38| Garis Takdir

1K 88 8
                                        

Seberapa banyak kau mencoba memperbaiki, jika akhirnya kau ulangi kesalahan yang sama lagi. Semua hanya akan berakhir sia-sia, Bumi.
• •

Suara angin malam terdengar lembut. Gemericik air kolam membuat suasana tak begitu hening. Lampu jingga yang mengelilingi setiap sudut ruangan menjadi penerang satu-satunya. Karena sang rembulan sibuk bersembunyi di balik pekatnya malam. Bahkan bintang gemintang ikut bersembunyi bersamanya.

"Ku bisa saja bertahan... Ku bisa saja kembal
Tapi untuk apalagi jika ku tak dihargai~"

Senandung ringan terdengar memecah kesunyian. Dengan kaki yang terus ia ayunkan ke dalam air kolam renang. Bulan bernyanyi pelan, menunggu kedatangan seseorang setelah sekian menit tak kunjung menampakkan batang hidungnya.

"Serius Bumi gak dateng—lagi?" lirihnya kecewa.

Hembusan nafas panjang ia keluarkan. Mencoba bersabar untuk beberapa menit lagi. Dia tidak akan semudah itu menyerah. Walaupun udara malam yang menerpa kulitnya semakin berhembus kencang. Mungkin langit akan meluluhkan bebannya malam ini.

"Masuk Ratu, mau sampai kapan lo di situ? Ini mau ujan." Suara Cinta membuat Bulan menoleh ke arahnya.

"Lo lihat Bumi?" Tanya Bulan pada Cinta.

Cinta yang tak bisa berbohong lagi memilih mengangguk pelan. Sembari ikut duduk ditepi kolam renang dengan Bulan disampingnya.

"Lihat tapi tadi."

"Dia masih ada di sini kan?" Cinta terdiam.

"Emm— Gini deh dengerin gue dulu. Please Ra, jangan menaruh harapan besar pada manusia. Nanti ujungnya lo sakit sendiri." Jelas Cinta pelan.

"Gue cuma mencoba mempertahankan, Cinta. Gue gak berharap apapun." Bohong, sungguh Bulan masih menaruh harapan besar pada kekasihnya.

"Gue ngerti, tapi Bumi udah pergi," cicit Cinta pelan.

Bulan tertegun, "Kapan?"

"Tadi sama Putri. Kata Ega, Bumi mau anterin Putri pulang."

"Libra?" Cinta mengangguk membenarkan.

Bulan lagi-lagi menghela nafas berat. Sesak sedikit menohok dadanya. Lagi-lagi kata Libra yang menghancurkan segalanya.

"Jangan langsung putus asa ataupun membenci. Gue tau lo udah dewasa, Bulan. Lo tau mana yang mesti mikir pake hati dan mana yang mesti mikir pake logika. Goodluck, sayang." Cinta memeluk  Bulan dari samping.

"Thanks, Cinta," Bulan membalas pelukan.

"Sama-sama, bul—eh maksudnya Ratu. Sorry hahahaha," Tawa Cinta sembari berdiri dari posisinya duduk. Meninggalkan Bulan sendiri.
• • •

Langit mendung tak mengurungkan niat Bumi untuk tetap bertemu dengan Bulan. Setelah mengantarkan Libra pulang, ia kembali ke basecamp geng Ladybugs. Memacu kendaraannya lebih cepat. Setetes air yang mulai turun membuat rasa bersalah Bumi semakin besar.

Harusnya sekarang dia sudah bersama 'Ratunya'. Tapi karena keadaan Libra yang tengah sakit ia tak bisa membiarkan Libra pulang sendiri. Dia sadar bahwa sikapnya telah menyakiti Bulan. Jika hubungan ini akan tetap seperti ini semua hanya akan berakhir kecewa.

Tapi, biarkan Bumi bermain dengan rasa egoisnya. Menahan Bulan agar tetap di sisinya.

"Bulan mana?" Semua pasang mata yang ada di ruangan menatap kearahnya.

"Maksudnya Ratu?" tanya cici.

"Iya."

"Dia pulang," ucap Cinta tanpa pikir panjang.

GARIS TAKDIR Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang