Seperti ombak. Dari jauh kamu terlihat kecil dan tenang. Tapi saat aku mendekat kamu berubah besar dan ganas. Seolah menyuruh aku untuk segera menjauh. Aku tau kamu menolak kehadiran ku, tapi justru aku selalu ingin hanyut bersamamu.
• • • •
Mentari jingga mewarnai langit yang semula biru. Hembusan angin menerpa surai seorang gadis yang tengah memainkan jarinya di atas senar gitar. Menciptakan nada yang berganti-ganti.
Bulan menatap kosong langit jingga dari balkon kamarnya. Tubuhnya ada disana. Tapi tidak dengan pikiran dan hatinya. Semua kacau. Berkelana kemana-mana, dan sayangnya mereka pergi ke tempat yang tidak seharusnya.
Flashback on.
Bulan merentangkan tangannya ke atas. Tersenyum lebar sambil menghirup udara yang terasa sejuk tiba-tiba. Lalu kembali menurunkan tangannya, beralih memeluk perut Bumi, erat.
"Bumi, Bulan pikir Bumi bukan untuk Bulan. Tapi, kenapa Bulan selalu percaya bahwa Bumi akan menjadi milik Bulan?" Bulan mengatakan seperti itu, entah sadar atau tidak.
"Gue emang bukan untuk lo, Lan."
Bulan menggeleng, "jika pun bumi bukan untuk Bulan. Biarkan Bulan selalu bersama Bumi seperti ini."
"Gak bisa."
"Kenapa?"
"Karena garis takdir kita berbeda. Kita tidak akan selalu bersama seperti ini. Bumi bukan untuk Bulan."
"Maksud Bumi apa? Garis takdir apa yang berbeda?"
"Lo akan paham nanti." Bumi mengelus tangan Bulan yang ada di perutnya sebentar.
Membuat Bulan mematung.
Jantungnya berdegup kencang.
Tapi pikirannya masih sibuk mencerna ucapan bumi.
'Lo akan paham nanti.'
Paham akan apa?
"Jangan terlalu berharap sama gue. Gue gak akan pernah bisa jadi milik lo."
"Gue akan selalu berharap sama lo, Bumi."
"Lo akan sakit sendiri nanti."
"Bukannya gue udah terbiasa sakit?"
Bumi menghentikan motornya di pinggir jalan. Mungkin ini waktunya bagi Bumi untuk berbicara. Menurut papanya atau menurut hatinya. Bumi tidak tau.
Bumi turun dari motor di susul Bulan. Kini posisi mereka saling berhadapan. Mata mereka menatap lekat satu sama lain.
"Jika lo tau itu sakit, kenapa lo selalu mendekat dengan sakit?" Bumi menatap manik Bulan dalam.
"Karena Bulan yakin. Bumi akan menerima Bulan nantinya."
Bumi terlihat menghela napas, "kalo pun nanti gue bisa nerima lo. Gue gak akan pernah bisa sama lo."
KAMU SEDANG MEMBACA
GARIS TAKDIR
Ficção AdolescentePantesan susah buat dapetin hati bumi. Orang bumi aja gak punya hati! • • • • Bulan cantik? Jelas. Bulan manis? Jangan di tanya lagi permen aja insecure lihat dia. Bulan pinter? Pasti, buku aja minder kalo di baca sama dia. Terus ada gak kekurangan...
