Melupakan mu itu bukan salah satu keinginanku, tapi lebih baik begitu.
• • •
"Bumi ... Bulan capek." Seorang gadis dengan bibir pucat bergumam lirih.
Tangannya terpasang selang yang mengalir cairan putih. Bau khas Rumah Sakit tercium pekat.
"Rasanya Bulan pengen hilang ingatan aja, biar Bulan lupa sama semua ini." Air matanya menetes.
Namun, dengan lembut tangan kecil seorang laki-laki mengusap tetesan airnya. Ia tersenyum tipis, mengusap pelan rambut sahabatnya yang terbaring.
"Jika Bulan hilang ingatan. Bulan mau lupain Bumi?" tanyanya.
Bulan kecil menggeleng, tangannya menggenggam kuat tangan Bumi.
"Bulan gak mau lupain Bumi."
"Kalo kaya gitu jangan mikir macam-macam lagi."
Bulan dengan polos mengangguk. Dia kembali menatap Bumi. Mengutarakan isi hatinya.
"Kenapa semua orang nuduh Bulan yang dorong Eli ke kolam? Padahal Bulan gak lakuin itu, Bulan cuma coba buat nglindungi diri, tapi justru Eli yang jatuh. Bulan gak salah 'kan Bumi?"
Lensa hitam milik Bumi menatap tulus ke arah Bulan. Dia menggeleng pelan.
"Iya, Bulan gak salah. Sekarang Bulan istirahat lagi ya?"
Bulan kecil mengangguk. Mulai memejamkan matanya yang sedari tadi terasa berat.
"Bulan sayang Bumi karena Bumi baik. Ya Allah jangan biarkan Bumi pergi dari sisi Bulan, aamiin." Bulan berdoa dengan mata terpejam.
Bumi kecil tersenyum manis diam-diam ikut mengamini. Ia mendekat diri ke arah Bulan yang sudah tertidur pulas. Menyematkan kecupan kecil di pipi chubby-nya.
"Mimpi indah, Manis," ucapnya sembari menarik selimut untuk menutup tubuh Bulan hingga ke dada.
Bumi tumbuh dewasa dengan cepat. Bahkan ketika anak seusianya belum bisa berfikir sekritis itu, tapi Bumi dia bisa berfikir lebih maju. Awalnya Bumi tidak mengenal Bulan, mereka baru saling mengenal satu tahun lalu. Dan hanya Bumi yang mau bertemannya.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pelan terdengar, Bumi menolehkan menemukan mamanya tersenyum kearahnya.
"Sudah selesai nunggu Bulan, sayang? Kita pulang sekarang ya? Eli dari tadi nyariin kamu. Dia gak mau makan sebelum ada kamu katanya."
Bumi mengangguk. "Iya ma. Kita pulang."
Sebelum itu dia kembali menoleh ke arah Bulan yang tertidur. Di usapnya surai itu lembut. Dia mengucapkan kalimat, "Bumi pulang ya. Nanti Bumi kesini lagi, Bumi bawain motor-motoran baru pasti Bulan seneng. Cepet sembuh, manis."
Bumi menutup pintu sepelan mungkin, mencoba untuk tidak membuat suara. Mentari yang menyadari tingkah putranya yang begitu perhatian lagi-lagi tersenyum. Dia berjongkok mensejajarkan tingginya dengan putranya.
"Siapa yang ngajarin kamu bilang semanis itu sama Bulan, hm?"
Bumi mengernyit dia tidak paham. "Apa maksud mama? Bulan emang manis, kan? Ya udah aku sebut aja dia Si Manis."
Mentari tertawa pelan, mengecup pipi Bumi singkat. Merasa lucu dengan pengakuannya.
Ketika perjalanan pulang dari Rumah Sakit. Bumi kecil mengutarakan apa yang ada di pikirannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
GARIS TAKDIR
Ficção AdolescentePantesan susah buat dapetin hati bumi. Orang bumi aja gak punya hati! • • • • Bulan cantik? Jelas. Bulan manis? Jangan di tanya lagi permen aja insecure lihat dia. Bulan pinter? Pasti, buku aja minder kalo di baca sama dia. Terus ada gak kekurangan...
