Extra Part| Two

2.5K 107 13
                                        

Ini bakal jadi extra part terakhir. Dan aku harap ini bisa menjadi kejutan buat kalian juga.
Aku memang bikin ini jadi sad ending. Karena jalannya yang udah kaya gini.
Tapi, semua bisa nemu kebahagiaannya masing-masing. Dari hal-hal yang tak terduga.
• • •

Ini bukan akhir segalanya. Tapi setidaknya sampai disini. Semua berakhir dengan bahagianya masing-masing.
• • •

Sepasang sepatu melangkah saling mengejar. Mengikuti bayangan yang seolah ikut berlari menghindar. Sebuah buket bunga besar berwarna putih tergenggam di tangan. Membawanya menuju tempat peristirahatan terakhir, tanah.

Sepasang seperti itu kini berhenti saling mengejar. Justru berdiri sejajar, sang pemiliknya terlihat berjongkok. Meletakkan buket bunga di depan batu nisan.

'Bulan Ratu Charista'

Terukir sempurna disana. Napas beratnya terdengar. Lalu bibir itu tertarik sempurna.

"Apa kabar, ratu?"

"Gue tadi nungguin lo dibandara seperti janji kemarin. Tapi nyatanya lo gak ada disana." Laki-laki itu sekali lagi tersenyum.

"Katanya lo mau ketawa bahagia lagi sama gue. Tapi kenapa hanya gue yang ketawa?"

"Gue bakal balik ke lo kalo gue sedang bahagia bukan? Iya saat ini gue sedang bahagia. Karena sebentar lagi gue bakal jadi papa. Ratu, lo juga bahagia ya disana? Kita masih bisa tertawa bareng. Walau di dunia yang berbeda sekali pun."

"Happy Birthday, Ratu."

"Draka, bantuin aku ih!" Draka berdiri, menatap seorang wanita dengan perutnya yang membesar. Dan sebuah buket bunga yang tergenggam ditangannya yang mungil.

"Jail banget sih istri aku. Berani manggil pake nama ya sekarang." Wanita itu cemberut.

"Makannya tungguin. Jangan ditinggalin." Draka tertawa.

"Iya sayang."

Wanita itu dituntun Draka mendekati makam. Ingin berjongkok. Tapi terhalang oleh perutnya yang besar. Sehingga Draka menyuruhnya untuk tetap berdiri.

"Hai kak bulan, sekarang pasti kak bulan lagi bahagia. Karena kak bulan memiliki kembali pelangi itu."

"Dan sekarang aku juga punya pelangi yang baru. Yang lebih indah dari pelangi manapun." Wanita itu menatap wajah Draka dengan senyum manis menghias di wajah cantiknya.

Lalu dengan susah payah, ia berhasil meletakkan sebuket bunga putih. Di sebelah makam yang baru saja ia kunjungi. Tersenyum kecil membaca ukurian nama pada batu nisan itu. Tak bisa di pungkiri hatinya masih merasakan sakitnya kehilangan.

Davino Bumi Pradipta

'Bumi, semoga kamu juga bahagia. Walaupun garis takdir kita berbeda. Tapi garis takdir kita tetap sama. Sama-sama bahagia'

Wanita itu mengusap air matanya. Menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang suami. Menatap kedua makam itu lama. Berlarut dalam sebuah kenangan tak terlupakan. Singkat tapi bermakna.

Draka mengacak suara wanita itu, "jangan nangis lagi."

"Iya engga ih, udah cukup ngacak-ngacaknya."

Draka tertawa tertawa berlari meninggal wanita itu disana sendirian. Seperti yang dia tebak wanita itu akan berteriak kesal padanya.

"Mas! Aku ngambek nih!"

"Paswordnya dulu dongg"

"Mas Drakaa laki-laki tertampann di seluruh duniaaa." Setelah mengatakan itu, wanita tadi memasang ekspresi seperti orang muntah.

"Hahaha, Pasword yang kedua?"

"Libraaa sayanggg—"

"Sayang siapa?"

"Dedek bayi, hahaha."

"Oh ya udah aku beneran tinggalin."

"Ehh iya iyaaa orang aku juga sayang kamu."

"Apa gak denger."

"Libra sayang mas drakaaa. Budek!"

"Astaghfirullah."

Draka mengelus dadanya sabar. Tapi selepas itu ia terkekeh geli. Menghampiri istrinya, lalu menggendong menuju mobil.

Semuanya berakhir dengan indah.
• • •

Aku ucapain thank you buat kalian semua yang udah mau baca sejauh ini.

Dan aku ucapain maaf jika cerita ini kurang memuaskan.

Selamat tinggal kehidupan bulan dan bumi✨

Aku menghidupkan kalian, bukan hanya untuk mati

Tapi untuk memberi sebuah pengajaran, bahwa takdir baik selalu bersama orang yang baik.

Tepat jadi manusia yang baik, walaupun dunia sekalipun bersikap jahat pada kalian✨

Karena hanya dunia yang jahat, tapi Tuhan maha baik :)

Goodbye all.

See you in my next story!

with love, anna❤

GARIS TAKDIR Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang