.
"Ya udah baris lagi jangan ada yang ngomong." Bulan dan Agata kembali menghadap ke depan.
Kali ini menurut, dari pada kena semprot lagi. Beruntung kali ini mereka selamat, karena mereka tidak harus ikut berbaris di barisan anak pelanggar aturan. Iya semoga tidak.
"Bulan Ratu Charista!"
Bulan memejamkan mata saat namanya kembali di panggil. Tanpa ada pilihan, Bulan membalikan tubuhnya kebelakang. Beruntung Bulan ada di barisan paling belakang. Jadi tidak banyak siswa lain yang menonton.
"Iya bu?"
"Nama bagus-bagus. Tapi pakaian sama sekali gak ada akhlaknya."
Jlep. Tidakah kalimat itu terlalu kejam jika dilontarkan seorang guru kepada muridnya?
"Maaf Bu. Masalah ibu sama saya apa ya?" Bulan tidak bisa diam saja.
"Kamu masih tanya apa masalahnya? Kamu tau gak ini hari apa?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
GARIS TAKDIR
Teen FictionPantesan susah buat dapetin hati bumi. Orang bumi aja gak punya hati! • • • • Bulan cantik? Jelas. Bulan manis? Jangan di tanya lagi permen aja insecure lihat dia. Bulan pinter? Pasti, buku aja minder kalo di baca sama dia. Terus ada gak kekurangan...
