Sekarang aku tau. Badai itu telah aku jumpai. Tak bisa lagi aku lihat apa-apa. Kecuali bayanganmu yang terus menjauh. Kini kita berada digaris takdir yang benar-benar berbeda.
• • •
Bulan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi agar dia bisa sampai lebih cepat. Ponselnya sedari tadi menyala. Dan nama yang tertera tetap sama, Agata. Entah apa yang Agata mau, tapi sedari tadi dia terus mencari keberadaannya.
Bulan yang mulai kesal mengangkat telepon itu.
"LO DIMANA, ANJING!" sentakan keras yang kali pertama menyambutnya.
"Dirumah," bohong Bulan.
"Bohong lo. Sekarang gue kerumah lo. Tapi kata Bi Nur lo pergi. Lo pergi kemana?"
"Lo gak perlu tau."
"Jangan ke sana! Gue bilang jangan ke Bogor Bulan! Balik!" rancau Agata panik.
"Maksud lo apa?"
"Bulan gue serius!"
"Gue juga."
Bulan mematikan ponsel itu. Lalu segera melemparnya sembarangan. Hingga mengenai kontak berwarna navy yang menjadi hadiah ulang tahun Bumi.
Tujuan dia akan tiba sebentar lagi. Tinggal tiga menit terakhir. Bulan semakin fokus dengan jalanan. Tapi suara deringan ponsel memecah fokusnya. Bulan mendesah kesal, kenapa dengan Agata itu.
Bulan langsung mengernyit bingung saat mendapatkan ternyata Om Riddle yang meneleponnya.
"Hallo om, kenapa?"
"Bulan, jangan ke alamat itu!" teriak Om Riddle terdengar panik.
"Tapi, kenapa?"
"Ka-karena Om salah memberi alamat."
Bulan menggeleng, tak bisa dipercaya. Dia tau Om-nya menekuni dunia detektif lebih dari puluhan tahun. Jadi tidak mungkin dia salah. Bulan tidak percaya itu. Tapi dia memilih pura-pura percaya.
"Oh ya udah Om gapapa. Biar Bulan sekalian nginep disana aja. Soalnya udah mau malem juga," alibinya.
"Om bilang pulang ya? Bulan dengerin om-"
Tapi Bulan lebih dulu mematikan ponselnya. Semua orang melarangnya ketempat itu. Membuat rasa penasaran semakin bertambah. Lagipula darimana Agata tau dia akan kesana? Dia tidak memberitahu siapapun atas kepergiannya. Ya, kecuali Om Riddle.
Bulan memasuki halaman hotel yang terkesan luas. Menuju tempat parkir yang terlihat ramai. Hingga Bulan kesusahan mencari tempat parkir.
'Rame ternyata,' batinnya heran.
Bulan melangkah keluar mobil. Sedikit menata rambutnya. Lalu membawa ponsel, dan kontak kado berwarna navy yang terikat pita dengan rapi.
Bulan melangkah anggun, tidak ingin terlihat bodoh dikota orang. Saat ingin memasuki pintu dirinya di cegat oleh seorang bodyguard.
"Tunjukkan kartu undangan," ucapnya.
Bulan dibuat bingung, "Undangan apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
GARIS TAKDIR
Teen FictionPantesan susah buat dapetin hati bumi. Orang bumi aja gak punya hati! • • • • Bulan cantik? Jelas. Bulan manis? Jangan di tanya lagi permen aja insecure lihat dia. Bulan pinter? Pasti, buku aja minder kalo di baca sama dia. Terus ada gak kekurangan...
