Aku pernah berjanji, cinta ini untukmu kekal abadi.
• • •
Angin dengan lembut menerpa kulit seputih kapas. Tawa manis yang terdengar merdu bergema pelan. Gemericik air terjun bersenandung tak berkesudahan.
Seorang gadis terduduk ditepi sungai. Kaki tanpa alas terbenam di jernihnya air susu. Berayun pelan menciptakan percikan air. Pandangannya mengarah kosong ke depan.
"Humaira, apa yang kamu pikiran? Ibunda lihat kamu tidak ikut bersenang-senang bersama kami." Sentuhan lembut menyadarkan dirinya.
Mata abu-abu mempesona menatap sendu wanita cantik dihadapannya.
"Bunda, mengapa aku tidak merasa bahagia?" bibir tipisnya bergumam lirih.
"Apa kamu merasa kesepian, putriku?" Wanita tadi perlahan keluar dari sungai.
Pakaian laksana kain putih selembut sutra membalut indah tubuhnya. Duduk disamping sang putri.
"Tidak, Bunda." Ia menampilkan senyum terpaksa, "aku senang berada disini. Ada bunda, itu lebih dari cukup."
Senyum wanita itu terbit, mengusap lembut pipi putrinya.
"Kamu tak bisa membohongi bunda, sayang. Apa kamu masih menyimpan sakit hatimu? Apa kamu masih tidak bisa merelakannya?"
Mata abu itu berpaling menatap pemandangan bagai permadani dikaki langit. Awan biru terbentang luas dengan buntalan kapas putih. Namun, sayangnya disini tidak ada pelangi yang Bulan inginkan.
"Aku rela, bunda. Hanya saja ini terasa kosong. Apa aku harus meminta Tuhan mengirim lelaki lain untukku, Bunda? Untuk mengisi kekosongan ini."
Wanita tadi tersenyum kecil, membawa anak rambut putrinya ke belakang telinga.
"Bulan putriku, mintalah Tuhan untuk mengirim dirinya padamu," ucapnya.
Bulan menggeleng pelan. "Tidak bunda, itu egois."
"Kamu gadis yang baik, Bulan. Tuhan tidak akan menolak permintaanmu." Tatapannya begitu menyakinkan.
"Benarkah, Bunda?" Wanita tadi mengangguk pelan.
Mencium lembut kening putrinya.
"Bunda akan pergi," pamitnya.
Bulan menyentuh tangan bundanya, tidak ingin dirinya pergi.
"Pergi kemana, Bunda? Bagaimana dengan Bulan?"
Charista menggeleng, kembali mengusap sisi wajah putrinya.
"Tidak, sayang. Kamu masih punya urusan disini. Setelah selesai kamu akan menemukan jalan pulangmu sendiri."
"Tapi, Bunda— disini luas dan aku hanya sendirian," panik Bulan, ikut beranjak dari duduknya.
"Tidak, Bulan. Tuhan tidak akan membiarkan hambanya sendirian. Percayalah pada-Nya, dia penulis cerita paling hebat."
Saat kalimat terkahir selesai diucapkan. Tubuh Bunda-nya terbang bersama para bidadari lain. Meninggalkan Bulan pada dunia yang seperti ia tempati sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
GARIS TAKDIR
Novela JuvenilPantesan susah buat dapetin hati bumi. Orang bumi aja gak punya hati! • • • • Bulan cantik? Jelas. Bulan manis? Jangan di tanya lagi permen aja insecure lihat dia. Bulan pinter? Pasti, buku aja minder kalo di baca sama dia. Terus ada gak kekurangan...
