32 : Cerita Bunda

1.5K 103 1
                                        

"Pegangan Sya." titah Vano.

Tasya mengangguk samar dan mencengkeram kaus milik Vano. Vano berdecak pelan. "Bukan gitu."

Sebelah alis Tasya terangkat. "Kayak gimana?"

"Kayak gini." Vano menuntun tangan Tasya melingkarkan tubuh nya. Tasya terdiam, ia seperti de javu.

"Siap?"

"S─siap."

Setelah nya motor sport Vano mulai melaju meninggalkan rumah Tasya dengan kecepatan rata-rata. Tasya mengernyit bingung kala motor Vano berhenti di sebuah toko bunga.

"Turun dulu Sya." kerutan di kening Tasya semakin jelas, kebingungan nya pun semakin meningkat, namun tak urung ia mengikuti perintah Vano.

"Mampir ke toko bunga dulu? Ngapain?" bukan nya menjawab, Vano malah tersenyum simpul lalu menggenggam tangan mungil Tasya masuk kedalam toko bunga itu.

"Selamat siang mas, mbak. Apa yang bisa saya bantu?" salah satu pegawai menyambut kedatangan mereka dengan seulas senyum.

"Saya mau membeli bunga."

"Bunga yang mana mas?"

Vano mengedarkan pandangan nya, mencari bunga yang paling di sukai oleh orang yang di maksud Vano. Pandangan nya jatuh pada bunga baby breath, seulas senyum tipis terbit di wajah Vano.

"Saya beli bunga baby breath."

Pegawai itu mengangguk, lalu mengambil bunga baby breath itu. Bunga baby breath memiliki arti yaitu cinta sejati, abadi, dan ketulusan. Sama seperti cinta nya pada seseorang yang di maksud oleh Vano.

"Itu untuk siapa?"

Vano menoleh singkat pada Tasya. "Buat orang yang paling spesial di hidup aku."

Tasya terdiam, berbagai pertanyaan-pertanyaan pun mulai bersarang di otak nya. Siapa orang spesial yang di maksud Vano?

"O─oh gitu, aku tunggu di luar ya." pamit Tasya dengan dada yang sesak lalu pergi keluar toko bunga itu. 

"Ini mas bunga nya." pegawai wanita itu menyodorkan sebuket bunga baby breath pada Vano. Vano menerima sodoran itu, tangan nya bergerak memegang bunga mawar merah di dekat nya.

"Mas mau beli yang itu?" tawar pegawai itu.

Vano mengangguk kecil. "Sebuket bunga mawar."

"Di tunggu ya mas."

Sedangkan di luar toko bunga, Tasya sedang duduk di bangku yang ada di depan toko dengan pandangan lurus kearah jalanan yang banyak di lalui oleh transportasi darat.

Pikiran nya terus di hingapi berbagai pertanyaan mengenai Vano dan orang spesial yang di maksud. Hingga suara berat menginstrupsi Tasya agar tersadar dari lamunan nya.

"Hey, ngelamun aja."

Tasya mendongak, menatap Vano dari bawah yang membuat kadar ketampanan nya semakin meningkat. "Enggak kok."

Alsya | CompleteTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang