Vote lima, komen lima, double up! Ada yang mau?
-----
Ruangan tengah di kediaman keluarga Xavier kini sudah jauh dari kata bersih. Sampah makanan dimana-mana, bantal yang berada di tempat yang tidak seharusnya, toples makanan yang tebuka, dan banyak lagi.
Sang pemilik rumah hanya pasrah saat ruangan tengah nya di hancurkan oleh teman-temannya. Jika Tasya pasrah, maka berbeda dengan Azka yang mencak-mencak tak jelas.
Lelaki yang sudah mirip seperti emak-emak komplek itu tadi marah-marah tidak jelas pada teman-teman Tasya. Dan mirisnya lagi, teman-temannya yang memberantaki dia juga yang kena imbasnya walau ia hanya duduk anteng.
Alih-alih membereskan, mereka semua malah semakin memberantaki, dan hal itu membuat Azka semakin kesal. Lelaki itu kembali memarahi mereka semua setelah berganti pakaian rumah.
Tasya menghela nafas gusar, ketidak hadiran Vano kerumah nya tentu saja membuat tanda tanya besar. Ia melirik ponsel nya, barangkali ada pesan dari Vano.
Ponsel Tasya bergetar singkat, menandakan ada pesan masuk. Wajah nya yang tadi murung berubah menjadi ceria, gadis itu buru-buru membuka pesan yang baru masuk itu.
Air muka Tasya berubah dalam hitungan detik saat membaca isi pesan itu. Alih-alih pesan dari Vano, yang ia dapatkan hanyalah pesan dari operator memberitahu kalau pulsanya sudah habis.
Tasya mendengus, ia melemparkan ponselnya sembarang arah. Ia tengah kesal pada Vano yang hilang tanpa kabar bak di telan bumi.
Ponsel mahal itu mendarat sempurna di pelipis Daniel. Cowok bertubuh kekar itu langsung meringis saat ingin memasukan satu kuaci kedalam mulutnya.
Hal itu membuat semua orang tertawa, kecuali Tasya tentunya. Karena ia sedang mood yang buruk, ia menatap sinis teman-temannya yang tertawa terbahak-bahak. Ia tidak menegur atau marah, hanya menatap sinis saja, tidak lebih.
Daniel menatap satu persatu teman-temannya yang tertawa dengan tatapan kesal. Pelipisnya masih sakit, namun tanpa beban teman-temannya menertawakan dirinya.
"Heh! Bukan nya di elus pala gue, malah ketawa." kesal Daniel. Karena tak ada yang mengelus pelipisnya, jadilah ia mengelus pelipisnya sendiri.
"Itu sih udah di elus sama lo." sahut Kenzi.
"Nggak usah manja, lo bukan Jung Jaehyun." kini giliran Nayya yang berujar.
Daniel kembali melayangkan tatapan kesal pada temannya. Namun kali ini hanya pada dua pasangan ajaib itu. "Nggak cewek nggak cowok, sama aja ngeselin. Cocok dah lo berdua." gerutu Daniel.
Andri melirik pada Tasya yang sedang tiduran di sofa dengan tampang galau. Diam-diam ia mengulum bibirnya membentuk senyuman geli. Ia yakin seratus persen kalau gadis itu tengah memikirkan Vano yang tidak mampir kerumahnya.
Andri duduk di samping Tasya yang sedang galau. "Galau lo gara-gara Vano nggak ngasih kabar?" tanya Andri menggoda Tasya.
Tasya hanya melirik sekilas pada Andri, nampaknya gadis itu sedang tidak minat berbicara dengan Andri. Andri berdecak pelan saat mengetahui kalau Tasya hanya meliriknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alsya | Complete
Teen FictionDingin, datar, kaku, dan tak mengenal cinta. Itu lah seorang ketua geng Alvazma, Putra Alvano Albarak. Berawal dari tabrakan yang tak di sengaja di koridor kelas XI, yang membuat Vano penasaran dengan gadis ceroboh itu. Dengan mata tajam nya, ia dia...
