Kini, Tasya dan Vano sedang berada di taman belakang. Semilir angin menerpa kulit mereka berdua. Keheningan pun menyelimuti mereka berdua. Hanya ada suara angin yang berhembus saja yang menemani mereka berdua. Hukuman Tasya juga sudah selesai.
"Tasya."
"Apa?"
"Mana jaket gue?"
Tasya menoleh kearah Vano. "Jaket? Oh, ada di rumah. Besok ya gue balikin."
Vano mengangguk samar. Setelah nya keheningan pun terjadi di antara mereka berdua.
"Tasya."
"Vano."
Vano menggaruk tengkuk nya yang tak gatal. "Lo duluan."
"Lo duluan aja. Pertanyaan gue nggak penting."
Vano menatap lekat kedua iris mata Tasya. Tasya yang di tatap oleh Vano seketika menjadi salah tingkah.
"Lo ada hubungan apa sama Aldo?"
Tasya terdiam sebentar, hanya semilir angin yang terdengar di indra pendengaran mereka.
"Apa hubungan lo?" desak Vano tak sabaran. Tasya menghembus kan nafas nya panjang.
"Aldo itu kembaran gue."
Deg!
Sekali lagi Vano salah penebakan. Ia kira Tasya itu ialah pacar Aldo, ternyata kembaran nya.
"Emang kenapa lo nanya?"
Vano menggaruk telinga nya, "Nggak papa."
"Jawab yang jujur. Gue tau lo bohong, lo 'kan kalo bohong suka garuk telinga lo."
Vano berdecak sebal. "Ck. Iya, iya gue bohong."
"Jadi, apa alasan lo nanya kayak gitu?"
"Gue cuman mau mastiin Aldo pacar lo atau bukan." cicit Aldo.
Tasya membulat kan mata nya. Sedetik kemudian ia tertawa lepas, Vano menatap aneh gadis di depan nya itu. "Ada yang lucu?"
Tasya mengangguk di sela-sela tawa nya, "Ada, lo." Tasya menunjuk Vano menggunakan jari telunjuk nya.
"Ada yang lebih lucu."
Tawa Tasya terhenti, ia menatap Vano penasaran. "Apa?"
"Lo."
-----
Tasya berjalan gontai menuju kamar nya, ia lelah seharian ini. Sudah di hukum lari sepuluh putaran, lalu ketahuan bolos di belakang sekolah saat bersama Vano dan berakhir di hukum kembali membersihkan toilet.
Flashback On
"Lo."
Tasya mengerjab beberapa kali yang membuat nya lucu dimata Vano. "Hah?"
Vano memaling kan wajah nya dari hadapan Tasya. "Lupain aja."
Tasya mengkerut kan kening nya heran. "Maksud lo apa sih? Gue penasaran nih!" desak Tasya.
"Bukan apa-apa."
Tasya berdecak sebal. "Kasih tau gue ish! Tanggung jawab bikin gue penasaran!"
"Bukan apa-apa Tasya."
"Terus tadi lo bil─"
"HEI KALIAN!"
Tasya dan Vano sontak menoleh belakang yang terdapat Bu Maryam sedang berkacak pinggang menatap kedua nya nyalang.
"Enak ya bolos di taman belakang, berduaan lagi. Awas loh ketiga nya setan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Alsya | Complete
Fiksi RemajaDingin, datar, kaku, dan tak mengenal cinta. Itu lah seorang ketua geng Alvazma, Putra Alvano Albarak. Berawal dari tabrakan yang tak di sengaja di koridor kelas XI, yang membuat Vano penasaran dengan gadis ceroboh itu. Dengan mata tajam nya, ia dia...
