35| Garis Takdir

1.1K 97 1
                                        

Ternyata lo lebih brengsek daripada gue.
• • •

Warna putih mendominasi ruangan ini. Bau obat-obatan tercium pekat. Membuat siapa saja tidak betah bertahan disini. Agata bangun dari pingsannya. Mencoba memutar memori atas apa yang menimpa dirinya.

"Lo udah bangun?" Suara yang cukup familiar terdengar oleh Agata. Ia menoleh menemukan Rendra diambang pintu.

"Lo ngapain disini? Gue ngapain disini dan gue kenapa?" Agata bertanya lirih.

"Lo kecelakaan tadi, dan untungnya gue lihat. Ya udah gue bawa aja lo ke rumah sakit." Kilatan kejadian berhasil ditangkap oleh agata, hingga dia hanya bisa mengangguk mengerti. Saat sepeda motor yang ia tumpangi terjatuh karena lubang yang cukup besar dan tidak sempat ia sadari.

"Makasih." Agata tersenyum tulus.

"Iya, gue pergi sekarang. Nanti Bulan ke sini." Rendra berkata datar, hendak pergi dari sini namun ditahan oleh Agata.

"Tunggu Rendra, gue mau jelasin."

"Gak ada yang perlu dijelasin. Karena gue dan lo gak ada apa-apa."

Balasan Rendra menancapkan ribuan jarum dihati Agata. Seperti ini kah rasanya ditolak sebelum berjuang? Sakit.

"Lo benci banget ya sama gue? Kenapa? Apa karena gue udah gak suci lagi, iya?"

" Itu lo tau jawabannya. Kenapa mesti tanya lagi?"

Rendra tak peduli ia tetap melangkahkan kakinya untuk pergi. Namun perkataan Agata selanjutnya membuat langkahnya tertahan.

"Dra, jika pun gue bisa milih takdir gue sendiri. Gue gak bakal milih takdir yang kaya gini. Tapi gue bisa apa? Kalo takdir gue emang digaris bawahi seperti ini. Mau tidak menerima pun semuanya udah terjadi.

Gue kadang tanya sama Tuhan. Kenapa bisa takdir gue semenyakitkan ini? Kenapa takdir gue yang paling buruk diantara yang lain? Gue selalu tanya akan hal itu. Bukan hanya pada Tuhan saja, tapi semua orang. Lalu apa yang gue dapat? Gak ada, semuanya bungkam hanya bisa menatap gue dengan sorot sendu dari mereka.

Gue benci dikasihi. Gue gak butuh belas kasihan mereka. Gue hanya butuh jawaban. Agar gue bisa menerima semuanya. Jika Tuhan bilang ini adil. Maka gue gak terima keadilan ini. Jika semua orang bilang ini takdir. Maka gue benci sama takdir gue sendiri. Silahkan lo pergi. Karena lo bukan salah-satu takdir gue, Hadden Rendra Padantya.

Karena apa? Karena gue suka sama lo. Tapi seperti yang gue bilang tadi gue benci sama takdir gue sendiri. Jadi lo bukan takdir gue, Rendra. Karena takdir gue adalah apa yang gue benci bukan yang gue suka."

Rendra diam mematung mendengar semua perkataan Agata. Dia tau Agata sedang menangis sekarang. Terdengar dari suaranya yang semakin lirih.

"Sana pergi! Kenapa masih diam di situ? Kasihan sama gue karena gue nangis gini? Udahlah basi, sana pergi. Gue gak butuh lo disini."

Rendra melangkahkan kakinya dengan perasaan campur aduk. Ia membuka pintu lalu terkejut melihat penampakan Bulan disana.

"Lo manusia bodoh yang pernah gue kenal, Rendra." Bulan berkata pelan namun tegas tepat ditelinga Rendra sebelum berlalu.

Bulan mulai memasuki kamar dimana Agata dirawat. Dilanjutkan teriakan pura-pura terkejut dari Bulan. "Agata kenapa lo nangis?! Anjirr siapa yang giniin lo? Siapa bilang sama gue biar gue pites palanya. Berani-beraninya dia buat ibunda ratu nangis gini."

"Udah deh gak usah drama. Gue tau lo nguping dari tadi."

"Maaf ibunda ratu. Tapi, tuduhan anda kepada hamba memang benar adanya. Hahahaha"

GARIS TAKDIR Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang