[yang kemarin blh sempet baca sini baca lgi]
Selamat tinggal, Ratu. Sampai jumpa di keabadian.
• • •
Suasana duka menyelimuti tempat pemakaman Kasih Rindu. Langit tampak ikut berduka atas kepergian 'Ratu' mereka. Isak tangis menjadi musik paling menyakitkan sore ini. Semuanya terlalu cepat, bahkan mereka belum sempat hanya untuk mengucapkan selamat tinggal.
Semua anggota ladybugs memenuhi pemakaman. Memakai jaket putih dengan lambang sayap dan malaikat. Agata sedari tadi hanya terdiam seperti patung. Menatap kosong gundukan tanah yang masih basah. Seolah tidak percaya kematian telah menimpa sahabat terbaiknya.
"Agata, ayo pulang." Rendra menyentuh pundak Agata pelan.
Agata tidak merespon, tapi air matanya menetes tanpa isakan. "Cepet banget dia pergi."
"Perasaan baru kemarin gue ketemu dia. Baru kemarin dia nolongin gue dari preman di Gang Melati. Baru kemarin kita ketawa bareng. Sekarang mau bicara aja gak bisa." Agata tertawa hambar.
"Bulan, lo yang nyuruh gue buat kuat. Tapi nyatanya lo yang lemah. Bulan lo janji kita mau kuliah bareng. Kita mau sukses bareng. Terus nanti kita adain reuni. Sambil gendong anak satu-satu. Sekarang kalo lo tidur, gimana lo mau nepatin janji lo?" ucap Agata tertahan.
"Ratu, kenapa lo gak bilang kalo perpisahan kemarin itu ternyata berpisah selamanya. Tau gini, kita gak akan ngadain perpisahan itu. Kita gak siap berpisah dunia sama lo, Ratu." Cici menangis, mengusap batu nisan pelan.
"Ratu, gak ada malaikat sekuat lo. Gak ada malaikat sebaik lo. Gak ada malaikat yang lebih baik dari lo. Di hati kita semua lo adalah malaikat kami. Pelindung kami. Gak apa-apa kalo lo gak punya sayap. Karena kita siap jadi sayap buat lo," lirih Cantika pelan sekali, dia tidak bisa menyembunyikan air matanya.
Semua orang terluka atas kepergian dirinya. Sosok yang mampu meninggalkan jejak dalam hati mereka masing-masing.
"Ratu, semoga bahagia. Lo akan memiliki singgasana yang lebih megah lagi disurga daripada dijalanan. Tapi sungguh ratu, kenangan lo, tawa lo, kenangan kita semua. Kenangan yang kita ukir bersama selama 5 tahun terakhir. Akan menjadi kenangan paling terindah yang ada dalam sanubari."
"Kami Ladybugs. Mengucapkan—Selamat Tinggal, ratu. Sampai bertemu di keabadian."
"LADYBUGS!"
Semua orang memukul dada kirinya sebanyak dua kali. Lalu mengangkat tangan ke udara.
"ANGELUS ALAS! " seru mereka bersama.
*sayap malaikat
Ratu mereka telah pergi. Kini tinggal bayangan tanpa bisa tergapai. Saat esok terbit mentari. Duka ini semoga segera terganti. Menjadi sebuah pelangi. Untuk mereka yang tengah bersedih hati. Karena kehilangan sosok malaikat tanpa sayap.
• • •
Disaat semua orang ingin pergi, justru dia baru datang. Berjalan gontai menuju sebuah makam. Tatapan benar-benar kosong dan menyorot dingin. Seolah tanpa kehidupan di dalamnya. Tak sesentipun bibir itu tersenyum.
Satu tetes air menetes untuk kali pertama. Jatuh di atas kepalanya. Lalu disusul jutaan tetes airnya. Akhirnya dia bisa tersenyum, air hujan terus menghujam tubuhnya. Hingga siapapun tidak bisa membedakan apakah itu air mata apa hanya air hujan.
"Apa Bulan sudah berjumpa dengan pelangi? Bagaimana? Indah bukan. Sekarang Bulan tidak perlu cemas lagi dengan garis-garis tanpa titik. Atau pun tentang takdir. Karena Bulan telah menyelesaikan semuanya. Permainan dunia fana yang kadang kala seperti penggiling mesin. Menyenangkan tapi juga mengerikan." Bumi tertawa hambar.
"Bulan, apa boleh Bumi mengharapkan Bulan kembali? Agar harapan itu juga turut membunuhku. Semua ini terlalu berat saat jika Bumi lalui sendiri."
"Bumi, kamu gak sendiri." Tetes air hujan tadi tidak lagi mengenai dirinya.
Bumi mendongkrakkan kepala, melihat Libra datang dengan pakaian serba hitam. Ikut berjongkok disampingnya.
"Pergi," desis Bumi merasa terganggu.
Libra hanya menanggapinya dengan senyum pedih.
"Kak Bulan, aku gak nyangka kakak pergi secepet ini. Harusnya aku bahagia karena saingan aku mati."
"Libra." Desisan tajam itu tidak Libra hiraukan.
"Tapi ternyata engga. Menemukan pelangi di dunia ini gak semua itu. Kak Bulan tau? Aku gak mau jadi tokoh antagonis di cerita kakak. Tapi, semua ini mesti aku lakuin. Agar aku bisa dapatkan pelangi aku."
"Kak Bulan aku minta maaf. Jika cara ku dapatkan pelangi harus merebut pelangi milikmu."
"Ternyata benar, pelangi itu benar-benar indah. Sampai Kak Bulan mati-matian memperjuangkannya. Tidak membiarkan siapapun menyentuh pelangi itu."
"Tapi sekarang, Kak Bulan tidak perlu bersusah payah menjaganya lagi. Karena aku yang akan menjaganya. Dan Kak Bulan akan mendapatkan pelangi yang lebih indah lagi dari itu. Kak Bulan, tenang disana ya? Semoga bahagia."
Libra menyelesaikan ucapannya, Bumi hanya terus terdiam. Pelangi apa yang mereka maksud? Sedangkan dirinya tidak bisa melihat warna lain selain hitam dan putih. Apa pelangi itu benar-benar indah? Jika iya, Bumi juga ingin memilikinya.
'Bulan, mengikhlaskan itu sesulit melupakan. Jadi aku memilih terus mengingatmu. Hingga aku lelah dan terbiasa dengan rasa sakitnya. Aku berharap kita bisa kembali bertemu.'
.
.
.
-SELESAI-
KAMU SEDANG MEMBACA
GARIS TAKDIR
Ficção AdolescentePantesan susah buat dapetin hati bumi. Orang bumi aja gak punya hati! • • • • Bulan cantik? Jelas. Bulan manis? Jangan di tanya lagi permen aja insecure lihat dia. Bulan pinter? Pasti, buku aja minder kalo di baca sama dia. Terus ada gak kekurangan...
